PRESIDEN: “DISIPLIN YANG KITA PERLUKAN BUKAN DISIPLIN MATI”

PRESIDEN: "DISIPLIN YANG KITA PERLUKAN BUKAN DISIPLIN MATI"

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto Jumat pagi menyerukan kepada seluruh kaum muda Indonesia untuk menanamkan disiplin diri dan disiplin dalam lingkungan masing-masing sebagai sumbangan untuk mewujudkan disiplin nasional.

Dalam sambutannya pada peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-60 di Balai Sidang Senayan Jakarta, Kepala Negara menekankan, disiplin yang diperlukan Bangsa Indonesia untuk melaksanakan pembangunan adalah disiplin yang tumbuh dari kesadaran serta tanggung jawab dalam diri sendiri, bukan disiplin mati karena ketakutan atau paksaan dari luar.

"Kalian kaum muda adalah pemilik masa depan yang penuh ujian dan tantangan besar, tetapi juga menjanjikan harapan-harapan. Karena itu siapkan diri baik-baik untuk membangun masa depan tadi," tambahnya di depan kaum muda dari berbagai lapisan yang memenuhi Balai Sidang.

Dalam kaitan itu, Presiden minta agar kaum muda membuat sejarah masa depan untuk meneruskan tradisi dan warisan perjuangan pemuda Indonesia masa lampau yang juga telah membuat sejarah.

Diingatkannya bahwa dalam setiap tonggak sejarah penting Bangsa Indonesia, kaum muda selalu tampil di depan menjadi pelopor bangsa.

Sehubungan dengan itu, ia menunjuk pada peranan pemuda mulai lahirnya Budi Utomo di tahun 1908, Sumpah Pemudadi tahun 1928 sampai lahirnya kemerdekaan Indonesia di tahun 1945.

Menurut Presiden, dalam jaman pembangunan sekarang, Bangsa Indonesia juga mengharapkan lahimya pelopor-pelopor pembangunan yang tangguh, sebab pembangunan bangsa juga merupakan perjuangan, bahkan merupakan perjuangan besar.

Bangsa Indonesia telah menegaskan bahwa pembangunan nasional yang sekarang dilaksanakan merupakan pengamalan Pancasila, demikian Kepala Negara yang menyatakan bahwa hal tersebut berarti Pancasila bukan sekedar cita-cita yang ingin dicapai, melainkan sekaligus menjadi norma-norma yang harus dipegang teguh dalam usaha mencapai cita-cita.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Balai Sidang Senayan itu berlangsung khidmat, dihadiri Ibu Tien Soeharto, Wakil Presiden dan Ny. EN Sudharmono, para pejabat tinggi sipil dan ABRI, sejumlah kepala perwakilan negara sahabat, serta serombongan tamu pemuda dari Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Pada kesempatan itu, Presiden Soeharto juga menegaskan bahwa membangun masyarakat Pancasila bukan pekerjaan yang sekali jadi, akan tetapi merupakan proses

yang berlangsung terus menerus.

"Yang harus kita lakukan adalah agar setiap tahap dalam proses itu, pelaksanaan Pancasila dalam semua segi kehidupan kita makin nyata dan makin terasa," tandasnya.

Kepala Negara menambahkan bahwa proses itujuga memerlukan pelopor­pelopor tangguh karena pembangunan memang memerlukan pelopor yang sanggup bekerja keras, penuh pengabdian, dan berdisiplin tinggi.

Acara di Balai Sidang Senayan itu ditandai pula dengan penyerahan penghargaan kepada enam pemuda pelopor dan lima orang yarig diberi gelar "Orang Muda Berkarya 1988" oleh Presiden Soeharto.

Jakarta, ANTARA

Sumber : ANTARA (28/10/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 204-205.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.