PRESIDEN DI IRIAN JAYA: JANGAN TAKABUR DNG HASIL MINYAK BUMI

PRESIDEN DI IRIAN JAYA:

JANGAN TAKABUR DNG HASIL MINYAK BUMI [1]

 

Sorong, Irja, Sinar Harapan

Presiden Soeharto mengingatkan, Kamis, agar kita jangan takabur, se-olah2 dengan hasil minyak yang selalu meningkat itu, kita dapat menyelesaikan segala masalah pembangunan.

Memberikan pidato sambutan pada peresmian lapangan minyak “Salawati” dekat Sorong Irian Jaya mengatakan bahwa ia tidak jemu2 mengingatkan bahwa pembangunan adalah masalah yang besar. Lebih2 karena bangsa kita tidak sedikit jumlahnya dan tersebar dalam Tanah Air yang begini luas. Sedangkan kemampuan rakyat kita, sebagai akibat penjajahan yang panjang sungguh sangat rendah.

Ia juga mengatakan bahwa selama dua dasawarsa pertama dalam masa kemerdekaan kita terus terlibat dalam pergolakan bersenjata dan politik yang membuat pembangunan menjadi terbengkalai.

Justru karena itulah maka sejak Orde Baru pada tahun 1966 kita menetapkan garis baru, yaitu garis pembangunan nasional dengan titik berat pembangunan ekonomi. Dan kemudian Garis2 Besar Haluan Negara -hasil MPR tahun 1973- membayangkan bahwa landasan -sekali lagi landasan- dari masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila itu baru akan dapat kita capai setelah kita melaksanakan 5 atau 6 kali REPELITA secara terus menerus dan sambung menyambung.

“Karena itu, untuk kesekian kalinya saya ingin mengingatkan kepada kita semua, jangan kita mengkhayal yang bukan2. Lebih2 jangan kita mengharapkan sesuatu yang tidak masuk akal”. Malahan, kita harus memandang juga ke depan.

Betapapun banyaknya minyak yang terkandung dalam bumi, namun kekayaan ini terbatas. Akan tiba saatnya, entah kapan, kekayaan berharga ini akan habis.

Kepala Negara minta agar kita berusaha memanfaatkan seefektif dan seefisieri mungkin/sumber alam minyak bumi itu dan memanfaatkan se-besar2nya untuk kepentingan rakyat.

Mem-banding2kan

Pada bagian lain pidatonya Presiden mengatakan bahwa ia tahu, ada diantara kita yang bertanya-tanya mengapa dengan kenaikan produksi minyak itu masalah sosial­ekonomi yang besar juga belum terpecahkan secara tuntas, seperti misalnya : masalah pengangguran pendidikan, kesejahteraan umum dan lain sebagainya. Orang juga sering membandingkan dengan negara2 Timur Tengah penghasil minyak, yang dengan hasil minyaknya itu mampu menyediakan perumahan, pendidikan dan lain2 dengan cuma2 bagi rakyatnya, sedangkan kita yang juga sebagai negara penghasil minyak, masih terus saja mencari pinjaman dari luar negeri, sedangkan masalah2 sosial belum juga tampak teratasi.

Kemudian, kata Presiden menyusul tuduhan lain yang lebih berat, ialah bahwa masalah tadi belum juga terpecahkan karena merajalelanya korupsi!

“Saya minta kita berhati-hati dalam menilai masalah ini. Kita harus tetap melihat masalah ini dalam kerangka besar masalah yang kita hadapi. Apabila kita akan mengadakan perbandingan dengan negara penghasil minyak di Timur Tengah tadi, kita juga harus menghubungkannya dalam kerangka masalah yang lebih bulat dan seimbang”.

“Dalam membandingkan dengannegara2 Timur Tengah yang sedang menikmati banjirnya petro dolar itu, saya ingin menyadarkan kita semua dengan perbandingan2 Arab Saudi berproduksi 9 juta barel sehari dengan penduduk lebih kurang 9 juta orang. Iran berproduksi lebih kurang 6 juta barel sehari dengan penduduknya sekitar 32 juta orang. Kuwait berproduksi 1,7 juta barel sehari dengan penduduk 1 juta orang. Persatuan Emirat Arab berproduksi 1,8 juta barel sehari dengan penduduk 650.000 orang. Sedangkan kita, berproduksi hanya 1,6 juta barel sehari dengan penduduk 135 juta orang”, demikian Presiden.

Lapangan minyak Salawati yang diusahakan bersama antara Pertamina dan Phillips Petroleum Company itu mampu menghasilkan minyak 50.000 barel sehari. Saat ini produksi minyak Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel sehari.

Jalannya Upacara

Sebelum Kepala Negara menyampaikan amanatnya, Gubernur Irian Jaya Soetran menyampaikan sambutan, demikian juga Direktur Philips Petroleum 66. Direktur Utama Pertamina kemudian menyampaikan laporan diikuti dengan sambutan Menteri Pertambangan RI.

Ny. Tien Soeharto kemudian berkenan menyerahkan secara simbolis sumbangan beasiswa untuk sejumlah putra-putri Irian Jaya lewat Gubernur Irian Jaya.

Dengan helikopter Kepala Negara dan rombongan meninggalkan lapangan minyak “Salawati” ke Sarong kemudian kembali menuju Jakarta dengan singgah sejenak di lapangan udara Ngurah Rai, Denpasar.

Irian Jaya

Rabu siang ketika meresmikan jalan tembus Sentani-Genyem, Kepala Negara mengatakan bahwa Irian Jaya yang merupakan seperlima dari luas seluruh Indonesia sungguh mempunyai kemungkinan2 besar di masa datang.

Namun, ia mengingatkan bahwa Irian Jaya juga mempunyai hambatan2 besar yang harus disingkirkan. Salah satu hambatan besar itu adalah masalah perhubungan yang menyebabkan kota yang satu dengan yang lain terpisah oleh hutan belantara dan hubungan antar kota satu dengan yang lainnya harus melalui laut dan udara.

Satu2nya cara adalah mengembangkan kegiatan produktif Peranan masyarakat dalam hal ini, sangat penting, sebab pembangunan yang dilakukan sekarang ini adalah pembangunan dari masyarakat, oleh masyarakat dengan bimbingan pemerintah, demikian Presiden Soeharto.

Kepala Negara mengharapkan adanyajalan tembus Sentani dan Genyem ini akan membuat ekonomi Irian Jaya akan cepat tumbuh dan kesejahteraan rakyat akan naik.

Rombongan Presiden antara lain terdiri dari Ny. Tien Soeharto Menteri EKUIN/Ketua Bappenas, Menteri Pertambangan, Menteri Naker Transkop, Menteri Perindustrian, Menteri Perhubungan, Menteri Sekretaris Negara dan Dubes Amerika Serikat untuk RI.

Dapat diketahui pada tanggal 2 Juli 1974 Menteri PUTL Prof. Sutami pernah berkunjung ke daerah Kabupaten Jayapura dimana Menteri antara lain sempat jalan kaki sepanjang kl. 9 km meninjau jalan Genyem-Warombai.

Sesudah itu Menteri Sutami langsung instruksikan Dirjen Bina Marga dalam peta situasi sebagai berikut : “Supaya jalan ini di up grade menjadi kelas III karena akan menghubungkan daerah belakang Genyem dengan Jayapura”.

Sebelum adanya jalan yang diresmikan Presiden hari Rabu, jarak itu ditempuh dengan cara “darat- air- darat”, dimana di samping melaluijalan darat yang sudah ada harus pula naik kapal di Danau Sentani. (DTS)

Sumber: SINAR HARAPAN (08/12/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 489-492.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.