PRESIDEN DI DEPAN SIDANG MENTERI EKONOMI ASEAN

PRESIDEN DI DEPAN SIDANG MENTERI EKONOMI ASEAN

Presiden Soeharto mengimbau agar kelima negara ASEAN juga menjadi pelopor dalam usaha memperbaiki kedudukan negara penghasil karet alam dan timah mengingat ASEAN secara bersama-sama telah menjadi pelopor dalam memperjuangkan lahirnya program komoditi terpadu dan dana bersama.

Kepala Negara mengemukakan imbauannya itu dalam pidatonya pada peresmian pembukaan sidang para menteri ekonomi ke-11 ASEAN di Istana Negara, Jakarta, Jumat pagi.

Presiden menyatakan, jika ke dalam ASEAN telah mencapai berbagai kemajuan, perjuangan bersama dan keluar merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya.

Usaha ke luar untuk terus menerus membangun tata ekonomi dunia baru ini menjadi penting artinya karena negara-negara berkembang pada umumnya dan negara ASEAN khususnya masih menghadapi berbagai hambatan akibat tata ekonomi dunia seperti sekarang ini.

Dalam usaha bersama untuk membukajalan bagi terwujudnya tata ekonomi dunia yang lebih adil itu, ASEAN juga mendapat beberapa kemajuan yang berarti.

Lahirnya program komoditi terpadu dan dana bersama yang mernpakan langkah­langkah awal ke arah terbinanya tata ekonomi dunia yang lebih adil merupakan hasil perjuangan dunia ketiga.

"Dalam perjuangan ini ASEAN secara bersama-sama telah menjadi pelopor," kata Presiden.

Pasaran di Negara lndustri

Dalam menghadapi dialog Utara-Selatan, Presiden melontarkan pula seruannya di depan para menteri ekonomi negara2 ASEAN tersebut agar terus diusahakan negara2 sedang membangun, khususnya negara ASEAN, mendapatkan pasaran barang hasil industrinya di negara2 industri.

Presiden mengatakan bahwa tidak kalah pentingnya adalah usaha bersama dalam dialog Utara-Selatan. Dalam dialog ini terkandung usaha penting untuk mempercepat pembangunan industri.

Hasil barang2 industri ini memerlukan pasaran, baik pemasaran di dalam negeri sendiri maupun pemasaran di internasional. ASEAN perlu menaruh perhatian besar dan langkah2 bersama yang terus-menerus dalam masalah ini.

Presiden menyatakan bahwa ASEAN mempunyai kekuatan moril dalam perjuangan membangun tata ekonomi dunia baru itu, karena ASEAN tidak hanya menuntut dalam dialog Utara-Selatan ini, melainkan telah banyak berbuat nyata.

Sebagai contoh Presiden mengemukakan kerjasama ekonomi antar negara sedang membangun dan kerja sama teknik antara negara berkembang. Kedua gagasan yang sekarang banyak didengungkan itu telah dilaksanakan dalam wadah ASEAN.

Semua langkah bersama dalam ASEAN, kata Presiden, mencerminkan dengan jelas tekad untuk memperkuat kepercayaan pada diri sendiri dan kemampuan sendiri, yang mernpakan sendi2 penting bagi terciptanya dunia yang lebih tenteram dan sejahtera.

ASEAN telah banyak bekerja, namun ASEAN masih harus lebih banyak lagi bekerja. Oleh karena itu organisasi ini tidak akan henti2nya berusaha memperkuat Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara ini.

Dalam rangka ini, Presiden menekankan pentingnya arti Gedung Sekretariat ASEAN yang baru saja diresmikan itu dan akan menjadi tempat penyelenggaraan sidang menteri ekonomi yang akan berlangsung selama dua hari itu.

Dengan tampilnya gedung Sekretariat itu, tekad bersatu padu kelima negara anggota ASEAN makin diperkokoh. Presiden mengharapkan dengan adanya gedung baru yang besar itu agar dipikirkan dengan sungguh2 usaha memperkuat Sekretariat ASEAN sehingga dapat menjadi organ yang tangguh yang dapat melayani kebutuhan dan harapan yang semakin meningkat dari suatu perhimpunan yang dinamis.

Presiden berpendapat bahwa dalam tahun2 yang akan datang bahkan dalam jangka waktu yang cukup panjang, perjuangan ekonomi tetap menjadi pusat perhatian negara2 sedang membangun pada umumnya, khususnya negara ASEAN.

Ini mutlak sebab hanya dengan pembangunan ekonomi itulah rakyat di negara2 sedang membangun akan menikmati kebahagiaan dalam kemajuan dan kesejahteraan yang menjadi cita2 kemerdekaan nasional masing2 negara.

Benar, dunia sekarang dihadapkan pada berbagai tantangan dalam bentuk ketegangan politik dan ancaman2 terhadap perdamaian dan benar pula, kata Presiden, semua pihak tidak dapat berpangku tangan saja terhadap segala yang membahayakan keselamatan dunia.

Namun Presiden mengingatkan agarjangan sekali-kali lengah akan kerusakan yang tildak boleh ditunda-tunda lagi dalam penanganan masalah2 ekonomi dan pembangunan.

Dalam KTT ASEAN di Bali tahun 1976 telah digariskan arah baru dalam melanjutkan hidup perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara ini, terutama yang menyangkut kerjasama di bidang ekonomi dan juga disepakati untuk memperluas kerjasama dibidang2 lain-nya.

Dalam periode antara KTT Bali dan KTT Kuala Lumpur tahun 1977 ASEAN telah banyak melangkah maju secara bersama-sama dalam kerja sama di bidang politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan dalam usaha memperkuat organisasi ASEAN.

Kerjasama yang erat dan terpadu diantara negara2 ASEAN di bidang ekonomi dan pembangunan harus terus ditingkatkan, baik ke dalam ASEAN maupun ke dunia luar.

Dalam hubungan ini Presiden mencatat berbagai kemajuan yang berarti yang dicapai ASEAN seperti telah dimilikinya persetujuan perdagangan preferensi di bidang perdagangan antar negara ASEAN yang akan mendorong pula peningkatan Industri dan perluasan perdagangan antar negara ASEAN yang akan mendorong pula peningkatan industri dan perluasan lapangan kerja.

Di bidang industri dicatat pula kemajuan dengan pembangunan proyek2 industri ASEAN seperti proyek pupuk urea ASEAN di Aceh, yang mulai berproduksi tahun 1984 dan di Malaysia yang diharapkan mulai berproduksi tahun 1985.

Tingkatkan Kerja sama Swasta

Dalam rangka pelaksanaan program komplementasi industri ASEAN, Presiden menekankan perlunya ditingkatkan lebih banyak kerja sama sektor swasta karena sektor swasta juga dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Dalam usaha lebih meningkatkan kerja sama dalam bidang industri sidang para menteri ekonomi ASEAN akan menetapkan keputusan mengenai pelaksanaan program di bidang komplementasi industri ASEAN.

Dengan demikian kalangan swasta ASEAN akan dapat memulai kerja sama dalam berbagai lapangan seperti di bidang produk otomotif. Dalam usaha menggalang kerja sama ekonomi yang lebih erat, sistem angkutan dan komunikasi perlu mendapatkan perhatian secara khusus.

Presiden menyebutkan pula proyek pabrik pestisida yang juga memerlukan perhatian akan sangat membantu mempercepat kenaikan produksi pangan di seluruh kawasan ASEAN.

Dengan meningkatnya produksi pangan di negara2 ASEAN, kawasan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pada pemecahan masalah pangan di dunia.

Dalam menanggapi gagasan pembentukan kerja sama regional yang lebih luas yang banyak terdengar akhir2 ini, Presiden menyatakan bahwa perhatian negara2 ASEAN masih harus terpusat pada usaha mengkonsolidasikan diri agar perhimpunan ini semakin kokoh kuat mantap.

Dalam sidang ke-11 para Menteri ekonomi ASEAN akan membahas langkah2 pelaksanaan kerja sama ekonomi yang meliputi kerja sama dibidang perdagangan dan industri. Selain para menteri ekonomi, ikut pula menjadi peserta para pejabat bidang ekonomi kelima negara ASEAN.

Dalam sidang ke-11 ini delegasi Singapura dipimpin Menteri Ekonomi Goh Chok Tong, delegasi Pilipina dipimpin Menteri Ekonomi Gerarto G Sicat, sedang delegasi Malaysia danThailand dipimpin Menteri Ekonomi Datuk Leong Heng Soeng dan Wakil Menteri Ekonomi Prakar Roek Srutando.

Delegasi Indonesia dipimpin Menko Ekuin Widjojo Nitisastro. Pada upacara pembukaan di Istana Negara itu, hadir beberapa menteri kabinet Pembangunan III antara lain Menko Kesra Surano, Jaksa Agung Ismail Saleh SH, Menteri Perindustrian Ir.AR. Suhud, Mensesneg Sudharmono, Menteri Perhubungan Rusmin Nuryadin, Menteri Kesehatan Suwardjono Suryaningrat, Menmud Urusan Pemuda Abdul Gafur, Gubemur Bank Sentral Rachmat Saleh dan Gubernur DKI Jaya Tjokropranolo.

Tampak pula hadir pada upacara pembukaan itu para duta besar negara2 ASEAN lainnya untuk republik Indonesia, duta besar Amerika Serikat, Australia dan Selandia baru (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (29/05/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 392-395.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.