POSITIF TANGGAPAN PASAR TERHADAP PIDATO PRESIDEN

POSITIF TANGGAPAN PASAR TERHADAP PIDATO PRESIDEN[1]

 

 

Jakarta, Kompas

Meski tidak sangat reaktif, pelaku pasar saham dan pasar uang menanggapi cukup positif pidato pertanggungjawaban Presiden Soeharto dalam Sidang Umum MPR, Minggu (1/3). Hal itu terefleksi dari menguatnya harga saham-saham unggulan di Bursa Efek Jakarta, serta menguatnya nilai rupiah terhadap dolar AS, Senin (2/3).

Dikatrol saham Bimantara Citra dan Citra Marga Nusaphala Persada yang teraktif diperdagangkan, membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 2,9 persen menjadi 496,729 poin. Saham unggulan yang termuat dalam Indeks LQ-45 bahkan naik lebih tinggi, 3,8 persen menjadi 104,900 poin.

Nilai tukar rupiah yang dibuka pada posisi antara Rp.8.800 dan Rp.8.900 di pasar valuta asing Singapura, sempat menguat hingga Rp.8.650 per dolar AS dalam sesi pagi. Rupiah ditutup dengan kurs Rp.8.850, menguat 100 poin dibanding penutupan Jumat (27/2) dengan kurs Rp.8.950 per dolar AS.

Bank Indonesia sendiri mematok kurs beli uang keras dolar AS senilai Rp.8.250 per satu dolar AS dan kurs jual seharga Rp.9.250 per dolar AS.

Menguatnya rupiah bersamaan dengan mata uang Asia di pasar Singapura, diduga merupakan reaksi positif spekulan menanggapi Presiden Soeharto yang mengatakan bahwa Indonesia akan hati-hati mengkaji dan mengadopsi penerapan Dewan Mata Uang (currency board system/CBS) dan menjaga komitmennya terhadap kreditor luar negeri, serta meneruskan reformasi yang disetujui dengan IMF.

Namun, menurut beberapa pedagang valas, tidak ada pihak yang mengambil posisi sampai Sidang Umum selesai. Pasar tidak mengantisipasi terjadi kejutan hingga SU MPR berakhir. Perdagangan juga sangat ketat. Menurut mereka, seperti dikutip AFP, perkiraan kemungkinan penerapan CBS minggu depan menyebabkan spekulator menahan diri. Ada keyakinan rupiah akan meningkat, dan rupiah juga tidak banyak dilempar ke pasar.

Dolar Singapura ditutup pada 1,62 15 dari 1,6235, ringgit Malaysia menjadi 3,6200 dari 3,6750, peso Filipina menjadi 39,62 dari 39,85, dolar Taiwan menjadi 31,96 dari 32,09 dan won Korsel menjadi 1.582 dari 1.633. Baht Thai melemah pada 43,05/dolar AS dari 43,00 hari Jumat (27/2).

Dealer lainnya menilai perdagangan rupiah akan terus menguat karena berkurangnya transaksi antar bank sementara tingkat suku bunga juga tampaknya akan terus melemah hingga berakhirnya SU MPR, 11 Maret.

“Rupiah akan terus berada dalam kisaran 8.300-9.100 per dolar AS sebelum 11 Maret. Likuiditas ketat. Dengan volume perdagangan yang kecil, kerugian dapat menjadi amat besar jika kita melawan kecenderungan pasar.” kata Ishak Ismail, analis pasar pada lembaga riset IDEA kepada Reuters.

Puas

Pengamat pasar modal Jasso Winarto yang juga Direktur Eksekutif Sigma Research Institute Inc kepada Kompas mengatakan, investor cukup puas terhadap pidato Presiden yang dinilai cukup obyektif.

“Obyektif dalam arti mengakui pertumbuhan yang rendah, gejolak belum bisa diatasi, Indonesia tetap memerlukan bantuan Dana Moneter Internasional, dan yang paling penting pidato Presiden mengesankan tidak mengkambing hitamkan satu pihak dalam krisis ini.” katanya.

Ia menambahkan, salah satu hal yang cukup melegakan investor adalah pernyataan Presiden Soeharto yang siap melakukan apa saja untuk mengatasi krisis ini. Dan apa pun yang dilakukan untuk mengatasi krisis. Indonesia akan tetap bergandengan dengan IMF.

“Ini yang melegakan investor, karena menurut persepsi investor hanya dengan program IMF yang menjalankan secara konsisten, bukan sekadar omongan yang bisa menolong Indonesia lepas dari krisis ini.” katanya.

Hal lain, kata Jasso, pidato Kepala Negara itu juga mengesankan bahwa penerapan sistem Dewan Mata Uang (CBS) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah akan dilaksanakan secara hati-hati, tidak tergesa-gesa.

“Soalnya persepsi pasar selama ini, seolah-olah CBS itu akan diadopsi mentah-mentah dan segera untuk menstabilkan rupiah. Bahkan ada anggapan bahwa Pak Harto akan melepaskan IMF demi menerapkan CBS yang dianggap paling ampuh menstabilkan kurs rupiah.” ujar Jasso.

Karena itu, menurut Jasso, perusahaan-perusahaan yang utang luar negerinya cukup besar, mulai mendapat sentimen investor.

Sumber : KOMPAS (03/03/1998)

______________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 716-718.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.