Presiden Buka Rakernas Deppen JAGA SUPAYA PEMILU BERJALAN SESUAI ATURAN

Presiden Buka Rakernas Deppen

JAGA SUPAYA PEMILU BERJALAN SESUAI ATURAN[1]

 

Jakarta, SuaraKarya

Presiden Soeharto mengajak semua pihak, baik aparatur yang bertugas dan peserta pemilihan umum (Pemilu) 1997 maupun rakyat, untuk bersama-sama menjaga supaya Pemilu berjalan menurut aturan permainan yang ada.

“Yang paling penting adalah agar suasana tenteram dapat kita pelihara dan persatuan bangsa dapat terus kita perkuat.” kata Kepala Negara saat membuka Rakernas Departemen Penerangan di Istana Negara, Kamis.

Rakemas Deppen bertema “Peningkatan Operasional Penerangan Menyukseskan Pemilu 1997”. Acara yang akan berakhir 29 Juni besok diikuti 467 orang. Mereka terdiri dari pimpinan unit keija Deppen seluruh Indonesia.

“Waktu persiapan Pemilu 1997 tinggal setahun lagi. Karena itu, semua pihak harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar pelaksanaannya berjalan lancar dan sukses.” kata Presiden.

Meskipun Pemilu berhasil diselenggarakan secara berkala, sekali dalam lima tahun, kata Presiden, Pemilu bukanlah sekadar kegiatan berkala dalam kehidupan demokrasi. Pemilu 1997 akan memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di MPR. Melalui wakil-wakilnya itulah setiap lima tahun sekali, rakyat sebagai pemegang kedaulatan negara akan memperbarui wawasan, kebijakan dan strategi untuk tahap lima tahun yang akan datang dalam kerangka PJP II, yang dasar-dasarnya telah diletakkan pada tahun 1993.

“Wakil-wakil rakyat dalam MPR nanti harus benar-benar dapat mencerminkan aspirasi rakyat pemilihnya.” kata Presiden seraya mengingatkan besarnya tantangan dan peluang bangsa Indonesia memasuki abad 21.

Kepala Negara mengajak semua warga negara yang mempunyai hak untuk memilih hendaknya memanfaatkan haknya dengan sebaik-baiknya.

“Sesungguhnya Pemilu merupakan wujud yang paling nyata dari demokrasi.” katanya.

Dikatakan, pemilu merupakan bagian penting dari pembangunan bidang politik. Keberhasilan pembangunan tidak saja ditentukan oleh keberhasilan dalam membangun bidang ekonomi, tetapi juga oleh keberhasilan di bidang lainnya, termasuk pembangunan bidang politik.

Kebijakan Penerangan

Presiden minta jajaran penerangan menggunakan bahan-bahan dan cara-cara penerangan pemilihan umum 1997 (Pemilu) yang baik dan tepat sehingga tercipta iklim yang nyaman bagi terselenggaranya Pemilu. Rakyat pun akan menggunakan hak pilihnya secara aktif dan bergairah serta dirasakan sebagai suatu kehormatan yang diemban oleh warga negara yang bertanggungjawab.

“Berilah penerangan yang baik dan benar, yang jujur dan terbuka kepada masyarakat.” kata Kepala Negara.

Kebijakan penerangan Pemilu 1997, hendaknya diarahkan guna mempertebal kesadaran masyarakat akan kehidupan demokrasi yang sehat dan bertanggungjawab berdasarkan Pancasila, meningkatkan kesadaran rakyat akan hak-haknya dan mendorong mereka bertanggungjawab atas kelancaran dan ketertiban pelaksanaan Pemilu.

Bersamaan itu, rakyat dibangkitkan kesadarannya untuk ikut memelihara stabilitas yang mantap, baik pada masa kampanye, pemungutan suara, perhitungan suara maupun menjelang dan sesudah SU MPR. Juru penerang harus memberikan penerangan secara jelas, tepat dan mengenai sasarannya. Materi penerangan harus berimbang, lengkap dan menyeluruh.

Kebijaksanaan umum penerangan Pernilu 1997 dilaporkan Menpen Harmoko di antaranya bertujuan mengembangkan kesadaran masyarakat akan kehidupan demokrasi yang sehat dan bertanggungjawab, berdasarkan Pancasila. Meningkatkan kesadaran rakyat akan hak-haknya sehingga sadar dan bertanggung jawab menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 1997. Rakyat didorong bertanggungjawab atas kelancaran dan ketertiban pelaksanaan Pemilu dengan mencegah kemungkinan timbulnya ekses negatif dan gejolak yang dapat menghambat atau menggagalkan Pemilu.

Operasionalnya melalui tatap muka, pertunjukan rakyat, pameran, radio, televisi, film, media cetak dan media elektronika serta jalur adat dan budaya.

Sumber : SUARA KARYA (28/06/1996)

____________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 132-133.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.