PRESIDEN : BERANEKA RAGAMNYA AGAMA PERLUKAN KEARIFAN

PRESIDEN : BERANEKA RAGAMNYA AGAMA PERLUKAN KEARIFAN[1]

 

Solo, Antara

Presiden Soeharto, menegaskan beraneka ragamnya agama di tanah air mengakibatkan diperlukannya sikap arif dalam menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan perbedaan-perbedaan itu.

“Sebab jika tidak, maka hal itu dapat menggoyahkan persatuan dan kesatuan bangsa kita, padahal persatuan inilah yang menjadi modal utama dan kekuatan terbesar bangsa kita.” kata Presiden di Solo, Rabu.

Ketika membuka pertemuan tokoh Hindu yang disebut Maha Sabha Parisada Hindu Dharma Indonesia ke-7, Kepala Negara menyebutkan, sikap arif dalam menangani perbedaan dalam bidang agama itu sangat diperlukan, karena pada saat bangsa Indonesia mulai merintis, melahirkan dan mempertahankan kemerdekaan, tidak pernah dipersoalkan perbedaan agama di antara bangsa ini.

Agama memperoleh kesempatan yang seluas-luasnya untuk berkembang dengan suburnya di tanah air. Bahkan Pasal 29 UUD 1945 menegaskan bahwa negara menjarnin kemerdekaan tiap warga negara untuk memeluk agamanya masing-masing.

“Amanat Undang-Undang Dasar tadi kecuali menunjukkan di negara kita agama memperoleh kesempatan yang seluas-luasnya untuk berkembang, juga mewajibkan kita semua pemeluk agama untuk mengembangkan hidup rukundi antara sesama umat beragama dan di antara kita yang berlain-lainan agama.” tegas Presiden.

Masalah kearifan ini, kata Presiden, menjadi perhatian utamanya karena kehidupan beragama dewasa ini menghadapi tantangan yang tidak ringan.

“Di satu pihak, kita melihat bangkitnya kembali agama, dan di lain pihak kita menyaksikan timbulnya kesulitan-kesulitan yang justru disebabkan ulah umat manusia sendiri.” kata Presiden.

Harapan muncul karena gejala kebangkitan agama bukan saja terjadi pada negara yang masyarakatnya memelihara semangat keagamaan, tapi juga di negara yang selama ini melarang berkembangnya kehidupan beragama.

“Namun bersamaan dengan tumbuhnya harapan itu,juga timbul keprihatinan yang dalam. Selain kerusakan lingkungan yang telah mencapai tingkat parah di berbagai kawasan, kehidupan manusia juga terancam oleh makin meluasnya penyalahgunaan narkotika, kejahatan terorganisasi, aborsi, serta AIDS.” kata Preisden.

Akar penyebab timbulnya masalah-masalah itu adalah tumbuhnya sikap yang hanya ingin mendapatkan kenikmatan hidup tanpa memperhatikan keluhuran nurani, kata Presiden.

“Salah satu cara yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mendalami kembali ajaran-ajaran agama yang kita anut.” kata Presiden.

Khusus mengenai pertemuan tokoh-tokoh terkemuka agama Hindu ini, Kepala Negara menyampaikan harapannya agar organisasi umat Hindu di tanah air, yaitu Parisada Hindu Dharma Indonesia ikut mengembangkan peran sertanya semaksimal mungkin dalam pembangunan.

“Bahasa keagamaan tidak jarang mempunyai daya yang lebih besar untuk membangkitkan kegairahan umat beragama dalam kegiatan pembangunan.” kata Presiden yang melakukan kunjungan kelja satu hari di Solo.

Sumber : ANTARA (18/09/1996)

______________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 625-627.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.