Presiden Berdialog dengan Kuli Pasar: ‘AYO WARTAWAN, IKUT MAKAN TIWUL’

Presiden Berdialog dengan Kuli Pasar: ‘AYO WARTAWAN, IKUT MAKAN TIWUL’[1]

 

 

Jakarta, Republika

Presiden Soeharto kemarin mengadakan inspeksi mendadak (sidak) ke Kantor Dolog DKI Jakarta di Jalan Perintis Kemerdekaan Sunter Jakarta Pusat dan Pusat Perdagangan Beras di Cipinang Jakarta Timur. Pak Harto meninggalkan kediamannya di Jalan Cendana, pada pukul 07.30 namun beberapa menit sebelum itu, tak satu pun stafnya yang mengetahui kemana Pak Harto ingin pergi.

Dalam sidak yang diikuti Kepala Bulog Beddu Amang, Mensos Inten Soeweno, Sesdalopbang Hendroprijono, serta Sekretaris Yayasan Dharmais Hedijanto ini, Pak Harto memerintahkan Bulog untuk menyediakan beras yang cukup guna memenuhi kebutuhan masyarakat menghadapai Natal, Tahun Baru, Lebaran, dan Puasa Ramadhan. “Stok beras supaya diperbanyak,” kata Kepala Negara saat berada di kantor Dolog Jakarta seperti dilaporkan Antara.

Di Kantor Dolog, Pak Harto disambut Wakil Kepala Dolog Saean Ahmadi. Saean melaporkan, stok yang dikuasai kantor itu sekitar 194.000 ton dan diharapkan jumlah itu akan bertambah lagi dengan berdatangannya beras dari kota-kota lainnya.

Kepada Saean, Pak Harto menanyakan kenapa harga naik. Saean menjelaskan kenaikan terjadi karena pengiriman dari daerah mulai berkurang, sebab panen sudah hampir berakhir dan mendekati paceklik. Mengomentari laporan itu,

Presiden berkata, “Panen memang sudah hampir tidak ada. Beras yang masuk dari luar (kota, red) sudah tidak mungkin.”

Pak Harto yang mengantongi catatan tentang harga beras yang pengaruhnya terhadap angka inflasi cukup tinggi kemudian bertanya apa yang akan dilakukan agar harga tidak naik pada bulan Desember hingga Januari.

Menjawab pertanyaan itu, Saean mengatakan Dolog melakukan operasi pasar (OP) dengan menyediakan beras antara 1.000 hingga 2.000 ton/hari. Harga beras yang juga berasal dari luar negeri itu berkisar antara Rp875-Rp900/kg.

“Bagaimana kalau ada pedagang yang menaikkan harga?” tanya Presiden. “Petugas dari Dolog melakukan pengawasan. Di setiap pasar disiapkan seorang petugas,” jawab Saean.

“Apakah cukup satu orang saja?” tanya Pak Harto yang kemudian memberi jalan keluar dengan menyarankan memanfaatkan petugas Polri. “Kalau perlu minta bantuan reserse agar pedagang tidak menaikkan harga,” lanjut Pak Harto yang nampak selalu serius mendengarkan keterangan pimpinan Dolog Jakarta itu.

Didampingi Inten, Beddu Amang, dan Hendroprijono, Kepala Negara kemudian meninjau sebuah gudang yang terletak di Kantor Dolog itu dan berdialog dengan para kuli pengangkut beras.

“Satu hari terima berapa?” tanya Pak Harto ramah pada seorang kuli yang kemudian menjawab menerima Rp8.000/ hari.

“Itu sudah utuh atau belum?” tanya Presiden yang kemudian menerima jawaban bahwa uang itu masih harus dipotong untuk biaya makan, sehingga penghasilan bersihnya sekitar Rp6.000/hari.

Sambil bergurau, Pak Harto berkomentar, “Hidupnya begitu-begitu saja. Tapi kalau disuruh bertransmigrasi tidak mau.” Mendengar pernyataan ini,para kuli hanya tersenyum.

Kepala Negara dan rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Pasar Induk Cipinang. Namun karena kunjungan ini sangat mendadak, maka kegiatan para pedagang beras di pasar ini sama sekali tidak terganggu. Mereka pada umumnya tetap asyik bertransaksi, bahkan para kuli tetap saja berlalu-lalang memanggul beras.

Pak Harto sempat memasuki sebuah lorong sempit dan melihat kegiatan penjualan beras. Kepala Negara kemudian berkeliling sambil melihat kegiatan bongkar muat dari sejumlah truk.

“Mengangkut beras dari mana?” tanya Pak Harto pada seorang pengemudi yang kemudian menjawab ia datang dari Bandung. “Harganya kenapa dinaikkan?” tanya Pak Harto lagi. “Dari sono-nya Pak,” jawab pengemudi itu.

Setibanya kembali di kediaman Jalan Cendana, Kepala Negara menjelaskan pada pers bahwa masyarakat tak perlu khawatir terhadap persediaan beras yang jumlahnya cukup dan juga harganya.

“Masyarakat tidak perlu khawatir menghadapi Natal, Tahun Baru, Puasa, dan Lebaran,” tegas Kepala Negara yang kemudian membenarkan ada beberapa jenis beras yang harganya naik.

“Memang ada beberapa jenis beras yang naik harganya, tapi itu terutama terjadi pada beras yang dikonsumsikan mereka yang taraf hidupnya lebih baik,” kata Presiden.

Irian Jaya ini kurang tepat, karena selama ini mereka tidak mengonsumsi beras. Sambil mengajak wartawan makan nasi tiwul, Presiden berkelakar,

”Kalau makan tiwul jangan lantas diberitakan sudah kelaparan, kekurangan pangan.”

Dalam kesempatan itu, Presiden menyerahkan bantuan 10 ribu ton thiwul untuk korban kelaparan di Irian Jaya yang nantinya akan diserahkan oleh Mensos Inten Suweno.(Aw/Rid/D-12)

Sumber: MEDIA INDONESIA (04/12/1997)

________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 812-816.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.