PRESIDEN BUKA SELUBUNG MONUMEN IBU TIEN

PRESIDEN BUKA SELUBUNG MONUMEN IBU TIEN[1]

 

 

Jakarta, Merdeka

Presiden Soeharto Minggu sore (20/4) membuka selubung monumen Almarhumah Ibu Tien Soeharto yang terletak di kompleks padepokan pencak silat TMII. Tidak ada sambutan resmi dari Pak Harto yang saat itu didampingi Wapres Try Sutrisno.

Sebelumnya, di Sasono Langen Budoyo, Imam Besar Masjid Istiqlal M Natsir, mengajak seluruh hadirin berdoa bagi Almarhumah Ibu Negara.

Dalam kunjungan singkat di padepokan pencak silat, Presiden menerima sabuk kehormatan selaku pembina utama pencak silat yang diserahkan oleh Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Eddie M Nalapraya.

Peresmian padepokan pencak silat sebagai upaya menjaga seni budaya bangsa dilakukan bersama dengan bangunan Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal. Peresmian ketiga bangunan itu dilakukan Presiden didampingi Wapres Try Sutrisno, Mensesneg Moerdiono serta Menag Tarmidzi Taher, dengan menandatangani prasasti.

Dalam laporannya Menag Tarmizi Taher mengemukakan, gagasan pembangunan Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal tercetus saat dia bersama Menpen Harmoko menerima Al-Qur’an besar tulisan tangan yang diserahkan masyarakat Bondowoso tahun 1995.

Waktu itu, yang menjadi masalah, bagaimana menyimpan mushaf besar tersebut. Kemudian tercetus gagasan menyediakan tempat tersendiri, sekaligus menghimpun mushaf-mushaf Al-Qur’an dari seluruh tanah air yang umurnya sudah ratusan tahun.

“Ternyata dukungan besar diberikan Ibu Negara, Almarhumah Nyonya Siti Hartinah Soeharto, yang menghibahkan tanah seluas satu hektar di kompleks TMII” ungkap Tarmizi.

Usai menandatangani prasasti, Presiden langsung melihat Bayt Al-Qur’an yang terletak dekat pintu masuk TMII. Seperti diketahui, dalam konteks Islam di Indonesia, arsitektur selalu dikaitkan dengan unsur-unsur budaya setempat, sehingga menemukan bentuk yang khas. Muatan tradisional sangat kental dirasakan pada bangunan Bayt Al-­Qur’an dan Museum Istiqlal.

Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal berdiri sebagai dua bangunan mengapit sebuah masjid dengan luas kurang lebih 17.000 m2. Kedua bangunan ini tampak memanjang dan bila diamati dari atas dengan menggunakan sky lift, terlihat seperti huruf q yang secara simbolis mengingatkan akan kata, Qur’an.

Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal masing-masing merupakan bangunan empat lantai dengan penambahan satu lantai semi basement yang difungsikan sebagai ruang servis seperti, laboratorium, workshop dan karantina untuk pembetulan naskah dan perawatan buku-buku.

Di lantai satu terdapat masjid, ruang utama sebagai ruang penerima, toko cendera mata, dapur, dan kafetaria serta ruang pameran. Lantai dua, merupakan museum dilengkapi audio visual. Sementara di lantai tiga, terdapat perpustakaan yang terbagi atas ruang-ruang. Di lantai empat, terdapat ruang kelas, pengajaran dan tahfizh Al-Qur’an serta ruang konferensi dengan kapasitas 200 sampai 400 orang lengkap dengan fasilitasnya.

Dalam rangkaian acara HUT ke-22 TMII dilakukan pula peluncuran buku “Indonesia Indah” seri 8 dan 9 mengenai batik dan aksara ditandai penyerahan secara simbolis oleh Menpen Harmoko kepada Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Try Sutrisno.

Sumber : MERDEKA (21/04/1997)

__________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 760-761.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.