Presiden di Depan Pengurus IKBLA-ARH “PENYAKIT LAMA” JANGAN KUMAT

Presiden di Depan Pengurus IKBLA-ARH “PENYAKIT LAMA” JANGAN KUMAT[1]

 

Jakarta, Merdeka

Presiden Soeharto mengingatkan, jika pemerintah memberikan keterbukaan, jangan ada yang berpikiran macam-macam untuk menantang dibuat undang-undang baru, atau merubah yang sudah ada misalnya Undang-Undang tentang Parpol dan Golkar.

“Inikan menantang namanya, kembalilah pada semangat perjuangan Orba.” ujar Abdul Gafur menirukan pesan Presiden Soeharto ketika menerima para pengurus Ikatan Keluarga Besar Laskar Arief Rahman Hakim (IKBLA-ARH) di Bina Graha, Rabu (11/9).

“Marilah kita semua kembali pada tekad perjuangan Orde baru melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.” tambahnya.

Dalam perbincangan dengan Presiden Soeharto, sambung Gafur, ditekankan agar “penyakit lama” seperti sistem liberalisme dengan penambahan partai baru jangan sampai kumat lagi. Sebab, sistem Pancasila sudah dengan susah payah dibuat selama hampir 20 tahun lalu diterima sebagai satu-satunya asas.

Menurut Gafur yang kini duduk sebagai Dewan Pembina IKBLA-ARH, dewasa ini terdapat kelengahan-kelengahan pada sementara kalangan keluarga besar Orba sendiri, yakni kurang konsisten dan konsekuen dalam melaksanakan Pancasila dan UUD 45.

Hal itu bisa diamati sejak munculnya PRD, mimbar bebas yang digunakan pihak­pihak tertentu hingga memuncak pada peristiwa 27 Juli.

“Ini tidak perlu terjadi, jika kita bertindak tegas dan cepat.” ujarnya.

Dijelaskan, sikap yang setengah-setengah terhadap gerakan yang berbau PKI juga terjadi pada tahun 1948, sehingga tahun 1965 PKl memberontak lagi.

Sekarang PKI sudah ditumpas habis, tapi jangan sampai peristiwa seperti itu terulang lagi. Karenanya semua pihak harus mengantisipasi secara dini dan jika melihat ada tanda-tanda kekuatan itu akan muncul harus cepat bertindak tegas.

Saat ini, kata Gafur, ada sekelompok kalangan yang dibesarkan Orba seperti kalangan cendekiawan dan kaum muda yang menuntut pelajaran di luar negeri, tapi saat kembali ke tanah air, mereka membawa paham yang dipelajari di sana.

Ikut-ikutan

Sementara itu aktivis 66 lainnya Ekky Syachrudin menambahkan, sebagai ilmu, Marxisme banyak mengajarkan pertentangan dan kontradiksi yang banyak ditemui dalam kehidupan negara-negara sedang membangun, seperti antara tuan tanah dengan petani.

Sehingga, tidak heran banyak anak muda berumur 24 tahun, yang tidak tahu begitu mendalam, kemudian ikut-ikutan mempelajari dan memahami.

Mereka, kata Ekky, hanya melihat bahwa di negara-negara Eropa Timur, Rusia, China, Amerika Latin, komunisme mampu menggerakkan perekonomian. Padahal, hasil yang mereka peroleh dalam mencapai kemakmuran ekonomi tidak pernah tercapai. Sehingga, Eropa Timur sendiri bobol dan mereka meninggalkan Marxisme menuju sistem ekonomi pasar.

Ekky mengakui, hingga sekarang masih cukup banyak masyarakat yang hidupnya miskin.

“Ya, memang, kalau dikaitkan dengan realitas jumlah orang yang tergusur cukup besar. Tapi, harus diingat, kita tidak bisa membangun masyarakat seratus persen menjadi makmur sekaligus.” katanya.

Sekarang ini, pembangunan terus dilakukan secara berkesinambungan, bahkan dengan menerapkan politik ekonomi. Misalnya Kelompok Jimbaran diminta keikhlasannya menyerahkan 2 persen keuntungannya sehingga terkumpul dana Rp.350miliar.

“Jadi ada instrumen finansial yang dilakukan untuk makin memperbaiki kemiskinan. Lalu instrumen keorganisasian dengan kemitraan itu dilakukan juga.” Ujarnya.

Ekky membantah bahwa selama ini seakan-akan terjadi kelengahan di kalangan birokrasi. Menurutnya, mereka tidak lengah, tapi kurang efektif para pengurus Ikatan Keluarga Besar Laskar Arief Rahman Hakim dan Eksponen yang kemarin menghadap Presiden Soeharto, antara lain Djusril Djusan (Ketua Umum), Ekky Syachrudin (Dewan Pembina) dan Soegeng Saijadi (Dewan Penasihat).

Djusril yang mendampingi Abdul Gafur menjelaskan, Rapirn para Eksponen 66 akan diadakan tanggal 8 Oktober 1996, dihadiri 22 DPD I IKBLA-ARH dan 168 DPD II.

“Dalam Rapim ini, kami akan menyamakan persepsi danvisi secara bersama- sama.” Ujarnya.

Sumber : MERDEKA (12/09/1996)

_______________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 137-139.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.