PRESIDEN ANJURKAN PENGGUNAAN KENDARAAN2 PRIBADI SECARA BERSAMA2

PRESIDEN ANJURKAN PENGGUNAAN KENDARAAN2 PRIBADI SECARA BERSAMA2 [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto menganjurkan masyarakat untuk menggunakan mobil2 pribadi seperti sedan dan jeep secara bersama2 empat-lima orang setiap hari mereka pulang pergi dari kantor.

Ketika meresmikan jembatan Lintas Tomang di Jakarta hari Sabtu, Kepala Negara mengemukakan, alangkah besar penghematan yang dapat dilakukan dan kelancaran lalu lintas akan bertambah, apabila masyarakat mau memenuhi anjurannya itu.

Presiden melihat bahwa sekarang ini setiap pagi atau siang ribuan sedan berjejal2 memenuhi jalan2 hanya dengan seorang penumpang.

“Sungguh itu merupakan pemborosan, baik dalam penggunaan jalan maupun bahan bakar minyak”, katanya.

Untuk mengurangi kemacetan lalu lintas dan meniadakan pemborosan itu memang diperlukan kesadaran dari masyarakat sendiri, disamping kemungkinan perlunya ada pengaturan dari pemerintah daerah.

“Bagaimanapun juga jalan merupakan prasarana yang sangat vital dalam kehidupan kita, baik dalam kehidupan ekonomi maupun kehidupan pribadi kita sehari2, sehingga menjadi tanggungjawab kita semua lah untuk memelihara dan menggunakannya dengan sebaik2nya”, kata Presiden.

Ia menyebutkan sebagai salah satu cara yang baik penggunaan kendaraan umum seperti bis, taksi dan sebagainya.

Termegah

Jembatan Tomang yang merupakan jembatan baru lintas Banjir Kanal yang kedua setelah Latuharhary, merupakan jembatan terpanjang, termegah dan termahal biayanya di Indonesia.

Jembatan yang menghubungkan Jakarta Pusat dengan Jakarta Barat panjang seluruhnya termasuk oprit 580 meter, dengan biaya Rp. 2,655 milyar, termasuk bantuan dari Departemen PUTL sebesar Rp. 800,-juta.

“Jembatan baru yang cukup panjang dan besar iniakan mempunyai fungsi yang penting dalam rangka memperlancar arus lalu lintas di Ibukota”, kata Presiden.

lkhtiar Khusus

Kepala Negara mengatakan, pembangunan kota Jakarta memerlukan ikhtiar yang khusus, karena masalah2 yang dihadapi oleh Ibukota tidak terhingga besarnya.

Pertambahan penduduk yang cepat, demikian juga kecepatan pertambahan hasil2 produksi di Jakarta khususnya sangat tidak seimbang dengan kemungkinan penambahan prasarana fisik maupun sosialnya, meskipun pemerintah DKI I telah berusaha keras untuk memecahkannya.

Dikemukakan, pembatasan2 alamiah seperti masalah tanah, pembiayaan dan hal2 teknis lainnya merupakan faktor yang tidak mudah dipecahkan.

Presiden menyebutkan masalah urbanisasi dan masalah2 perkotaan lainnya yang tidak hanya dihadapi oleh Jakarta saja, tetapi oleh kota2 besar lainnya di Indonesia dan seluruh dunia. Untuk mengatasinya diperlukan keuletan dan upaya yang tidak mengenal lelah dari pemerintah daerahnya dengan kerjasama dan bantuan instansi2 pemerintah pusat serta dukungan masyarakat.

Tidak Berdiri Sendiri

Ia menegaskan, bagaimanapun juga pembangunan dan kemajuan kota Jakarta tidak berdiri sendiri, dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional.

“Pembangunan yang pesat dari kota metropolitan ini dimungkinkan dan didorong oleh adanya dukungan yang kuat dari pemerintah pusat, baik dalam bentuk kebijaksanaan2 untuk memperlancar dan menghilangkan hambatan2, maupun dukungan pembiayaan, fasilitas serta bantuan teknis”, kata Presiden.

Ia menilai, pembangunan dan selesainya jembatan ini, merupakan salah satu contoh dari adanya usaha pemerintah daerah yang mendapatkan dukungan dan bantuan dari pemerintah pusat.

Tidak Mudah dan Mahal

Kepala Negara mengatakan, membangun prasarana perhubungan, khususnya jalan2 di Ibukota, sungguh tidak mudah dan sangat mahal, sehingga akan tetap sulit untuk mengimbangi pertambahan penduduk dan arus lalu lintas.

Dalam hubungan ini adanya dukungan dan kesadaran masyarakat untuk meringankan beban yang dihadapi pemerintah dan masyarakat Ibukota sangat penting. Dukungan dari masyarakat itu bukan saja dalam hal pentingnya arti pembangunan itu sendiri bagi masyarakat, sehingga masyarakat harus turut memberikan bantuan agar pembangunan dapat selesai menurut rencana, akan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah pengertian dan kesadaran mengenai bagaimana kita dapat menggunakan sarana jalan itu dengan seefektif dan sehemat mungkin, sehingga arus lalu lintas dapat lebih lancar dan lestari.

“Ini dapat dilakukan dengan mengadakan efisiensi penggunaan kendaraan bermotor sehari2nya”, kata Presiden.

Dalam hubungan inilah Presiden mengatakan, alangkah besar penghematan yang dapat dilakukan dan kelancaran lalu lintas pasti akan bertambah, apabila kita mau dan dapat menggunakan mobil2 pribadi seperti sedan dan jeep secara bersama2 4 – 5 orang setiap hari pergi ke kantor dan pulangnya. (DTS)

Sumber: ANTARA (16/04/1977)

 

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 586-588.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.