PRESIDEN : BARANG BERLEBIH, AKIBATKAN INFLASI RENDAH

PRESIDEN : BARANG BERLEBIH, AKIBATKAN INFLASI RENDAH[1]

 

Jakarta, Antara

Berlebih nya jumlah bahan-bahan kebutuhan pokok rakyat dibandingkan dengan konsumsi telah mengakibatkan rendahnya angka inflasi, sehingga kondisi ini perlu terus dipertahankan, kata Presiden Soeharto.

“Angka inflasi bulan Agustus 0,27 persen disebabkan pasok lebih besar dari pada kebutuhan.” kata Menpen Harmoko kepada pers di Bina Graha, Rabu, ketika mengutip pernyataan Presiden pada Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekku, Wasbang dan Prodis.

Karena persediaan barang yang banyak, maka Kepala Negara, memerintahkan para menteri ekonomi untuk menyiapkan barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang tahun baru, Natal, serta Lebaran.

Salah satu penyebab rendahnya angka inflasi bulan Agustus itu, kata Harmoko adalah karena sub sektor makanan menunjukkan minus 0,35 persen termasuk karena harga cabe merah rendah.

Khusus mengenai cabe merah, kata Presiden, para petani di daerah yang curah hujan nya tidak tinggi dianjurkan untuk menanam tumbuhan ini karena pada saat hujan besar, petani cabe di Jawa menghadapi kesulitan sehingga harga melonjak.

Harmoko menyebutkan inflasi pada tahun anggaran 1996/97 berjumlah 1,72 persen dan tahun takwim 4,98 persen. Pada periode yang sama tahun anggaran sebelumnya, inflasi mencapai 3,37 persen dan tahun takwim 6,41 persen.

Sementara itu, ketika menjelaskan perkembangan ekspor komoditi non migas, Harmoko mengatakan, ekspor bulan Juni mencapai 4,138 miliar dolar AS dibanding impor 3,945 miliar dolar AS sehingga surplus 193 juta dolar.

Ekspor itu terdiri atas migas 828 juta dolar dan non migas 3,310 miliar dolar AS sedangkan importer diri atas migas 286 juta dolar dan non migas 3,659 miliar dolar AS. Ekspor selama semester pertama tahun ini adalah 23,485 miliar dolar AS dibanding impor 21,194 miliar dolar AS sehingga Indonesia menikmati surplus 2,290 miliar dolar AS.

Ketika mengomentari kinerja ekspor tersebut, Presiden minta para pengusaha terutama eksportir untuk terus meningkatkan mutu barangnya sehingga semakin memenuhi kebutuhan konsumen.

Menpen dalam sidang kabinet yang dihadiri pula wakil Presiden Try Sutrisno, Menko Polkam Soesilo Soedarman, Menhankam Edi Sudradjat serta Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung itu mengatakan, juga dibahas kenaikan harga semen.

“Kenaikan itu terutama terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur terutama akibat kenaikan permintaan yang lebih dari biasa sehingga stok berkurang. Namun keadaan kelangkaan sudah mulai diatasi.” kata Harmoko.

Ketika menjelaskan situasi harga, ia berkata

“Tidak ada niat pabrik-pabrik semen untuk menaikkan harga produknya”.

Dalam sidang yang berlangsung sekitar 1,5 jam itu juga dibahas perkembangan pemanfaatan lahan gambut sejuta ha di Kalimantan Tengah yang sekitar 600.000-700.000 ha di antaranya akan dipakai untuk membuat persawahan.

Presiden minta pemanfaatan lahan gambut ini dibarengi dengan berbagai pengembangan lainnya. Harmoko memberi contoh Presiden minta BPPT untuk membuat kapal-kapal kecil yang beratnya sekitar 0,25 ton -0,5 ton untuk mengangkut berbagai hasil produksi setempat.

Sumber : ANTARA (04/09/1996)

______________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 404-406.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.