PRESIDEN HAPUSKAN SWKP CENGKEH

PRESIDEN HAPUSKAN SWKP CENGKEH[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto hari Rabu memutuskan penghapusan Simpanan Khusus Wajib Petani (SWKP) cengkeh akibat sering timbulnya masalah dalam pengembalian dana ini kepada para petani.

“Petani juga sering tidak mempunyai bukti penjualan cengkeh kepada KUD untuk menarik kembali SWKP-nya.” kata Menpen Harmoko kepada pers ketika menjelaskan hasil Sidang Kabinet Terbatas Ekku, Wasbang, Prodis di Bina Graha, Rabu.

Harmoko mengatakan Inpres 1/92 menetapkan bahwa harga cengkeh dengan kadar air 10 persen dan kadar kotoran tiga persen adalah Rp.7.900/kg. Harga ini terdiri atas penerimaan bagi petani Rp.4.000, dana SWKP Rp.1.900/kg serta Rp.2.000 bagi dana bersama pada koperasi.

Berdasarkan keputusan Kepala Negara yang berlaku mulai hari ini Rabu (3/4), maka harga jual cengkeh dari petani kepada KUD adalah Rp.8.000. Sekarang petani menerima Rp.5.000/kg, dana bersama tetap Rp.2.000 dan dana konversi Rp.1.000.

Dana konver si ini ditarik dari para petani dalam rangka mengurangi jumlah tanaman itu karena sampai sekarang jumlah pemasokan lebih besar dari pada kebutuhan.

“Para Gubernur yang daerahnya kurang cocok ditanami cengkeh diminta mengganti tanaman itu dengan jenis tanaman yang lebih cocok.” kata Harmoko ketika menjelaskan hasil sidang yang juga dihadiri Wapres Try Sutrisno, Menko Polkam Soesilo Soedarman, Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung.

Inflasi

Pada sidang yang berlangsung sekitar dua jam itu, dibahas pula masalah inflasi pada bulan Maret, bulan terakhir tahun anggaran 1995/96.

Harmoko mengatakan inflasi pada bulan Maret menunjukkan minus 0,61 persen atau terjadinya deflasi. Dengan demikian selama tahun anggaran 95/96, inflasi mencapai 8,86 persen serta tahun takwim 3,26 persen.

Deflasi itu terjadi karena kelompok makanan menunjukkan minus 2,22 persen, aneka barang dan jasa 0,03 persen, serta sandang 0,04 persen. Kelompok makanan menunjukkan deflasi 2,22 persen karena sub kelompok bumbu mencapai minus 9,2 persen, sayur minus 5,3 persen dan daging 3,8 persen.

Menpen mengatakan dalam sidang juga dibahas neraca perdagangan pada bulan Januari 96. Ekspor mencapai 3,58 miliar dolar AS dibanding impor 2,959 miliar dolar AS. Ekspor 3,5 miliar dolar itu terdiri atas migas 933 juta dolar AS dan komoditi non migas 2,647 miliar dolar AS.

Sementara itu, impor 2,959 miliar dolar AS itu terdiri atas migas 194 juta dolar serta non migas 2,765 miliar dolar AS. Ekspor selama April 95 hingga Januari 96 mencapai 38,82 miliar dolar AS dibanding impor 34,646 miliar dolar AS sehingga surplus 4,177 miliar dolar AS.

Menurut Harmoko, angka deflasi itu juga pernah terjadi beberapa kali misalnya Agustus 84 sebesar 0,15 persen, Juni 89 sebesar 0,21 persen dan Maret 90 sebesar 0,39 persen.

Ketika mengomentari terjadinya deflasi itu, Kepala Negara minta para menteri dan pejabat terkait agar berupaya mempertahankan kondisi itu sehingga berbagai kebutuhan pokok masyarakat tetap tersedia.

Sidang kabinet ini juga membahas penyakit sapi (mad cow) di Inggeris yang bisa menyebabkan orang yang memakan daging tersebut menjadi gila.

“Kita tidak mengimpor daging sapi dari Inggris secara langsung karena biasanya daging didatangkan dari Australia, Selandia Baru serta Amerika Serikat.” kata Harmoko yang minta masyarakat untuk merasa tidak usah khawatir.

Inggris sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk menyembeli 11 juta sapinya guna mengatasi krisis ini.

Sumber : ANTARA (03/04/1996)

___________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 293-294.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.