PRESIDEN DAN USKUP BELO SATU HELI MENINJAU PATUNG KRISTUS RAJA

PRESIDEN DAN USKUP BELO SATU HELI MENINJAU PATUNG KRISTUS RAJA[1]

 

Dilli, Suara Karya

Presiden Soeharto bersama-sama Uskup Diosis Dili Mgr Carlos Filipe Ximenes Belo SDB (Serikat Salesean Don Bosko), Selasa siang meninjau patung Kristus Raja di Teluk Fatukama, Dili dari udara dengan menggunakan helikopter Puma TNI-AU.

Penerbangan sekitar 10 menit itu Presiden disertai Mensesneg Moerdiono, Mendagri Yogie SM, Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung dan Gubernur Timtim Abi lio Jose Osorio Soares.

Dalam penerbangan itu Presiden menanyakan kepada Uskup Belo mengenai jumlah gereja dan umat Katolik di Timor Timur (Timtim). Melihat patung Kristus Raja di atas bukit yang gersang dan kering, Pak Harto dengan nada bergurau menyarankan jika bukit itu tidak bisa ditanami sebaiknya dicat saja.

“Beliau (Presiden) menyarankan kalau tidak bisa ditanami pohon, dicat saja.” kata Uskup Belo usai bersama Presiden meninjau patung Kristus Raja.

Menjawab pertanyaan, Uskup Belo mengatakan, selama penerbangan Presiden tidak menyinggung masalah pemberian penghargaan Nobel Perdamaian 1996 yang diperoleh Uskup Belo.

“Tidak apa·-apa..” kata Uskup Belo.

Uskup Belo mengatakan baik, kunjungannya bersama dengan Presiden. Namun ia tidak bersedia berkomentar saat ditanya apakah Presiden menyampaikan pesan atau tanggapan setelah kunjungannya 8 tahun ke Timtim.

“Saya akan bertemu dengan Dubes Vatikan (Mgr Pietro Sambi-Red)”, ujarnya sambil buru-buru meninggalkan ruang VIP Bandara Comoro.

Presiden dan rombongan bertolak dari Bandara Comoro sekitar pukul 11.40 WIB. Peninjauan patung Kristus Raja dilakukan dua kali putaran. Helikopter terbang menyisir pantai Dili di atas awan yang cukup cerah.

Tidak lebih dari 10 menit, helikopter kemudian berputar dan kembali mendarat di Bandara Comoro sekitar pukul 11.50 WIB. Setelah pintu pesawat terbuka, Pak Harto terlihat menuruni tangga diikuti Uskup Belo, Mensesneg Moerdiono, Mendagri Yogie SM dan Pangab Jendera TNI Feisal Tanjung.

Tanpa istirahat Presiden kemudian menyalami satu persatu pejabat yang akan melepas Presiden dan Uskup Belo. Setelah itu Presiden memasuki pesawat lain bersama rombongan untuk kembali ke Jakarta pada pukul 12.00 WIB. Uskup Belo dan Pangab Feisal Tanjung ikut melepas kepergian Presiden hingga pesawat tinggal landas.

Patung Kristus Raja diresmikan Presiden bersama proyek lainnya di Timtim. Atas pembangunan itu Presiden menyatakan sangat menghargai mengingat di Timtim bagian terbesar penduduknya beragama Katolik. Pembangunan patung ini menunjukkan bahwa setelah Timtim menjadi bagian dari Indonesia, nilai-nilai yang bersifat sakral dan religius di Timtim terus tumbuh dan berkembang.

“Saya berharap dengan dibangunnya patung Kristus Raja ini keimanan saudara-saudara yang beragama Katolik akan terus terpelihara, bahkan makin bertambah mendalam dan kukuh.” kata Presiden.

Posisi patung Kristus Raja menghadap kota Dili di atas Tanjung Fatucama, yang terletak di wilayah Kecamatan Dili Timur, Kab Dili. Patung terbesar setelah patung yang sama di Brazilia ini berada di atas bukit dengan ketinggian kurang lebih 90 meter di atas permukaan laut.

Patung Kristus Raja yang menelan dana sekitar Rp.7 miliar dibuat dalam posisi berdiri dengan tangan sedikit terentang ke atas, di atas bola dunia, yang disangga sejumlah tiang. Posisi tangan yang diangkat ini melambangkan bahwa Yesus Kristus seolah-olah memeluk kota Dili dan seluruh isinya yang mewakili rakyat Timtim sekaligus menyerukan pesan perdamaian bagi umat manusia “damai di hati, damai di bumi dan damai di surga.”

Secara keseluruhan terdapat 3 buah pelataran dengan fungsi yang berbeda.

Pelataran pertama, terletak paling bawah sebelum memasuki gerbang menuju tangga naik. Pelataran ini dibuat sebagai tempat persiapan prosesi menuju puncak.

Pelataran kedua, terletak kurang lebih 45 meter di atas pelataran pertama, dibuat untuk misa terbuka dengan kapasitas 5.000 orang. Pada pelataran kedua dibuat altar yang dipayungi oleh bangunan berwujud keong.

Pelataran ketiga terletak kurang lebih 45 meter di atas pelataran kedua. Pada pelataran yang merupakan tempat kedudukan patung Kristus Raja.

Pelataran sebanyak 3 buah 3 trap dasar patung melambangkan Trinitas yang merupakan dasar keirnanan dalam ajaran agama Katolik.

Patung dengan tinggi 17 meter melambangkan angka keramat bagi bangsa Indonesia dan masyarakat Timtim, karena melambangkan tanggal Kemerdekaan 17 Agustus dan tanggal integrasi 17 Juli.

Tinggi patung termasuk kedudukannya 27 meter, melambangkan Timtim adalah provinsi ke-27 di dalam wilayah negara kesatuan RI. Sepuluh pilar penyangga bola dunia melambangkan 10 perintah Allah, yang diturunkan Allah kepada manusia melalui Nabi Musa sebagai tuntunan kehidupan bagi manusia kiranya tetap berlaku dan agar dijalankan.

Sumber : SUARA KARYA (16/10/1996)

__________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 202-203.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.