PRESIDEN AJAK PENGUSAHA SWASTA NASIONAL DAN ASING PERLUAS KESEMPATAN KERJA

PRESIDEN AJAK PENGUSAHA SWASTA NASIONAL DAN ASING PERLUAS KESEMPATAN KERJA [1]

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto mengulangi ajakannya kepada seluruh pengusaha swasta nasional maupun asing untuk memberikan sumbangan kepada perluasan kesempatan kerja dalam setiap ekonomi dan pembangunan mereka.

Ajakan Kepala Negara itu disampaikan ketika ia meresmikan gedung Pusat Pembinaan Sumber Daya Manusia yang terletak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, hari Kamis.                      ,

Presiden mengingatkan, pembangunan yang tidak memberi kesempatan kerja kepada penduduk Indonesia yang sekarang berjumlah 135 juta orang, pasti akan membawa akibat2 yang merugikan.

Dalam memilih lapangan kegiatan dan pembangunan serta alat2 modern yang akan dipergunakan haruslah senantiasa dipakai cara2 kerja yang menggunakan tenaga kerja sebanyak mungkin, demikian Presiden menekankan.

Kepala Negara menyebutkan bahwa dalam dasa warsa 70-an dan tahun2 berikutnya masalah pertumbuhan penduduk dan kesempatan kerja merupakan masalah besar yang harus dapat ditanggulangi.

“Kita bukan saja menghadapi cepatnya pertambahan penduduk, melainkan bersamaan dengan itu juga pertumbuhan yang cepat dari tenaga kerja”, katanya menjelaskan.

“Apabila sekarang soal lapangan kerja menjadi soal masyarakat maka hal itu bukan sama sekali berarti pembangunan ini tidak mampu memperluas tenaga kerja. Yang benar adalah bahwa kebutuhan lapangan kerja itu demikian besar sehingga belum mampu dijawab oleh gerak pembangunan kita yang sudah agak cepat jalannya ini”, Kepala Negara menandaskan.

Presiden meminta Pusat Pembinaan Sumber Daya Manusia ikut memikirkan dan memberi arah pada perluasan kesempatan ketja dan pembinaan sumber daya manusia.

Tiga Segi Kejiwaan

Menyinggung masalah pembinaan tenaga kerja, Kepala Negara menyatakan bahwa yang diperlukan bukanlah hanya tenaga kerja yang banyak, tetapi adalah tenaga kerja yang mampu bekerja.

Presiden melihat ada tiga segi kejiwaan yang hams digarap dalam pembinaan tenaga kerja di Indonesia. Ketiga segi tersebut adalah:

  • Pembinaan sikap dalam hubungannya dengan penyerapan dan pengembangan tekhnologi. Dalam hal ini tekhnologi yang dipilih Indonesiaharuslah sesuai dengan kebutuhan dan tantangan pembangunan dalam tahap2 yang barn dimasuki. Menurut Presiden bukan merupakan suatu cela apabila pada tahap2 awal pembangunan Indonesia harus memasukan tekhnologi dari luar.
  • Penumbuhan dan pengembangan semangat kepeloporan. Dalam hal ini Kepala Negara menilai bangsa Indonesia adalah bangsa yang rajin dan mudah menyerap ketrampilan. Hal ini tersebut merupakan potensi2 sosial ekonomi yang harus dibangkitkan dan untuk membangkitkan ini diperlukan sikap kepeloporan. Menurut Presiden, sikap kepeloporan juga diperlukan untuk bertransmigrasi atau mencari tempat kerja ditempat2 lain yang lebih memberikan harapan dan ini harus dikembangkan, terutama pada kalangan kaum muda, pelajar dan mahasiswa.
  • Pembinaan semangat memelihara. Presiden menyerukan agar semangat memelihara yang ada harus dipupuk dan malahan dalam banyak hal masih harus ditanamkan benihnya.

Presiden mengharapkan Yayasan Tenaga Kerja Indonesia yang mengelola gedung yang baru saja diresmikan itu untuk dapat meneliti, menanamkan dan menumbuhkan ketiga kejiwaan tersebut.

Hadiah HUT ke Delapan

Gedung bertingkat 15 yang menelan biaya Rp. 4 miliar itu merupakan hadiah ulang tahun ke delapan bagi YTKI.

Yayasan Friedrich-Ebert Stiftung, Jerman Barat, memberikan sumbangan sebesar Rp. 2,1 miliar berupa peralatan untuk pembangunan gedung tersebut.

Perdana Menteri Nordrine Westphalia, H. Kuhn, yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden FES, menghadiri upacara peresmian gedung tersebut.

Gedung tersebut akan berfungsi sebagai tempat diskusi; latihan kerja bagi kader buruh, pemuda dan wanita, serta pusat penelitian. (DTS)

Sumber: ANTARA (24/02/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 454-455.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.