PRESIDEN : BERJUANG UNTUK PASARKAN BARANG NONMIGAS

PRESIDEN :

BERJUANG UNTUK PASARKAN BARANG NONMIGAS

 

 

Tiga Dubes Dilantik

Dubes Jertim dan Muangthai Serahkan Surat Kepercayaan

 

Bekas KSAU Marsekal (Purn) Sukardi hari Kamis kemarin dilantik dan diambil sumpah sebagai dubes Jerman Barat, sementara bekas KSAL Laksamana (Purn) M. Romly sebagai dubes Kerajaan Belanda dan diplomat karier dari Deplu. Sularto Sutowardoyo sebagai dubes RI untuk Republik Zimbabwe.

Pelantikan dan pengambilan sumpah dilakukan oleh Presiden Soeharto di Istana Negara dihadiri Ny. Tien Soeharto, Wapres dan Ny. Karlinah Umar Wirahadikusumah, serta pimpinan lembaga tertinggi/tinggi negara dan sejumlah menteri dan pejabat.

Sebelumnya, di Istana Merdeka, Kepala Negara berturut-turut menerima surat kepercayaan dubes baru Republik Demokrasi Jerman (Jerman Timur), Siegfried Kuhnel, menggantikan Werner Peters yang telah selesai masa jabatannya dan dubes baru Muangthai, Kamtorn Udomritthiruj, menggantikan Dr. Rongpet Sucharitkul.

Melantik tiga dubes baru RI, Presiden Soeharto kembali mengingatkan bahwa peranan duta besar dalam melaksanakan politik luar negeri sangatlah penting. Pelaksanaan politik luar negeri tidak lain adalah pelaksanaan ke luar dari usaha menciptakan tujuan nasional.

Dalam rangka ini, kata Presiden, memang benar bahwa kuat atau lemahnya garis politik luar negeri akan ditentukan oleh bobot keadaan di dalam negeri. Namun juga benar, bahwa kelincahan dan ketajaman diplomasi para duta besar dan diplomat ikut menentukan berhasilnya pelaksanaan politik luar negeri itu.

“Karena itu jabatan duta besar bukanlah jabatan ringan dan sama sekali bukan jabatan yang bisa dilaksanakan secara rutin belaka,” tegas Presiden.

Tiga Bidang

Menghadapi tahun-tahun yang sulit sekarang, kepada para dubes beserta seluruh tenaga kedutaan besar RI di luar negeri, Kepala Negara minta agar berjuang sekuat tenaga memasarkan barang ekspor non migas dari tanah air.

“Dikatakan, kita bersyukur bahwa sejak semula kita telah waspada dalam menghadapi ujian berat yang terjadi sekarang”.

Di samping langkah-langkah penting yang telah dikonsolidasi kan untuk memantapkan persatuan dan kesatuan serta memantapkan stabilitas nasional yang dinamis, maka di bidang ekonomi telah diambil serangkaian langkah penting pula.

Seperti, penjadwalan proyek-proyek besar, menyehatkan kehidupan perbankan, memperbaharui sistem perpajakan, memperlancar aras lalulintas barang, mengadakan devaluasi, menciptakan suasana yang mendorong penanaman modal dalam negeri maupun modal asing, serta telah melakukan debirokratisasi dan langkah-langkah lainnya lagi.

Memang, kata Presiden, ada sebagian orang yang mengira bahwa semua langkah tersebut hanyalah untuk memberi peluang bagi berkembangnya kegiatan dunia usaha yang besar-besar saja.

“Anggapan itu sangat keliru.” Sebab, demikian Kepala Negara, segala kebijaksanaan dan langkah tadi mempunyai tujuan akhir untuk menyelamatkan jalannya pembangunan nasional demi kemajuan dan kesejahteraan rakyat.

Segala kebijaksanaan dan langkah tersebut justru diarahkan agar roda-roda perekonomian nasional dapat terus berputar, agar kesempatan kerja tetap terbuka dan agar kesejahteraan rakyat dapat tetap diperbaiki.

Dalam rangka menjaga kelanjutan pembangunan yang demikian itulah maka Kepala Negara secara khusus meminta agar para duta besar menaruh perhatian agar terus berusaha membuka pasaran ekspor non migas di luar negeri, menarik penanaman modal dan arus wisatawan ke Indonesia sebanyak-banyaknya.

Lebih Kokoh

Kepada Dubes Jerman Timur, Siegfried, dan Dubes Muangthai, Kamtorn Udomritthiruj.

Presiden Soeharto ketika menerima surat kepercayaan mereka menyatakan gembira menyaksikan hubungan yang bertambah erat antara Indonesia dengan Jerman Timur dan Muangthai. Kepala Negara mengharapkan agar hubungan ini menjadi semakin kokoh di masa mendatang.

Khususnya kepada Dubes Siegfried Kuhnel, Presiden menyatakan bahwa tahun-tahun mendatang merupakan tahun-tahun yang membuka kemungkinan yang lebih luas bagi Indonesia dan Jerman Timur untuk makin mengembangkan hubungan dan ketja sama yang saling memberikan manfaat di bidang ekonomi dan perdagangan.

Kepada Dubes Muangthai, Kamtorn Udomritthiruj, Kepala Negara menyatakan bahwa sebagai sesama negara anggota ASEAN, bangsa Indonesia merasa sangat bangga bersahabat dengan Muangthai.

Bagi bangsa Indonesia, Muangthai bukan hanya sahabat, melainkan negeri yang dipandang memiliki tradisi negara kebangsaan yang pantas dibanggakan, dan ini merupakan sumbangan yang besar bagi terwujudnya ketahanan regional dalam rangka ASEAN. (RA)

 

 

Jakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (07/11/1986)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 448-450.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.