PRESIDEN GEMBIRA KAMPANYE TAK PENGARUHI SITUASI EKONOMI

PRESIDEN GEMBIRA KAMPANYE TAK PENGARUHI SITUASI EKONOMI[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto merasa gembira bahwa kegiatan kampanye yang berlangsung sejak tanggal 27 April hingga sekarang ini tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kegiatan perekonomian nasional.

“Pasar modal pun tak terpengaruh, ekonomi stabil.” kata Menpen Harmoko kepada pers ketika menjelaskan hasil Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekku, Wasbang dan Prodis di Bina Graha, Rabu.

Sidang ini seperti biasa dipimpin Kepala Negara yang didampingi Wakil Presiden, Menko Prodis Hartarto, Menko Ekku dan Wasbang Saleh.

Sidang yang berlangsung sekitar 70 menit itu dihadiri pula Menhankam Edi Sudradjat, Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung, serta Jaksa Agung Singgih.

“Meskipun kita sedang melaksanakan kampanye, situasi ekonomi tidak terpengaruh.” kata Harmoko ketika menjelaskan rasa gembira Kepala Negara dan para jajaran pemerintahan. Kampanye pemilu akan berakhir 23 Mei.

Mengenai situasi perekonomian, Harmoko mengatakan inflasi pada bulan April adalah 0,56 persen. Angka inflasi itu terjadi akibat kenaikan harga pada kelompok makanan 0,01 persen ; perumahan 0,96 persen ; pakaian 0,07 persen serta aneka barang dan jasa 0,97 persen.

Inflasi selama tahun takwim ini (Januari-April) adalah 2,52 persen, lebih rendah dibanding periode yang sama tahun 96 sebesar 4,04 persen. Inflasi bulan April tahun 96 adalah 0,78 persen.

Ketika menanggapi angka inflasi yang cukup moderat atau rendah itu, Kepala Negara kemudian memerintahkan Kepala Bulog Beddu Amang untuk membanjiri pasar dengan berbagai kebutuhan rakyat sehingga inflasi tetap rendah.

“Dengan membanjiri pasar dengan berbagai kebutuhan maka tidak akan ada yang bisa melakukan spekulasi harga.” kata Harmoko yang mengutip penegasan Kepala Negara.

Surplus

Menpen Harmoko mengatakan pula pada bulan Februari, Indonesia kembali menikmati surplus dalam perdagangan Internasional nya.

Neraca perdagangan menunjukkan ekspor bulan Februari adalah 4,057 miliar dolar AS yang terdiri atas migas 1,040 miliar dolar dan komoditi nonmigas 3,017 miliar dolar AS. Sementara itu, impor mencapai 3,093 miliar dolar AS yang terdiri atas migas 290,2 juta dolar AS serta nonmigas 2,803 miliar dolar AS.

“Dengan demikian neraca perdagangan bulan Februari menunjukkan surplus 964,3 juta dolar AS. Jika dilihat selama periode April 96 hingga Februari 97, maka neraca perdagangan menunjukkan surplus 6,802 miliar dolar AS.” katanya.

Surplus itu terjadi karena ekspor mencapai 46,875 miliar dolar AS dibanding dengan impor sebesar 40,072 miliar dolar AS.

Harmoko juga menyebutkan pemerintah kini menguasai devisa sebanyak 20,383 miliar dolar yang bisa dipakai untuk membiayai impor selama 5,3 bulan.

Dalam sidang ini, Kepala Negara menjelaskan kepada para pembantunya bahwa pemerintah bersama perusahaan Texmaco Group sedang membangun pabrik tekstil di Dili, Timtim sebuah pabrik tekstil bernilai Rp.2,5 miliar.

Menurut Harmoko, dengan memproduksi berbagai jenis tekstil, maka pabrik itu bisa memenuhi kebutuhan rakyat Timtim serta membuka lapangan kerja.

Sementara itu, ketika menyinggung areal tanaman pangan yang mencakup padi seluas 7,3 juta Ha, jagung 2,54 juta Ha serta kacang kedelai 569.672 Ha, Kepala Negara minta para pejabat terkait agar peningkatan produksi beras terus ditingkatkan.

Untuk menunjang target itu, para pejabat terkait diperintahkan untuk mengecek penyaluran kredit usaha tani(KUT) dari sektor perbankan.

“Bank-bank jangan lamban kerjanya dalam menyalurkan KUT.” kata Harmoko mengutip instruksi Presiden.

Pada kesempatan ini, Presiden memerintahkan pula seluruh aparat pelabuhan untuk mengambil langkah-langkah konkrit guna menunjang target pemerintah meningkatkan ekspor.

“Para pejabat jangan hanya duduk di belakang meja, tapi aktif memecahkan berbagai masalah.” kata Presiden.

Sumber : ANTARA (07/05/1997)

__________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 350-352.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.