PRESIDEN CICIPI MASAKAN YANG DIMASAK BRIKET BATU BARA

PRESIDEN CICIPI MASAKAN YANG DIMASAK BRIKET BATU BARA[1]

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto mencicipi kerak telur Betawi dan sate ayam Madura. Kerak telur yang dipesan sendiri oleh Presiden adalah kerak telur spesial seharga Rp.3.000 per porsi dan Rp.2.000 untuk satu piring sate ayam berisi sepuluh tusuk.

Tampaknya Kepala Negara ingin mencicipi masakan yang diolah dengan menggunakan kompor briket batu bara, sebab rasa dan aroma makanan yang dimasak dengan memakai briket batu bara tidak berbau minyak.

Peristiwa itu berlangsung dalam suasana santai di halaman pusat perkulakan Goro, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (22/1) malam. Usai berbuka puasa dan Shalat Magrib di lokasi itu, Presiden meninjau arena pasar malam, pameran pemanfaatan briket batu bara dan berbincang-bincang dengan beberapa pedagang.

Dengan Ahmad (19) misalnya, pedagang kerak telur, yang menekuni usahanya sejak kelas IV SD, Kepala Negara menanyakan sejak kapan menggunakan briket batu bara.

Ahmad pun menjawab,

“Sudah dua minggu dan ternyata memang lebih hemat.”

Lalu Presiden memesan hidangan tersebut. Kemudian Kepala Negara meninjau counter lainnya dan berhenti di counter sate ayam Madura. Presiden berbincang sebentar dengan pedagang yang sedang asyik membakar satenya, lalu memesan dua porsi.

Presiden kemudian bersantap malam bersama Menperindag Tunky Ariwibowo, Menkop/PPK Subiakto Tjakrawerdaya, Menpera Akbar Tanjung, Menneg Kependudukan /Kepala BKKBN Haryono Suyono, Menko Prodis Hartarto, Menkeu Mar’ie Muhammad, Mensesneg Moerdiono dan Mentamben IB Sudjana.

Didistribusikan Goro

Masyarakat kini bisa memperoleh kompor briket batu bara yang mulai didistribusikan oleh Goro. Briket batu bara merupakan alternatif sumber energi yang efisien dan panasnya lebih stabil daripada minyak atau arang.

Menggunakan briket batu bara juga lebih bersih, tidak berbau dan tidak berasap, serta lebih aman karena tidak ada resiko kebakaran seperti akibat kebocoran pada kompor dengan bahan bakar minyak atau gas.

Sejak pemerintah memasyarakatkan penggunaan briket batu bara mulai Januari. Desember 1997 segmen pasar yang terbesar adalah pembakaran gamping (12 persen), kemudian rumah makan (8 persen ), pemanas anak ayam, pengeringan tembakau dan lain-lain.

Lokasi briket batu bara ada di Tanjung Enim I dengan kapasitas terpasang 7.500 ton per tahun, Tanjung Enim II (Nedo) 10.000 ton per tahun, Gresik 120.000 ton per tahun, serta Bandar Lampung dengan kapasitas terpasang 5.000 ton per tahun. (W-4)

Sumber : SUARA PEMBARUAN (23/01/1998)

____________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 694-695.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.