PRESIDEN : ASING TELAH SIAP AMBIL ALIH PERUSAHAAN LEMAH

PRESIDEN : ASING TELAH SIAP AMBIL ALIH PERUSAHAAN LEMAH[1]

 

Sukabumi, Republika

Presiden Soeharto mengatakan pemerintah dan masyarakat harus bekerja keras agar bangsa ini dapat segera keluar dari krisis ekonomi sekarang ini.

“Bila krisis itu tidak cepat teratasi, industri dalam negeri akan lumpuh, dan modal dari luar akan mengambil alih perusahaan-perusahaan yang lemah itu.” kata Pak Harto kemarin, di Sukabumi.

Pak Harto juga mengingatkan,

“Kita berjuang tidak hanya untuk kemerdekaan politik, tapi juga di bidang ekonomi.”

Presiden berkunjung ke Sukabumi untuk meresmikan Sentra Industri Sukabumi, yang dibangun kelompok Astra di Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jabar. Pak Harto didampingi 12 menteri kabinet, di antaranya, Menperindag Mohamad Hassan, Mentan Ny. Yustika Syarifuddin Baharsyah, dan Gubernur Jabar  Nuriyana.

Pada kesempatan itu, Kepala Negara menyempatkan diri bertemu wicara dengan 40 pengusaha kecil, menengah, dan koperasi. Dialog itu disaksikan pejabat IMF dan Bank Dunia, serta pengamat ekonomi Sri Mulyani.

Dalam temu wicara, Pak Harto menyatakan kekagumannya dengan dibentuknya mitra kerja usaha kecil menengah dan koperasi (UKMK). Kemitraan itu dibina oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), sebuah yayasan di bawah Grup Astra, juga oleh PT Astra Mitra Ventura, sebuah anak perusahaan PT Astra International.

“Di tengah-tengah kita menghadapi berbagai krisis, apa itu krisis moneter, ekonomi, sampai pada krisis akhlak, kita masih bisa menyaksikan kegiatan dan kiprah para pengrajin industri kecil di dalam partisipasinya melaksanakan pembangunan.” ujar Pak Harto.

Presiden juga menegaskan bangsa Indonesia harus tetap percaya pada diri sendiri.

“Kita akan bisa bangkit kembali dari kondisi ekonomi sekarang ini, karena memang kita masih mempunyai kekayaan yang cukup.”

Selain kekayaan, menurut Pak Harto, Indonesia juga mempunyai 160 BUMN, 100 di antaranya dalam keadaan sehat. Dengan kekayaan 100 BUMN yang sehat itu, bagi Indonesia tak ada kesulitan untuk mendapatkan dana segar untuk melanjutkan pembangunan.

“Dengan menjual sebagian saham BUMN, kita dengan mudah memperoleh lima miliar dolar AS dana segar.”

Pak Harto juga menegaskan upaya itu didukung oleh bantuan dari berbagai pihak seperti IMF, World Bank, maupun negara-negara donor lainnya.

Kepala Negara mengatakan bahwa dampak melemah nilai rupiah terhadap dolar sebenarnya tidak seluruhnya dirasakan oleh pengusaha negeri ini, terutama mereka yang menggunakan bahan baku lokal. Karena itu, dia mengingatkan dalam rangka pembangunan berikutnya, semua industri hendaknya dapat melepas ketergantungannya pada bahan baku impor.

Pada kesempatan itu, Presiden juga mengatakan pemerintah sama sekali tidak berniat untuk menggadaikan kekayaan alam Indonesia dalam usaha membawa bangsa ini keluar dari krisis.

Presiden mengatakan setiap tahun kekayaan alam tersebut bisa memberikan pendapatan bagi negara.

“Minyak dan gas bumi kita, masih bisa diekspor. Itu berarti 1,5 juta barel per hari setiap tahun.”

Selain minyak dan gas, menurut Kepala Negara, masih ada kekayaan alam lain yang bisa diandalkan, misalnya batubara. Komoditas ini, setiap tahun bisa diekspor 40 juta ton.

“Selain itu, masih ada tambang timah, nikel, dan juga tembaga di Irian yang mengandung emas terbesar.”

Sumber : REPUBLIKA (22/04/1998)

_______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 729-730.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.