PRESIDEN: DWI FUNGSI ABRI BUKAN CERMIN MILITERISME

PRESIDEN: DWI FUNGSI ABRI BUKAN CERMIN MILITERISME [1]

 

Jakarta, Antara

Dwi fungsi ABRI sama sekalibukan cermin militerisme dan juga bukan militerisme yang terselubung, demikian Presiden Soeharto menegaskan dalam pidatonya selaku Inspektur Upacara pada peringatan HUT ABRI ke 32 di Senayan, Rabu pagi.

“Sebagai kekuatan politik, maka gagasan dan pikiran-pikiran ABRI mengenai masalah kenegaraan tetap disalurkan melalui cara-cara yang demokratis dan konstitusionil,” kata Presiden.

Ia mengingatkan bahwa selama ini dalam sidang2 perwakilan rakyat, baik ditingkat pusat maupun di daerah, ABRI tidak pemah memaksakan kehendaknya. “Sebagai pengawal Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, ABRI tetap menjunjung ciri-ciri demokrasi bangsa kita, ialah mufakat melalui musyawarah”, katanya.

Dijelaskannya, ABRI sudah sewajarnya mempunyai wakil2 dalam lembaga2 perwakilan rakyat itu, karena ABRI adalah kekuatan sosial dan karena ABRI adalah kekuatan perjoangan. “Duduknya wakil-wakil ABRI dalam lembaga-lembaga perwakilan rakyat tadi memang karena pengangkatan, karena ABRI tidak ikut serta dalam Pemilihan Umum,” ia menambahkan.

Menurut Kepala Negara, sejarahlah yang melahirkan peranan kembar ABRI, yang kemudian mendapat tempat dalam kehidupan bangsa dan kenegaraan Indonesia yang kemudian dikenal sebagai ”Dwi-Fungsi”. Karena itu, kata Presiden selanjutnya, dwi-fungsi ABRI sama sekali bukan rekaan dalam tahun2 terakhir ini, lebih2 sama sekali bukan rekaan sekedar untuk mencari-cari landasan bagi peranan ABRI sebagai kekuatan sosial.

“Tanpa dwi-fungsi, maka ABRI akan kehilangan wataknya sebagai kekuatan perjoangan, akan kehilangan wataknya sebagai pejoang. ABRI yang kehilangan wataknya yang demikian akan menjadi ABRI yang lain yang tak mungkin menjadi kekuatan yang dapat diandalkan dalam mengawal Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,yang tidak mungkin dapat menjadi benteng yang tangguh dalam menjaga lurusnya jalan menuju terwujudnya cita-cita kemerdekaan nasional,” kata Presiden.

Kalan Perlu Diganti

Presiden menegaskan dwi fungsi sama sekali tidak berarti bahwa ABRI mencampuri atau mengambil alih segala urusan sipil; lebih-lebih bidang atau urusan yang telah berjalan baik.

“Duduknya seorang karyawan ABRI dalam suatu jabatan sipil harus dapat menjadi teladan, baik dalam bidang mental ideologi, dalam semangat pengabdian, dalam disiplin, maupun dalam kemampuan teknis,” katanya menandaskan.

Karena itu, ia menambahkan, penugasan seorang karyawan ABRI harus dipilih setepat-tepatnya dilihat dari segala pertimbangan dan karena itu pula bidang penugasannya juga harus dipilih yang karena alasan2 yang kuat perlu ditangani oleh seorang karyawan ABRI.

“Sebaliknya, seorang karyawan ABRI yang tidak cakap, yang secara mental ideologi tidak dapat menjadi teladan yang baik, yang tidak dapat menggerakkan lingkungan kerja sekitarnya untuk berprestasi lebih baik, harus segera ditegor dankalau perlu diganti,” kata Presiden tegas.

Tetapi Presiden memperingatkan bahwa ABRI memang bukanlah dewa-dewa atau malaikat-malaikat tanpa kelemahan.

Diakuinya, memang perorangan ABRI dan juga kesatuan-kesatuan pemah terlibat dalam pemberontakan2, disamping adanya sikap hidup dan tingkah laku anggota2 ABRI yang tidak mencenninkan watak pejoang yang melindungi rakyat dan harus menjadi contoh rakyat dan sejumlah kelemahan2 lainnya.

Namun, ia mengingatkan, kelemahan2 tersebut adalah kekurangan2 manusiawi yang dapat juga terjadi pada golongan2 masyarakat lain baik pejabat-pejabat sipil, kaum cendekiawan, pengusaha, pemuda, mahasiswa dan lain2nya. “Tetapi yang lebih penting lagi adalah bahwa penyelewengan-penyelewengan oleh anggota ABRI dan beberapa kesatuan itu telah ditertibkan sendiri oleh ABRI,” katanya.

Pembangunan ABRI

Presiden menyatakan bahwa pembangunan ABRI tidak boleh berdiri sendiri, terlepas dari keseluruhan pembangunan bangsa dan negara.

Ia menyampaikan rasa hormat dan terima kasihnya kepada ABRI berkat kesadarannya selama ini bahwa perbaikan kesejahteraan rakyat harus tetap di tempatkan pada urutan pertama karena kemerosotan ekonomi yang menjadi sumber rendahnya tingkat kehidupan rakyat banyak merupakan mata rantai terlemah dari ketahanan nasional.

Sebagai misal disebutkannya bahwa pembangunan ABRI dalam Repelita I dapat dikatakan sangat berarti. Tetapi ia menegaskan bahwa hal inisama sekali tidak berarti bahwa pembangunan ABRI diabaikan.

Dalam dunia yang masih penuh dengan suasana adu kekuatan dan pengaruh serta dihantui oleh bahaya subversi seperti sekarang ini, menurut Presiden, tidak ada satu jaminan pun bahwa perang terbuka dapat dilenyapkan. “Sama halnya tidak adanya satu jaminan pun bahwa kita bebas dan kemungkinan serangan dari luar betapapun kecilnya kemungkinan itu,”katanya.

”Karena itulah, mengabaikan pembangunan ABRI sama halnya dengan persiapan bunuh diri”, katanya Presiden juga menambahkan :”Namun bagi kita, pembangunan ABRI sama sekali bukan persiapan untuk mengagresi bangsa lain. Tidak seujung rambut pun kita ada niat buruk serupa itu.

Pembangunan ABRI semata2 ditujukan untuk menjunjung tinggi martabat bangsa dan kedaulatan negara, menjaga keutuhan wilayah tanah air dan melindungi keselamatan lahir dan ketentraman batin rakyat Indonesia sendiri.

Ia menegaskan sekali lagi bahwa kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia harus diandalkan pada kekuatan diri sendiri, bukan diandaikan kepada bangsa lain.

“Karena itulah kita tidak pernah dan tidak akan pernah mengikatkan diri dalam suatu persekutuan atau pakta-pakta militer,” kata Presiden. (DTS)

Sumber : ANTARA (05/10/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 509-512.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.