PRESIDEN BELUM TERIMA SURAT MANDELA SOAL PEMBEBASAN XANANA

PRESIDEN BELUM TERIMA SURAT MANDELA SOAL PEMBEBASAN XANANA[1]

 

Jakarta, Antara

Mensesneg Moerdiono hari Kamis (31/7) menegaskan bahwa sampai sekarang Presiden Soeharto belum pernah menerima surat Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela mengenai pembebasan Xanana Gusmao.

“Tadi Bapak Presiden menanyakan, apakah ada surat dari Presiden Mandela.” kata Moerdiono kepada pers di Istana Merdeka setelah mendampingi Kepala Negara menyambut tamu negara Presiden Namibia, Sam Nujoma.

Masalah Xanana ini ditanyakan para wartawan karena Mandela mengaku sudah mengirim surat kepada Presiden Soeharto mengenai perlunya terpidana gembong GPK Fretilin itu dibebaskan.

Mandela baru -baru ini mengunjungi Indonesia, dan ketika mengadakan pembicaraan dengan Kepala Negara, secara mendadak ia minta izin untuk dipertemukan dengan Xanana yang dijatuhi hukuman penjara 20 tahun atas tuduhan melakukan tindak kriminal.

Presiden Soeharto kemudian menyetujui permintaan tamunya itu dan akhirnya pertemuan rahasia itu berlangsung di Wisma Negara

“Apa yang dilakukan Presiden Mandela diketahui dan disetujui sepenuhnya oleh Presiden Soeharto.” kata Moerdiono mengenai pertemuan rahasia yang mengejutkan itu. Moerdiono mengatakan, sampai sekarang dia sendiri pun belum pernah melihat surat permintaan pembebasan dari Kepala Negara Afrika Selatan itu.

Mensesneg menegaskan, dalam pertemuan kedua kepala negara itu, sama sekali tidak disinggung, baik secara langsung maupun tidak langsung, tentang perlu dibebaskannya tahanan tersebut.

“Pendirian kita adalah jelas sekali bahwa Xanana ditahan bukan karena keyakinan politiknya. Tidak ada satu orang pun bisa ditahan karena keyakinan politiknya, sehingga orang bisa ditahan karena perbuatan kriminalnya.” tegas Moerdiono.

Ketika berulang kali ditanya wartawan apakah mungkin Mandela menyampaikan keinginannya agar Xanana dibebaskan, Moerdiono berkata,

“Saya tidak mau berspekulasi mengenai hal-hal yang masih harus dikonfirmasikan.”

 

Sekjen PBB

Mandela hari Rabu (30/7) di Pretoria kepada pers mengatakan bahwa suratnya dikirim awal bulan Juli, yang pada dasarnya menyebutkan tentang perlu dibebaskannya gembong GPK Fretilin itu.

“Kita tidak dapat menormalisasikan situasi di Timor Timur kecuali jika semua pemimpin Timtim, termasuk Xanana dibebaskan.” kata Mandela.

Pembicaraannya dengan Xanana dan berbagai tokoh Timtim lainnya merupakan bagian dari prakarsa Sekjen PBB Kofi Annan dan juga bukan bagian yang terpisahkan dari upaya untuk mencari penyelesaian terhadap masalah ini.

Ketika ditanya wartawan tentang isi pertemuannya dengan Xanana di Jakarta itu, Mandela berkata

“Terdapat masalah-masalah peka yang mencakup Kepala Negara dan para pemimpin Timtim.”

Ia juga menyebutkan, pertemuannya dengan Xanana merupakan bagian dari rencananya untuk bertemu dengan para tokoh Timtim, baik yang berada di Indonesia maupun di negara-negara lainnya.

Namun, ia juga menegaskan bahwa pembicaraannya dengan Presiden Soeharto itu sangat positif dan berharga.

(T.EU01/B/DN06/31/07/97 /18:47/RU3)

Sumber: ANTARA (31/07/1997)

__________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 507-508.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.