PRESIDEN : ABRI HARUS DAPAT MEMAHAMI TANDA-TANDA ZAMAN

PRESIDEN : ABRI HARUS DAPAT MEMAHAMI TANDA-TANDA ZAMAN

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto mengatakan, ABRI harus dapat memahami tanda-tanda zaman, kapan harus mengambil posisi “ing ngarso sung tulodo” dan kapan harus bersikap “tut wuri handayani”.

Dalam amanatnya pada upacara peringatan ke-46 Hari ABRI di lapangan parkir tirnur Senayan, Jakarta, Sabtu, Presiden menegaskan, apapun peranan dan posisi yang diambil ABRI, maka sasarannya adalah mantapnya landasan pembangunan nasional.

Kekuatan pembangunan telah tumbuh di seluruh kegiatan bangsa. Semuanya itu perlu terus digerakkan secara terpadu sehingga saling menunjang dan saling mendukung. Kekuatan pembangunan memerlukan ruang gerak yang cukup untuk menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, kata Kepala Negara.

Pengamanan terhadap kebijaksanaan nasional, kata Presiden, hendaknya dapat diwujudkan dengan menciptakan ruang gerak, kondisi dan peluang yang diperlukan untuk menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas bangsa.

Dalam semua langkah pembangunan tersebut, ABRI harus waspada agar gerak pembangunan dan kehidupan bangsa secara keseluruhan tetap terlindungi dari segala macam gangguan dan ancaman, kata Presiden.

“Tugas ini adalah tugas sejarah yang besar bagi generasi penerus ABRI,” kata Presiden Soeharto, sambil menambahkan bahwa peran tersebut perlu mendorong, membantu, mendayagunakan dan memberi peluang bagi kekuatan pembangunan yang telah berhasil diwujudkan.

Generasi penerus ABRI hendaknya terus mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menjawab tantangan yang ada dalam upaya mewujudkan agar dalam waktu dekat Bangsa Indonesia “duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi” dengan bangsa­-bangsa lain yang maju di dunia.

 

Penyegaran Nasional

Pada bagian lain pidatonya Presiden Soeharto mengemukakan, pemilihan umum mendatang harus dapat berjalan dengan tenteram, tertib dan lancar sehingga pemilu itu benar-benar dapat terlaksana sebagai pesta demokrasi dan momen penyegaran nasional.

Kepala negara menyatakan bahwa pemilu yang akan diselenggarakan tanggal 9 Juni 1992 tersebut mengandung arti penting karena MPR yang baru terbentuk akan menyusun araban pembangunan jangka panjang selanjutnya.

Berkenaan dengan penyelenggaraan Konperensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok di Indonesia tahun depan, Presiden Soeharto menyatakan, Indonesia merasa memperoleh kehormatan dapat membantu lahirnya wawasan barn yang akan mewujudkan perdamaian dunia.

“Konferensi ini harus berjalan dengan aman. Di masa-masa lalu ABRI telah berhasil menunaikan tugas pengabdiannya dengan baik. Kita semua percaya bahwa di masa datang ABRI juga akan dapat mengemban tugas pengabdiannya itu dengan sebaik-baiknya pula,” ujar Presiden.

Upacara militer bernpa parade dan defile yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 10.00 WIB dihadiri pula oleh Ibu Tien Soeharto, Wakil Presiden dan Ibu Soedharmono para Menteri Kabinet Pembangunan V, anggota DPR, Korps diplomatik asing, Panglima ABRI serta para Kepala Staf Angkatan dan Polri.  (SA)

 

Sumber : ANTARA (5/10/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 526-527.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.