PRESIDEN BERTEMU PARA REKTOR KEGIATAN MAHASISWA MASIH DALAM BATAS KEWAJARAN

PRESIDEN BERTEMU PARA REKTOR KEGIATAN MAHASISWA MASIH DALAM BATAS KEWAJARAN [1]

Tapi Para Rektor Diminta Beri Penjelasan Lebih Terang

 

Jakarta, Kompas

Kegiatan mahasiswa akhir-akhir ini, oleh Presiden Soeharto dinilai masih dalam batas-batas kewajaran. Tapi Presiden mengingatkan agar para mahasiswa jangan sampai terbawa-bawa, ditunggangi oleh pihak-pihak ketiga atau sekelompok kecil orang yang tidak bertanggung-jawab.

Penilaian tersebut dikemukakan Presiden Kamis kemarin di Bina Graha, dalam pertemuan khusus selama dua setengah jam dengan para rektor enambelas perguruan tinggi se Jawa Univ. Airlangga, ITB, IPB, Univ. Bra widjaja, Univ. Diponegoro, Unirversitas Gadjah Mada, Unversitas Indonesia, Univ. Padjadjaran, Univ. Negeri Surakarta Sebelas Maret, ITS, IKIP Bandung, IKIP Jakarta, IKIP Malang, IKIP Surabaya, IKIP Semarang dan IKIP Yogyakarta.

Menteri P dan K Sjarif Thayeb selesai pertemuan menjelaskan, Presiden Soeharto selain menguraikan panjang-lebar berbagai persoalan politik menjelang Sidang Umum MPR bulan Maret 1978, juga minta para rector untuk dapat memberi penjelasan secara lebih terang kepada para mahasiswa masing-masing.

“Supaya tidak sampai timbul kesalah-pahaman diantara mahasiswa,” kata Sjarif Thayeb.

Ia menambahkan, secara khusus Presiden juga menerangkan adanya berbagai isyu negatif yang beredar dan ditujukan kepadanya, seperti persoalan pembangunan makam di Sala, pembelian rumah oleh putranya dan sebagainya. Kepada para rektor, Kepala Negara mengatakan isyu-isyu itu tidak benar dan ia menerangkan duduk persoalannya. Oleh Presiden, para rektor itu diberi bahan-bahan tertulis atau “booklets” yang menjelaskan obyek-obyek yang diisyukan, seperti mengenai Yayasan “Mangadeg”, Yayasan “Supersemar”, peternakan  Tri-S dan lain-lainnya.

Suasana pertemuan ramah tamah, Presiden tidak marah, tidak mengomeli atau menyindir para rektor. Tapi selalu senyum terus dan tanya-jawab dengan baik,” kata Sjarif Thayeb.

Menteri menambahkan, isyu itu semuanya dipakai secara politis, dan kini para rektor diminta menjelaskan kepada para mahasiswa.

“Wajar, apa yang bengkok harus diluruskan lagi.”

Penilaian : Penuh Pengertian

Terhadap gerakan para mahasiswa itu sendiri, Sjarif Thayeb mengatakan, Presiden melihat semuanya masih dalam batas-batas wajar. Bahkan Presiden menegaskan bahwa kebebasan mimbar dalam kampus tetap dijamin, asal tetap dalam batas-batas kewajaran dan bertanggungjawab. Para mahasiswa tetap dibolehkan membicarakan soal-soal politik secara akademis dan ilmiah.

Bahkan, kata Menteri, Presiden menunjukkan perasaan yang menyayangkan, jika sampai para mahasiswa itu terbawa oleh kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat yang tidak bertanggungjawab.

Dikatakan, karena itulah Presidenjuga minta para rector untuk mengadakan kerja sama yang baik dengan Pemda setempat, terutama pihak Laksusda. Hal ini perlu untuk menghindarkan timbulnya salah-paham yang hanya akan menyebabkan hal-hal yang sama tidak diinginkan.  Pokoknya selama tidak  sampai terjadi  kekerasan,

“Presiden dapat menerima dan memahaminya keadaannya,” kata Menteri.

Ditanya mengenai adanya poster-poster oleh sementara mahasiswa yang isinya menyerang atau menyinggung pribadi pimpinan nasional, Menteri terus terang menyesalkannya. Ia mengatakan, di Yogyakarta, Semarang dan Malang ia telah mengingatkan para mahasiswa agar tidak bertindak yang menyinggung pribadi.

“Serangan-serangan yang personil itu sifatnya tidak baik, justru hanya akan merendahkan derajat dan kedudukan para mahasiswa sendiri”.

Menjawab pertanyaan apakah soal poster yang menyerang pribadi dibicarakan dalam pertemuan, Menteri menegaskan:

“Tidak! Bagi Pak Harto saya rasa terlalu rendah untuk khusus menyatakan soal itu.”

Posisi Para Rektor

Ditanya apakah ada penilaian bahwa para rektor “memberi hati terlalu banyak” kepada para mahasiswa, Menteri Sjarif Thayeb mengatakan:

Presiden tahu benar dan menghargai kedudukan para rektor, termasuk menghargai nasehat-nasehat yang telah diberikan oleh para rektor kepada mahasiswa.

Ia menolak pendapat bahwa posisi para rektor “sulit atau terjepit”. Ia menegaskan, posisi mereka jelas dan mereka diangkat jadi rektor tentunya dengan menilai kebijaksanaan mereka juga.

“Terhadap para mahasiswa, rektor tentu memberikan apa yang wajar, dan akan membilang terus-terang terhadap hal-hal yang tidak wajar.”

Menteri juga membantah bahwa dalam pertemuan itu para rektor diminta lebih membatasi kegiatan mahasiswa, terutama menghadapi masa siding umum MPR nanti. Ia menegaskan pembatasan seperti itu tidak dibicarakan, sebab sudah jelas dalam peraturan bahwa yang wajar tetap diperbolehkan. Lagi pula para mahasiswa dianggap cukup dewasa dan dapat berpikir matang. Misalnya mengenai siapa-siapa orang luar kampus yang akan diundang bicara dan sebagainya.

“Yang penting, kita semua hendaknya ikut berusaha agar sidang umum MPR nanti berjalan sukses, jangan sampai tetjadi hal-hal yang sifatnya inkonstitusionil.” Demikian Sjarif Thayeb.

Pertemuan itu dihadiri pula oleh Mensegneg Sudharmono, para Dirjen, Sekjen, Ditjen Departemen P dan K, serta para perguruan tinggi. Ditjen Pendidikan Tinggi Prof. Dody Tisna Amidjaja ikut mendampingi Menteri ketika memberi keterangan pers.

Ditanya apakah dalam pertemuan itu Presiden menyatakan akan bertemu langsung dengan para mahasiswa,

Menteri mengatakan: “Soal itu tidak disinggung.” (DTS)

Sumber: KOMPAS (25/11/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 419-421.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.