PRESIDEN BUKA KONFERENSI MENTERI WAKAF DAN URUSAN ISLAM OKI

PRESIDEN BUKA KONFERENSI MENTERI WAKAF DAN URUSAN ISLAM OKI[1]

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto, menurut rencana, akan membuka Konferensi Menteri Wakaf dan Urusan Islam OKI (Organisasi Konferensi Islam) ke-VI di Jakarta yang berlangsung 29 Oktober hingga 1 November 1997.

Menag Tarmizi Taher, Senin, di Jakarta menjelaskan, dari 56 negara anggota yang diundang, sampai kemarin baru 34 negara menyatakan hadir dalam sidang yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali itu.

Menurut Menag, dalam sidang ini akan dibahas berbagai makalah menyangkut kesejahteraan umat Islam. Dari Indonesia, delegasi dipimpin langsung Tarmizi akan menampilkan pakar-pakar Islam seperti Prof Malik Fadjar MSc, Dr Nurcholish Madjid, ProfMuarif Arnbary, dan Dr Shofwan Idris.

Menag menekankan pentingnya forum pertemuan ini untuk meningkatakn kualitas umat.

“Sudah saatnya orientasi OKI tidak lagi menekankan pada bidang politik saja. Karena sejarah membuktikan penekanan itu tidak membawa pemecahan persoalan yang dihadapi umat.” katanya.

Pembangunan yang menekankan pada bidang politik, pada kenyataannya telah memecah-belah umat. Oleh karena itu, negara-negara Islam, lanjut Tarmizi, perlu saling bekerjasama dalam pembangunan kesejahteraan yang mengandung nilai-nilai keagamaan.

“Pembangunan dalam kerangka nilai-nilai agama dapat mendorong terciptanya perdamaian dunia.” tandasnya.

Konferensi ini, tegas Tarmizi, sudah saatnya tidak lagi berbicara dari kertas kerja ke kertas kerja lainnya. Tetapi, lebih menitik beratkan pada upaya konkrit mengatasi berbagai persoalan umat Islam.

“Kita mengharapkan dari konferensi ini muncul hasil nyata untuk menghilangkan citra NATO atau No Action Talk Only.” katanya.

Upaya konkrit, kata Tarmizi, dapat terwujud dengan dasar negara-negara anggota OKI yang tidak lagi didominasi oleh negara-negara Arab atau Timur Tengah .

Dalam pemikiran Tarmizi, hanya 10 persen umat Islam yang hidup di negara­ negara Arab. Selebihnya ada di negara-negara luar Arab.

Indonesia, menurut Tarmizi, mendapat manfaat dari pertemuan ini, antara lain menimba pengalaman negara-negara lain yang menyampaikan kertas kerjanya di forum. Sebaliknya, Indonesia juga dapat memperkenalkan pengalamannya dalam forum ini, khususnya potret kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

“Yang pasti akan ada tindak lanjut yang merupakan aktualisasi dari komitmen bersama dan langkah konkrit untuk meningkatkan bidang kajian konferensi. Indonesia akan memperjuangkan agar model kerukunan antar umat beragama dapat menjadi dasar terwujudnya perdamaian dan pembangunan di negara-negara OK.” katanya.

Seluruh hasil konferensi, kata Tarmizi, akan dirangkum dalam “executive council” yang terdiri dari 10 negara, termasuk Indonesia.

Hasil dari bahasan itu akan disampaikan kepada forum dan pada akhir konferensi menjadi deklarasi atau pesan Jakarta.

(F.PU02/SU05/DN06/27/10/97/18:54/KH1)

Sumber: ANTARA (27/10/1997)

___________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 539-540.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.