PRESIDEN : BPPC BELUM AKAN DIBUBARKAN

PRESIDEN : BPPC BELUM AKAN DIBUBARKAN[1]

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto menegaskan, Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) belum akan dibubarkan pada saat ini, karena para petani masih memerlukan tata niaga tersebut.

“Kalau BPPC sekarang dibubarkan, maka cengkeh tidak akan ada harganya lagi.” kata Menteri Koperasi dan  Pembinaan  Pengusaha  Kecil  Subiakto Tjakrawerdaya kepada pers di Istana Merdeka, Rabu.

Kepala Negara dan Subiakto membahas demontrasi anti BPPC yang berlangsung di Jakarta, Selasa.

Subiakto menyebutkan, sekarang petani menerima Rp 5.000 dari setiap penjualan satu kg cengkehnya dari KUD.

Kalau BPPC sekarang dibubarkan, maka harga komoditi pertanian itu akan anjlok sekali.

Subiakto menyebutkan, sekalipun Pemerintah belum akan membubarkan BPPC, tataniaga dan badan ini pada suatu saat memang akan dihapuskan, kalau Inkud dan semua KUD sudah siap menangani masalah cengkeh ini.

Menteri menyebutkan, stok cengkeh sampai sekarang adalah 280.000 ton termasuk produksi tahun 1995 sebanyak 1OO.OOO ton.

Stok 280.000 ton itu cukup untuk memenuhi kebutuhan pabrik rokok sekitar tiga tahun, karena kebutuhan mereka mencapai 80.000 ton/tahun.

Karena itu yang menjadi persoalan saat ini adalah bagaimana menyeimbangkan pemasokan dengan kebutuhan di antara petani dengan pabrik rokok.

Subiakto menyebutkan, penerimaan petani sebesar Rp 5.000 per kg itu masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan cengkeh Zanzibar yang sekarang harganya hanya Rp 2.500/kg.

Sumber : ANTARA (24/04/1996)

______________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 306-307.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.