PRESIDEN DI DEPAN RAKER KHUSUS DEPARTEMEN PENERANGAN, JURU PENERANG TIDAK PERLU SEMBUNYIKAN KEKURANGAN

PRESIDEN DI DEPAN RAKER KHUSUS DEPARTEMEN PENERANGAN, JURU PENERANG TIDAK PERLU SEMBUNYIKAN KEKURANGAN

Presiden Soeharto meminta agar para juru penerang tidak menyembunyikan kesulitan atau kekurangan yang dihadapi dalam pembangunan malah sebaliknya rakyat harus diberi tahu mengenai duduk soal kesulitan dan kekurangan yang dihadapi dalam pembangunan malah sebaliknya rakyat harus diberi tahu mengenai duduk soal kesulitan dan kekurangan itu

"Saudara semua harus dapat menjelaskan kepada rakyat ke mana sebenarnya kita ini akan menuju, sampai tahap mana perjalanan kita sebagai bangsa saat ini berada, harapan2 apa yang ingin kita capai di masa mendatang, persoalan2 apa yang sedang dihadapi, langkah2 apa yang sedang kita ambil".

Dalam pidatonya pada penutupan Rapat Kerja Khusus Departemen Penerangan di Istana Negara, Kamis pagi, lebih jauh Kepala Negara mengatakan, dengan demikian rakyat akan tahu duduk soal masalah nasional kita.

"Yang penting adalah bahwa sebagai bangsa kita tidak akan membiarkan kesulitan dan kekurangan tadi berlarut, melainkan kita telah berusaha untuk mengatasinya". Ditegaskan, dengan cara tsb sekaligus membuat diri kita terbuka, dan keterbukaan merupakan salah satu kunci untuk mengembangkan tanggung jawab nasional untuk mengembangkan pembangunan bangsa yang demokratis.

Menurut Presiden, para juru penerang hendaknya tidak mengecewakan masyarakat dalam menjelaskan sesuatu, sebagai juru penerang yang baik pertama2 harus menguasai segala pemikiran dasar bangsa Indonesia, segala rencana nasional, segala langkah pemerintah, bahkan juga masalah kesulitan yang dihadapi bersama sebagai bangsa.

Tugas penerangan, menurut Presiden, sama sekali tidak hanya memberitahu saja. Tugas penerangan adalah harus dapat merangsang rnasyarakat untuk bergairah dalam pembangunan. Bukan dengan perintah2, kata Kepala Negara, melainkan dengan ajakan. Bukan karena paksaan melainkan kesadaran.

Inilah yang menurut Kepala Negara apa yang dinamakan partisipasi aktif dan kreatif dari masyarakat. "Pendeknya melalui penerangan itu masyarakat harus tergetar jiwanya, tergetar kemauannya, untuk berbuat dalam mencapai apa yang diinginkan bersarna dalam pembangunan bangsa ini", kata Kepala Negara.

Bukan Mimpi

Kepala Negara selanjutnya mengatakan, penerangan yang mampu menumbuhkan kegiatan demikian, jelas bukan penerangan yang membuat rakyat takut dan tertekan hatinya, rakyat was-was menghadapi masa depan. Dan juga bukan penerangan yang menyesatkan, yang membawa rakyat berada dalam alam mimpi yang indah-indah, hidup dalam alam khayalan yang bukan-bukan.

Dengan kata lain, demikian Kepala Negara, penerangan pemerintah harus tetap membangkitkan sikap optimisme dengan tetap menyadari optimisme yang realistis.

Sebagai juru penerangan mereka harus yakin bahwa apa yang diterangkannya itu adalah benar. Karena dalam melancarkan penerangan tidak boleh ada keragu2an dalam hati. Dan tidak boleh ada perasaan mendua. Ditekankan, hal lain yang harus diperhatikan adalah bahwa pemerintah ini satu. Departemen Penerangan dengan seluruh jajarannya tidak menjalankan politik penerangan sendiri, melainkan melaksanakan politik penerangan pemerintah.

Departemen Penerangan dengan seluruhjajarannya, menurut Kepala Negara, harus dapat menjadi juru bicara semua departemen, semua instansi, dan juga pemerintah daerah.

Diikatakan selanjutnya, dalam melancarkan penerangan diminta agar semua alat2 dan sarana penerangan pemerintah digunakan setepatnya agar mencapai hasil yang sebesar2nya. Ini tidak berarti, demikian Kepala Negara, kita mengabaikan sarana2 komunikasi sosial lainnya yang berkembang dalam masyarakat. Yang menjadi penekanan adalah seluruh jajaran penerangan pemerintah benar2 menyingkatkan tugasnya.

"Sekali lagi saya tekankan, bahwa kebijaksanaan saya untuk menghapuskan siaran iklan niaga di TVRI tidak lain tujuannya adalah agar alat penerangan yang dimiliki oleh pemerintah yang dibiayai oleh pemerintah ini benar2 dapat mengabdi kepada rakyat melalui siaran2 yang lebih menggairahkan pembangunan masyarakat dalam arti yang luas," kata Kepala Negara.

Dalam pidatonya inidisinggung juga bahwa penerangan yang berhasil merupakan salah satu kunci penting bagi terwujudnya stabilitas nasional. Dikatakan, "dalam beberapa hal pengalaman kita sendiri mengajarkan bahwa beberapa gejolak yang timbul antara lain karena kurang dimengertinya berbagai masalah nasional oleh kalangan2 di dalam masyarakat".

Sementara itu, Menteri Penerangan Ali Murtopo dalam laporannya tanpa teks antara lain mengatakan bahwa Rapat Kerja Khusus Deppen ini diikuti 430 orang yang meliputi pejabat eselon I dan departemen di tingkat Pusat, para Kepala Kanwil, para Kapenkab, Kapen Kodya, Kepala Stasion RRI dan TVRI, Kepala Balai dan kepala Percetakan Negara seluruh Indonesia.

Menteri Penerangan mengemukakan, dalam acara ceramah para juru penerang menyampaikan berbagai arus balik yang masuk dari masyarakat. Dikatakannya, ada arus balik yang enak didengar tapi tidak kurang banyaknya pula yang tidak enak didengar. Semuanya itu menurut Menpen dikemukakan secara terbuka tanpa ditutup­tutupi.

Salah satu arus balik yang sampai adalah bahwa pembangunan ini telah terasa sampai ke desa, katanya.

Di samping itu adajuga arusbalik yang antara lain berbunyi ”apakah pembangunan akan berjalan seperti sekarang ini apabila yang memimpin bukan pak Harto".

Kalimat ini disambut para peserta Rakernas dengan tepuk tangan yang meriah. Tujuan Rapat Kerja ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan mobilitas penerangan serta memberi bekal kepada seluruh jajaran penerangan dalam rangka menyukseskan Pemilu 1982. (DTS)

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber : SINAR HARAPAN (12/03/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 557-559.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.