PRESIDEN: BAHAYA PERPECAHAN DAPAT DATANG BERSAMAAN DENGAN MENINGKATNYA KEMAKMURAN

PRESIDEN: BAHAYA PERPECAHAN DAPAT DATANG BERSAMAAN DENGAN MENINGKATNYA KEMAKMURAN

Menkeh Ali Said: Masih Teramat Banyak yang Harus Dilakukan

Bahaya perpecahan dapat datang bersamaan dengan lajunya arus pembangunan dan meningkatnya kemakmuran. Karenanya, usaha menggalang persatuan dan kesatuan bangsa harus digerakkan terus; baik melalui jalur sosial politik, sosial ekonomi maupun sosial budaya usaha ini harus dimulai dari kalangan pemuda, dan tentu saja memerlukan waktu untuk menumbuhkannya.

Demikian penegasan Presiden Soeharto pada pnneak peringatan Hari Sumpah Pemuda/Hari Pemuda (HSP/HP) ke-53 tahun 1981, sekaligus membuka Kongres Pemuda/KNPl (Komite Nasional Pemuda Indonesia) ke III, di Istora Senayan, Jakarta, Rabu siang.

Hal itu ditegaskan Presiden untuk mengingatkan kaum muda bahwa, persatuan dan kesatuan bangsa itu kokoh dengan sendirinya pada saat bangsa merasa aman dan menjadi makmur. Karenanya, persatuan dan kesatuan harus terus menerus digalang.

Dari pelajaran sejarah pun bisa diaambil hikmahnya. Pertama, mutlaknya persatuan kita semua untuk memenangkan perjuangan. Kedua kepeloporan pemuda dalam setiap peristiwa sejarah Indonesia yang panjang.

Menumbuhkan semangat kebangsaan dan persatuan memerlukan waktu lebih-lebih bagi bangsa kita yang beraneka ragam dan karena politik memecah belah oleh penjajah.

"Rasa kebangsaan dan persatuan bertambah kokoh yang akhirnya karena kematangan dan kesempatan sejarah menjadi kekuatan dahsyat yang melahirkan Kemerdekaan nasional pada tahun 1945 dengan dasar Negara Pancasila," ucap Presiden.

Melalui persatuan yang kokoh kuat tidak ada kekuatan lain yang akan dapat mengalahkan bangsa Indonesia dan tak ada satu rintangan pun yang mampu menghalang-halangi.

Peran Kaum Muda

Presiden juga mengungkapkan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah bangsa Indonesia selalu dilahirkan oleh kaum pemuda setidak-tidaknya mereka yang masih berusia muda. Namun satu hal yang selalu dijaga ialah bahwa persatuan dan kesatuan itu terus dibina tanpa membeda-bedakan asal usul wama kulit, agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Jangan kita mencari-cari perbedaan di antara kita karena kita memang bangsa yang terdiri dari berbagai suku, asal-usul daerah dan agama yang berbeda-beda segala perbedaan itu telah kita lebur menjadi satu bangsa satu tanah air dan satu bahasa sejak 50 tahun lalu," tegas Presiden.

Dikatakan bangsa Indonesia memang berbeda-beda tetap telah bersatu dalam keluarga besar bangsa Indonesia yang hidup dan rukun dan sejahtera Bahkan perbedaan itu hendaknya menjadi keindahan taman sarinya Indonesia yang berwarna-warni tetapi tetap serasi. Yang penting secara sosial politik, sosial ekonomi dan sosial budaya kita benar-benar bersatu padu.

Nafas Demokrasi

Berbicara mengenai persatuan Presiden juga menyatakan persatuan itu tidak berarti salah satu pendapat. Tidak berarti tidak boleh berbeda pendapat. Beda pendapat adalah lumrah. Dan beda pendapat adalah nafasnya demokrasi yang dijunjung tinggi. Yang penting perbedaan pendapat itu diarahkan untuk mencapai pandangan baru yang lebih baik dan bukan sekedar beda pendapat untuk beda pendapat.

"Jangan kita mengira bahwa pemersatuan dan penyatuan bangsa ini hanya kita perlukan dalam zaman perjoangan kemerdekaan. Dan jangan kita mengira bahwa pemersatuan dan penyatuan bangsa itu lahir dengan sendirinya, setelah perjoangan kemerdekaan selesai. Sejarah kita mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak dengan sendirinya menganut". (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (30/10/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 231-233.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.