PRESIDEN : ASEAN HADAPI TANTANGAN, WALAU SUDAH BERHASIL

PRESIDEN : ASEAN HADAPI TANTANGAN, WALAU SUDAH BERHASIL[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto mengatakan, ASEAN masih menghadapi banyak tantangan walaupun selama 30 tahun berdirinya perhimpunan negara-negara di kawasan Asia Tenggara itu telah banyak mencapai keberhasilan.

“Karena itu, kita perlu terus berupaya untuk secara efektif mengatasi berbagai masalah keamanan.” kata Kepala Negara di Balai Sidang Jakarta, Jumat malam pada acara HUT ke-30 ASEAN.

Kepala Negara yang didampingi Wakil Presiden Try Sutrisno dan Ibu Tuti Sutrisno, Menlu Ali Alatas serta Sekjen ASEAN Dato Adjit Singh, mengemukakan pula, masalah keamanan itu tidak hanya mengancam stabilitas keamanan tapi juga kemakmuran dan dinamika ekonomi.

Kepada sekitar 1.600 undangan yang memenuhi Balai Sidang Jakarta itu, Presiden juga menyebutkan setiap anggota ASEAN perlu terus meningkatkan ketahanan nasionalnya yang selanjutnya untuk memperkuat ketahanan regional kawasan ini.

“Setiap negara anggota ASEAN juga harus terus memberi perannya untuk mengintegrasikan perekonomian anggota-anggota ASEAN.” kata Kepala Negara.

Ketika meninjau sejarah ASEAN yang dilahirkan 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand, Kepala Negara mengingatkan bahwa organisasi regional ini dibentuk untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, sosial dan kebudayaan para anggotanya.

Bangsa-bangsa di kawasan ini berketetapan hati untuk bersama-sama memelihara perdamaian dan stabilitas kawasan, dengan menghormati prinsip-prinsip hukum dan keadilan serta berpegang teguh pada Piagam PBB.

“Sepanjang 30 tahun usianya, ASEAN selalu berpegang teguh pada prinsip-­prinsip yang tercantum dalam Deklarasi Bangkok dan berupaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan cita-citanya melalui berbagai kegiatan dan program yang bermanfaat bagi kita semua.” kata Kepala Negara.

Anggota tambahan

Ketika berbicara tentang ASEAN yang semula baru terdiri atas lima negara dan sekarang telah bertambah menjadi sembilan negara, Presiden Soeharto menyatakan masuknya anggota-anggota baru itu merupakan hal yang amat penting bagi perhimpunan ini.

“Dengan bertambah luasnya keanggotaan itu, maka bertambah penting pula peranan strategis organisasi kita sebagai pendukung perdamaian dan keamanan serta kerja sama ekonomi dan sosial.” kata Presiden.

Masalah itu dikemukakan Kepala Negara terutama dengan masuknya Laos dan Myanmar menjadi anggota ASEAN bulan Juli lalu, sehingga kini anggotanya menjadi sembilan negara. Pada awalnya ASEAN terdiri atas Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura serta Thailand. Kemudian dua negara yaitu Brunei Darussalam serta Vietnam bergabung.

Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyinggung pola pendekatan ASEAN terhadap penanganan masalah keamanan, guna menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan ini.

Upaya ASEAN itu berhasil dengan ditandatanganinya Traktat Asia Tenggara sebagai Kawasan Bebas Senjata Nuklir oleh 10 negara di kawasan ini.

“Protokol pada traktat ini terbuka bagi lima negara bersenjata nuklir sehingga traktat ini menjadi sarana yang efektif untuk mengurangi ancaman bahaya nuklir di kawasan ini.” kata Presiden.

ASEAN mengharapkan negara-negara bersenjata nuklir itu dapat memberikan sumbangan berarti bagi terwujudnya keamanan kawasan dengan menjadi pihak pada traktat itu.

Sementara itu, ketika menyinggung kerja sama di bidang ekonomi, Presiden menyebutkan telah berhasil dicapai berbagai kemajuan yang membesarkan hati.

Sekalipun masih ada waktu lima tahun lagi untuk melak sanakan kawasan perdagangan bebas ASEAN (AFTA ), sekarang telah lebih dari 90 persen pos tarif telah dimasukkan ke dalam kerangka tarif preferensi umum (CEPT).

“Untuk mendukung perwujudan AFTA, kita telah melakukan serangkaian usaha bersama di bidang harmonisasi kepabeanan, standarisasi dan kerja sama bidang pertanian dan produk pangan, kehutanan, pertambangan dan industri keuangan.” kata Presiden.

Selain memuji keberhasilan kerja sama di bidang politik dan ekonomi, Indonesia juga merasa puas terhadap kerja sama fungsional untuk mendukung kerja sama

ekonomi dan politik tersebut.

“Kegiatan-kegiatan di bidang fungsional diintensifkan dan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran persatuan dan perpaduan yang kukuh serta kemampuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.” kata Presiden.

Sumber : ANTARA (11/08/1997)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 66-68.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.