PRESIDEN DI YOGYA: PEMBANGUNAN INDONESIA BUKAN UTK KELOMPOK MANUSIA TERTENTU

PRESIDEN DI YOGYA: PEMBANGUNAN INDONESIA BUKAN UTK KELOMPOK MANUSIA TERTENTU [1]

 

Yogyakarta, Sinar Harapan

Presiden Soeharto menyatakan bahwa pembangunan yang kita kerjakan ialah pembangunan untuk rakyat Indonesia seluruhnya, tidak untuk kelompok2 manusia di kota atau tidak untuk kelompok manusia tertentu.

Presiden mengemukakan hal tsb di depan para pengrajin se-DIY selesai menyaksikan hasil2 kerajinan rakyat se-DIY di pendopo pengrajin perak M.D. Rabu pagi, di Kota Gede, 5 km dari Yogya.

Lebih lanjut Presiden mengatakan bahwa untuk melaksanakan pembangunan harus diketahui kondisi kita. Dan harus merubah kondisi yang ada hingga mendekati yang kita cita-citakan.

Dikatakan bahwa kondisi yang kita miliki ialah sebagian besar rakyat tinggal di desa2. Kita harus bisa menghimpun kondisi kita yang kurang menguntungkan itu. Ditambahkan, sebagian besar petani dan pengrajin kita masih tradisionil, dengan keterbatasan penyediaan sarana dan modal.

Menurut Presiden, jalan yg kita tempuh ialah mengadakan intensifikasi yaitu mentrapkan tehnologi. Dengan melewati intensifikasi dengan prinsip untuk meningkatkan kemampuan keahlian dan modal Presiden yakin bahwa peningkatan taraf hidup rakyat akan bisa tercapai.

Dikatakan oleh Presiden bahwa Unit2 Desa ataupun KUD tidak hanya untuk petani saja, tapi juga menampung segala kegiatan yang dihasilkan oleh para pengrajin, nelayan dan usaha rakyat seluruhnya a.l. ternak. Sehingga segala kegiatan rakyat di unit desa bisa tertolong dengan intensifikasi lewat penggunaan teknologi.

Presiden menyaksikan hasil2 kerajinan DIY a.l. kerajinan gerabah, keris, kuningan, gamelan, lembaga dan topeng, kerajinan kecil yg merupakan usaha baru dari Kab. Gunung Kidul, kerajinan kulit, tanduk, perak dan emas serta pameran minuman dari buah2an dari daerah Gunung Kidul yang dibuat oleh rakyat dengan pembinaan dari STMA dalam program Ipik.

Kepala Dinas Perindustrian DIY S. Kusumonegoro dalam laporannya mengatakan, hasil2 ekspor dari kerajinan DIY naik. Th 1969 angka ekspor US$ 300 ribu dan dalam tahun 1974 naik lebih dari US$ 2 juta termasuk barang2 aneka industri lainnya.

Presiden juga menerima souvenir tanah liat berupa baki buatan pengrajin dari Desa Kasongan, Kabupaten Bantul. Turut menyertai Presiden a.l. Menteri Perindustrian M. Jusuf, Menteri Perdagangan Radius Prawiro, Menpen Mashuri, Menteri Negara/Ketua Bappeans Widjojo, Mendagri Amir Machmud, Menteri Subroto dan Menteri Sudharmono. (DTS)

Sumber: SINAR HARAPAN (6/08/1975)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 719-720.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.