PRESIDEN AJUKAN IMF PLUS: JANGAN MENCARI KAMBING HITAM, DEBAT CBS ADALAH MELU HANDARBENI

PRESIDEN AJUKAN IMF PLUS: JANGAN MENCARI KAMBING HITAM, DEBAT CBS ADALAH MELU HANDARBENI[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

Presiden Soeharto mengajukan konsep “IMF Plus”untuk krisis ekonomi dalam pidato pertanggungjawabannya didepan Sidang Umum MPR 1998 kemarin.

Presiden mengatakan Indonesia sudah melaksanakan dan akan terus melaksanakan program-program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan yang mendapat dukungan IMF. Tetapi hingga saat ini tanda-tanda perbaikan belum juga tampak.

Menurut dia,kunci utama permasalahan ekonomi yang dihadapi Indonesia adalah stabilitasi nilai tukar rupiah pada tingkat yang wajar.

“Selama ini belum tercapai, saya belum melihat perbaikan keadaan dalam waktu dekat ini,” kata Pak Harto.

“Itulah sebabnya saya meminta IMF dan para kepala pemerintahan lainnya membantu Indonesia menemukan konsep yang tepat itu sebagai konsep IMF Plus,” katanya.

Dihadapan 997 anggota MPR-tiga lainnya meninggal tak lama setelah dilantik tahun lalu-dan para undangan lainnya. Presiden Soeharto menyatakan tengah menimbang-nimbang dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian kemungkinan penerapan sistem Dewan Mata Uang, atau currency board sistern (CBS).

Namun dia mengingatkan bahwa langkah apapun yang akan diambil pemerintah diperlukan dukungan IMF, sebagai lembaga keuangan dunia yang berwibawa dan memiliki reputasi tinggi.

Dalam pidato sekitar satu jam. Kepala Negara menegaskan tidak akan ragu sedikitpun melakukan apa saja untuk mengatasi keadaan-untuk meringankan kehidupan rakyat yang bertambah berat.

Secara menyeluruh, kata Kepala Negara, nilai tukar rupiah tetap saja lemah, sebentar menguat, kemudian melemah lagi.

“Hari-hari terakhir ini nilai tukar US$1 berkisar Rp9000 hingga 10.000, yang berakibat perusahaan-perusahaan mengalami kesulitan besar dan menurunkan kegiatannya sehingga bahaya pengangguran mulai tampak,” tambah Presiden.

“Akibat depresi rupiah harga barang impor barang produksi dalam negeri dengan komponen impor yang tinggi menjadi sangat mahal, termasuk harga obat-obatan. Harga barang kebutuhan hidup sehari-hari terdorong bertambah mahal pula,” ujar Presiden .

Dia menyatakan merasakan betapa pedihnya hati ibu-ibu rumah tangga dan keluarga-keluarga yang berpenghasilan rendah menghadapi harga yang membumbung tinggi ini.Masyarakat , dia menambahkan, gelisah akibatnya kesalahpahaman sedikit saja telah menyulut kerusuhan yang lebih besar.

“Keadaan bertambah buruk karena ada saja mereka yang mengail di air keruh,” tandas Presiden.

Pak Harto menyebut 1997 adalah tahun keprihatinan bagi bangsa Indonesia sehubungan dengan banyaknya kasus kecelakaan disektor perhubungan dan musibah kemarau panjang serta kebakaran hutan.

Membacakan pidato tertulis setebal 30 halaman,Kepala Negara juga menyambut baik perbincangan dikalangan masyarakat kita mengenai rencana penerapan CBS.

“Dengan niat baik, saya menilai positif perbincangan itu, ini adalah bagian yang dinamis dari proses demokrasi kita. Artinya, sebagai sikap melu handarbeni, rasa ikut memiliki masa depan bersama. Dengan minat yang penuh saya perhatikan segala pandangan yang dikemukakan,” tutur Presiden.

Tetapi Kepala Negara meminta agar jangan membesar-besarkan perbedaan pandangan, apalagi yang malah membingungkan masyarakat awam. Presiden mengingatkan agar perbedaan pendapat jangan menjadi benih perpecahan diantara rakyat Indonesia.

“Kita tidak perlu mencari kambing hitam. Juga tidak ada gunanya mencari kambing hitam,jauh lebih berguna kita mawas diri. Kita mencari hikmah dari musibah ini,” tegas Presiden. “Jika kita berhasil keluar dari kesulitan ini maka tubuh kita sebagai bangsa akan lebih kuat. Sebab kelemahan yang ada selama ini akan terkikis.”

Untuk itu Presiden Soeharto meminta kesediaan seluruh rakyat untuk melakukan apa saja yang harus dilakukan untuk membebaskan bangsa dari krisis ini dengan penuh kesadaran. Kepentingan nasional dan kepentingan bersama harus di utamakan di atas kepentingan masing-masing. (Rid/awi/D4)

Sumber: MEDIA INDONESIA (02/03/1998)

_________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 96-98.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.