PRESIDEN DAN ROMBONGAN TIBA DI KARACHI

PRESIDEN DAN ROMBONGAN TIBA DI KARACHI

Diantar oleh Presiden dan Begum Mohammad Zia ul Haq, Presiden Soeharto beserta rombongan, hari Minggu siang, pukul 12.30 waktu setempat (pukul 14.30 WIB) tiba di Karachi untuk menyelesaikan kunjungan kenegaraannya selama 3 hari di Pakistan.

Pelepasan resmi dengan upacara kebesaran dan dentuman meriam 21 kali telah dilakukan di lapangan udara Islamabad pada pagi harinya. Namun secara resmi kunjungan kepala negara baru berakhir hari Senin pagi pada waktu mana Presiden Soeharto danrombongan akan meninggalkan Pakistan untuk mulai kunjungannya ke India.

Sambutan Meriah

Sepertijuga di kota Lahore dan Islamabad, di Karachi pun Presiden disambut dengan hangat danmeriah. Begitu pesawat PIA yang membawa kedua KepalaNegara dan rombongan mendarat di lapangan udara Karachi, tamu negara disambut oleh ribuan rakyat yang melambaikan bendera kecil sambil meneriakkan seruan

”Zindabad, Zindabad" (= hidup, hidup). Presiden Soeharto dengan tersenyum Iebar berdiri

sejenak di atas tangga pesawat sambil melambaikan tangan ke massa rakyat yang menyambut. Sementara Nyonya Tien, Jenderal dan Begum Zia ul Haq menyaksikan sambil tersenyum. Juga di sepanjang jalan raya yang dilewati oleh kepala negara, nampak banyak rakyat biasa yang berdiri di tepi jalan, ingin menyaksikan "saudara­saudara” mereka dari Indonesia. Sementara puluhan spanduk dan bendera menyambut kepala negara dengan kata-kata yang menyatakan persahabatan dan persaudaraan.

Jenderal Zia sendiri benar-benar berusaha memberikan sambutan yang sehangat mungkin. Selama tiga hari berada di tiga kota Pakistan, Jenderal dan Begum Zia ul Haq selalu mendampingi Presiden Soeharto dalam semua acara. Untuk pertama kalinya, seorang tamu negara yang berkunjung di Pakistan diterima secara resmi di Lahore.

"Bagi rakyat Pakistan, Lahore merupakan hati Pakistan dan merupakan tempat yang sangat penting. Dengan memasuki kota Lahore, anda memasuki hati kami. Kami sangat menghargai kunjungan Presiden Soeharto," demikian kata Jenderal Zia ul Haq pada jamuan makan malam hari Jumat malam.

Di lapangan udara Karachi, Kepala Negara disambut oleh Gubernur Propinsi Sind, Letjen. S.M Abbasi dan Begum, untuk kemudian diperkenalkan kepada para pejabat setempat serta anggota korps diplomatik di Karachi. Ikut pula menyambut adalah Konsul RI di Karachi dan Nyonya Sukadari, serta puluhan masyarakat Indonesia setempat.

Letakkan Karangan Bunga

Dari lapangan udara, Kepala negara beserta rombongan langsung menuju ke makam bapak: Pakistan Ali Jinnah di Quaide Azam Mazar. Di sini Presiden Soeharto dengan dibantu oleh dua orang pelaut meletakkan sebuah karangan bunga besar.

Setelah doa dan pengucapan al Fatehah oleh juru kunci Kepala Negara dan Jenderal Zia memberikan penghormatan terakhir kepada arwah. Dengan dibarengi oleh sangkala.

Sebelum meninggalkan Quaide Azam Mazar untuk menuju acara berikutnya. Presiden dan Nyonya Tien Soeharto mengisi buku tamu dengan membubuhkan tanda tangan mereka.

Berkunjung ke KANUPP

Upacara meletakkan karangan bunga di Quaide Azam Mazar disambung dengan kunjungan ke pusat pembangkit tenaga nuklir Karachi (Karachi Nuclear Power Plant – KANUPP).

Di sini Presiden dan Nyonya Tien Soeharto beserta para menteri dan rombongan lain mendengarkan penjelasan mengenai proyek dan antara lain meninjau ke ruang pelayanan, ruang kontrol, ruang turbin dan ruang condensor.

Baik Presiden maupun Nyonya Tien Soeharto nampak menunjukan perhatian yang besar dan banyak mengajukan pertanyaan. Presiden antara lain nampak tertarik melihat suku cadang yang sudah dihasilkan oleh KANUPP, dan bagaimana produksi dalam negeri tersebut berhasil mengurangi jumlah anggaran pengeluaran.

KANUPP yang mempunyai kapasitas 137 megawatt, mulai beroperasi dalam tahun 1972.Mula-mula didirikan dalam tahun 1965 bantuan Kanada dan biaya sekitar US$ 75 juta. Sekarang pusat nuklir yang merupakan salah satu yang terbesar dan pertama didirikan dalam negara berkembang ini, seluruhnya dijalankan oleh tenaga­tenaga ahli, insinyur serta teknisi Pakistan.

Di samping KANUPP Pakistan pada saat ini sedang mempersiapkan sebuah pusat tenaga nuklir lain dengan kapasitas sekitar 600 megawatt. Sebagai negara yang tidak mempunyai banyak sumber energi, Pakistan memang mutlak memiliki pusat nukliruntuk memperoleh tenaga listrik.

Presiden Zia dalam sambutannya mengatakan bahwa Pakistan menyediakan semua teknologi nuklir yang dimilikinya bagi keperluan Indonesia, sebagai tanda persahabatan.

Presiden Soeharto sebaliknya menjelaskan bahwa tahun depan Indonesia akan mulai membangun sebuah pusat nuklir dengan kapasitas kurang lebih 30 megawatt untuk mempersiapkan para ahli Indonesia bagi pembangunan pusat nuklir yang berkapasitas lebih besar.

"Dalam hal ini kami tidak perlu terlihat ke negara barat atau timur. Kami dapat mengandalkan kepada para ahli dari Pakistan,” kata Presiden. Ia selanjutnya mengharapkan bahwa dalam waktu dekat dapat diadakan pertemuan antara para ahli dari kedua negara, untuk membina hubungan dan kerjasama yang lebih erat di bidang nuklir ini.

Presiden Soeharto berpendapat bahwa di dalam pembangunan negara, energi sangat penting. Sekalipun Indonesiamempunyai banyak sumber energi, seperti minyak bumi, gas, air, batubara maupun geotyermal, namun untuk pembangunan jangka panjang, Indonesia telah memutuskan untuk menggunakan juga tenaga nuklir.

Sebagai sesama bangsa Asia, Presiden menyatakan kebanggaannya bahwa para ahli Pakistan berhasil mengatasi kesulitan dan meneruskan proyek ketika terjadi ketidak serasian pendapat dengan pihak Kanada yang sebelumnya telah bersedia menandatangani kontrak.

Pada malam harinya Presiden dan rombongan resmi dijamu makan malam oleh Gubernur Propinsi Sind serta Begum Letjen S.M. Abbasi. (DTS)

Karachi, Kompas

Sumber: KOMPAS (01/12/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 665-667.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.