PRESIDEN : GEJOLAK RUPIAH HASIL REKAYASA

PRESIDEN : GEJOLAK RUPIAH HASIL REKAYASA[1]

 

Jakarta, Republika

Presiden Soeharto menegaskan gejolak kurs rupiah terhadap dolar AS yang sangat tajam merupakan hasil rekayasa kelompok-kelompok tertentu yang ingin menghancurkan bangsa dan negara Indonesia. Caranya, menurut Pak Harto, kurs rupiah sengaja dibuat melonjak-lonjak, sehingga fluktuasinya di luar kemampuan orang untuk berpikir.

“Lha, dalam satu hari kok kursnya melonjak sampai Rp.1.000 atau Rp 2.000 itu kan tidak masuk akal.” ujar Pak Harto, usai meresmikan Kawasan Industri Berat Perkasa milik Grup Texmaco di Desa Karangmukti, Kec Pabuaran, Subang, Jabar, kemarin.

Manuver tersebut yang menyebabkan nilai tukar rupiah mencapai di atas Rp.10.000 per dolar AS, menurut Kepala Negara, akan mengakibatkan banyak perusahaan yang hancur, sehingga bakal terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Buntutnya para pekerja pun akan mudah dihasut.

Kepala Negara menambahkan, meskipun sekarang kurs rupiah terhadap dolar AS sudah berada pada kisaran Rp.10.000 hingga Rp.15.000 dolar AS, kelompok­kelompok yang tidak bertanggungjawab tadi akan terus berusaha memukul rupiah hingga kursnya menjadi Rp.20.000 per dolar AS karena itu, Pak Harto mengajak seluruh rakyat bekerja sama dengan pemerintah untuk menanggulanginya bersama.

Selain berusaha mempengaruhi sektor moneter, kelompok yang tidak bertanggungjawab tadi juga melemparkan berbagai isu tentang kesehatan Pak Harto.

“Ada yang bilang macam-macam, bahwa saya meninggal, darah tinggi, sakit lantas saat saya mengantongi tangan dikatakan tangan saya lumpuh. Itu semua diisukan di luar. Tapi, kok ada yang percaya, dan membesar-besarkan lagi, sehingga rakyat menjadi bingung.” papar Kepala Negara sambil tersenyum.

Sebenarnya, seperti jadwal protokol yang tersusun, pada acara itu Pak Harto tidak dijadwalkan berpidato. Namun setelah menandatangani prasasti yang menandai peresmian proyek tersebut, tiba-tiba ia maju ke mimbar dan berbicara panjang lebar tanpa naskah. Presiden menyebut gejolak moneter dan ekonomi yang terjadi sejak Juli tahun lalu, merupakan ujian yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Kita sedang mendapat ujian dari Tuhan. Tapi kita jangan lengah, sekali pun ini di luar kemampuan kita.

Kepala Negara pada acara itu didampingi Menperindag Tunky Ariwibowo, Mensesneg Moerdiono, Mentamben IB Sudjana, Meneg Agraria Soni Harsono, Menhub Haryanto Dhanutirto, dan Gubernur Jabar R Nuriana.

Pak Harto mengakui, saat ini bangsa Indonesia belum mampu mengatasi badai yang terjadi. Secara kebetulan, katanya, memang ketahanan ekonomi nasional, khususnya moneter, belum memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan. Karena itu, sekarang perlu ditingkatkan pemantapan ketahanan ekonomi dan keuangan dengan landasan yang lebih kuat untuk melanjutkan, meningkatkan, dan memperdalam pembangunan.

“Saya yakin, bahwasanya ada jalan yang dapat kita temukan. Kalau itu betul-betul bisa diatasi, berarti landasan kita akan kuat lagi.” kata Pak Harto.

Dalam kondisi seperti ini, tambah Presiden, rakyat Indonesia harus tetap memiliki pegangan dalam melaksanakan pembangunan. Yaitu tridharma yang dicetuskan Pangeran Sambernyawa ketika melawan Belanda. Yaitu agar rakyat turut rumangsa handarbeni, merasa memiliki negara sehingga, dalam keadaan apa pun harus rela membelanya inilah yang disebut rumangsa handarbeni.

“Agar darma pertama dan kedua itu selalu bersemayam di dada, maka setiap warga negara harus mawas diri, atau mulat sarira hangrasa wani.” ujar Kepala Negara.

Setelah berpidato, Pak Harto meninjau berbagai fasilitas Texmaco Group milik keluarga Sinivasan yang diperuntukkan bagi pengembangan industri berat seperti pembuatan bejana I boiler, serta truk berbobot 40-45 ton. Tepuk tangan meriah bergema ketika Pak Harto masuk ke dalam truk tersebut.

“Eksen Pak, eksen Pak,” teriak beberapa orang yang menyaksikan Presiden dengan rasa bangga duduk di dalam truk tersebut.

Kemudian Pak Harto menghidupkan mesin truk itu dan mengacungkan jempol.

Adanya rekayasa dalam gejolak kurs rupiah seperti yang dikatakan Pak Harto tadi, dibenarkan beberapa pengamat. CEO Re FORM Laksamana Sukardi, misalnya, mengatakan kemungkinan itu memang ada. Apalagi, katanya, Presiden pasti punya sejumlah bukti sebelum mengatakan hal tersebut.

Laksamana sendiri, yang mengaku tak punya cukup bukti, sangat yakin bahwa yang membuat lah adalah para spekulan yang memang tak bertanggungjawab.

“Mereka itu mungkin ada di dalam negeri, atau bisa juga di luar negeri.” katanya, kemarin.

Namun, mantan Direktur Pelaksana Bank Lippo itu meragukan, apakah ada motif politik di balik ulah para spekulan tadi. Hanya saja, katanya, pemerintah tetap harus waspada, sebab, kalau memang ada tujuan lain, di samping motif bisnis mumi, maka itu akan sangat berbahaya.

Sumber : REPUBLIKA (12/02/1998)

__________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 703-705.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.