PRESIDEN ANJURKAN PETANI MALUKU MENGELOMPOK

PRESIDEN ANJURKAN PETANI MALUKU MENGELOMPOK

Presiden Soeharto dalam acara tatap muka dengan utusan masyarakat di desa Batugong, Kotamadya Ambon, Rabu siang menganjurkan seluruh petani di Maluku yang bergerak dalam penanaman padi mengelompok.

Sewaktu menjawab pertanyaan Sukardi (51 tahun), utusan kelompok tani desa Waimital, Kecamatan Kairatu/P.Seram, Maluku Tengah, yang menyatakan keluhan kepada Presiden karena produksi sawahnya kurang menggembirakan Presiden mengatakan, berdasarkan atas pengamatan selama ini, usaha kelompok di bidang persawahan lebih berhasil jika dibandingkan dengan bila sawah itu dikerjakan oleh perorangan.

Produksi kelompok rata-rata delapan sampai sepuluh ton per hektar, sedangkan bila sawah dikerjakan sendiri-sendiri, hasilnya hanya sekitar lima ton per hektar.

Presiden minta Sukardi sekembali ke Waimital memberitahukan penduduk lain segera mengadakan pengelompokan dengan areal 50 hektar atau 100 hektar setiap kelompok.

“Katakan kepada penduduk Waimital ini anjuran saya”, kata Presiden.

Dalam acara tatap muka yang dihadiri wakil kelompok tani, peternak, nelayan, KB, PKK, transmigrasi, karyawan pabrik dan KUD se-Maluku usai meresmikan sepuluh industri plywood di Maluku itu, Presiden mengatakan dengan cara mengelompok, apalagi bila ditunjang dengan pupuk, obat­obatan, bibit unggul dan irigasi, usaha persawahan lebih mudah dengan hasil lebih menguntungkan.

Keuntungan yang sangat terasa dengan cara ini ialah pengolahan sawah, penuaian, pemasaran dan terutama pemberantasan hama lebih mudah, Kelompok juga dapat membentuk KUD yang berfungsi melayani kebutuhan bibit, pupuk dan pemasaran.

Sukardi, transmigran asal pulau Jawa yang datang ke Maluku beberapa tahun lalu mengatakan, hambatan utama dalam pengelolaan sawah di Waimital ialah pestisida sering tiba terlambat, menyebabkan produksi padi rata-rata di Waimital empat ton per hektar.

Melengkapi soal ini, Presiden mengatakan, dengan mengelompok dapat diatur perencanaan pengelolaan sawah sejak mulai dikerjakan, hingga kesulitan apapun dapat di atasi.

Di Jawa Tanah Sempit

Soekarni (27 tahun) transmigran asal Pacitan (Jatim) yang ikut program transmigrasi ke Maluku 18 bulan lalu, mengatakan, setelah memperoleh

tanah seluas dua hektar di Pasahari, Kecamatan Wahai/Seram Utara (Maluku Tengah) ia dan isterinya hidup tenang dan makmur.

“Di Pacitan saya punya tanah”, katanya ketika menjawab pertanyaan Presiden, tapi tanah tersebut sangat sempit.

“Saya tinggalkan tanah itu untuk keluarga yang lain dan bertransmigrasi ke Maluku”, ujarnya. Tanah yang ia terima secara cuma-cuma seluas dua hektar kini ditanami kacang-kacangan, sayur-sayuran dan padi. Hasilnya cukup menggembirakan, hanya sulit dipasarkan, katanya melaporkan kepada Presiden.

Setelah mendengar keluhan petani yang datang ke Ambon khusus untuk bertemu muka dengan Kepala Negara itu, begitu juga keluhan seorang nelayan dari desa Wahai, Ambon J. Tuasela (30 tahun) tentang kesulitan pemasaran, Presiden langsung minta Gubernur Hasan Slamet membantu petani dan nelayan di Maluku memecahkan kesulitan pemasaran hasil usahanya.

Seusai mengadakan temu wicara, Presiden dengan didampingi Menteri Kehutanan Menteri Perindustrian, Menteri Dalam Negeri, Menteri Negara Perumahan Rakyat, Menko Polkam Menteri Muda Sekretaris Kabinet, Pangab dan Menteri Sesneg meninjau pusat industri plywood Batugong.

Dengan berkendaraan darat, Presiden dan rombongan menuju lapangan terbang Pattimura, Ambon, dan langsung masuk pesawat Fokker-28 Pelita yang sudah menunggu.

Tepat pukul 13.30, Presiden dan rombongan bertolak kembali ke Jakarta lewat Ujungpandang setelah mengadakan kunjungan kerja sejak tanggal 15 Januari di Ambon. (RA)

 

 

Ambon, Antara

Sumber : ANTARA (18/01/1985)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 324-326.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.