PONDOK PESANTREN ADALAH LEMBAGA PENDIDIKAN AGAMA KHAS INDONESIA

PONDOK PESANTREN ADALAH LEMBAGA PENDIDIKAN AGAMA KHAS INDONESIA [1]

 

Jakarta, Berita Buana

Berkat inayah dari Allah S.W.T pada hari Ahad, tanggal 11 Januari 1976, mulai jam 08.10 pagi telah berlangsung dengan selamat upacara peresmian pesantren putera As-Syafi’iyah di Jatiwaringin diatas tanah seluas 40.000 m2 dan peletakan batu pertama pembangunan pesantren puteri As-Syafi’iyah seluas 30.000 m2, berseberangan jalan dengan pesantren putera.

Walaupun cuaca bulan Januari sering hujan dan becek, namun tidak mengurangi arus pengunjung yang menuju ke tempat upacara. Diperkirakan sekitar 50.000 orang yang sejak pagi telah memenuhi arena upacara. Para pengunjung umum terpaksa memparkir kendaraannya disekitar Pondok Gede dan berjalan kaki sejauh 3 km.

Diantara hadirin terdapat para Menteri Kabinet Pembangunan, yaitu Menteri PUTL. Ir. H Sutami, Menteri Agama Prof. Dr. H.A. Mukti Ali dan pejabat yang mewakili Menteri Dalam Negeri. Tampak pula diantara hadirin Jendral Dr. Abdul Haris Nasution, Prof. Dr. HAMKA, Ketua Majlis Ulama Indonesia, Prof. H. Osman Ralihy, H. Yunan Nasution dari Dewan Da’wah Islamiyah. Dari ibu-ibu tampak hadir Ny. Adam Malik, Ny. Mukti Ali dan Ny. Ali Sadikin.

Peresmian pesantren putera dilakukan dengan takbir sebanyak 21 kali yang diikuti oleh para hadirin dengan suara gemuruh. Takbir diselingi dengan do’a yang dikutip dari ayat-ayat Al Qur ‘anulkariem dengan dipimpin langsung oleh K.H. Abdullah Syafi’ie, Pimpinan Umum Perguruan As-Syafi’iyah.

Menteri Dalam Negeri H. Amir Machmud dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Drs. H. Faisal Tamin menyatakan bahwa kewajiban pendidikan agama dewasa ini tidak hanya ditujukan kepada pendidikan agama saja, tapi juga ditujukan untuk pendidikan praktis yang menyangkut dengan liku-likuk kehidupan dewasa ini sebagai jawaban dari kemajuan ilmu dan teknologi modern.

Menteri Agama dalam sambutan singkatnya menyatakan bahwa telah menjadi kebiasaan pembangunan pondok pesantren dipelopori oleh para wali murid dan para dermawan lainnya. Ternyata pesantren merupakan lembaga pendidikan Agama yang khas Indonesia dan ternyata banyak jasanya dalam pembibitan Ulama dan pemimpin umat.

Oleh karena itulah, menurut menteri, Presiden Soeharto menaruh perhatian yang besar terhadap pembangunan pesantren. Menteri juga menyatakan bahwa Presiden Soeharto membantu penyelesaian pesantren ini sejumlah Rp. 20 juta rupiah yang dapat segera direalisir.

Menteri PUTL. Ir. H. Sutami dalam sambutannya menyatakan bahwa maksud dari tujuan pesantren hendaklah disangkutkan dengan pembinaan generasi mendatang yang dewasa ini menjadi program utama pemerintah. Diharapkan pesantren As-Syafi ‘iyah dapat mengarahkan program pendidikannya kearah itu. Menteri dalam kesempatan ini telah ikut menyumbang dengan pengadaan instalasi listrik berikut dieselnya untuk 15.000 watt beserta instalasi air minum diseluruh komplek pesantren.

Jenderal Dr. Abdul Haris Nasution menyatakan dalam sambutannya bahwa dewasa ini kita kekurangan sarana dan prasarana pendidikan. Untuk ini tidak semuanya dapat dicukupi oleh pemerintah, tapi swadaya masyarakat sangat diharapkan. Di Mesir dan negara2 maju lainnya swadaya masyarakat memegang peranan utama. Banyak universitas yang dibangun dan dibiayai oleh masyarakat. Hal ini hendaknya dapat ditrapkan dilingkungan Perguruan As-Syafi’ iyah. Berbicara tentang program pendidikan pesantren, Jenderal Nasution mengungkapkan bahwa yang paling penting adalah pendidikan akhlaq untuk membina insan yang bertaqwa, kemudian barulah pendidikan intelek, sehingga lulusannya menjadi manusia intelek yang bertaqwa.

Ketua Majlis Ulama Indonesia, Prof. Dr. Hamka dalam sambutannya menyitir ucapan seorang tabi’ien bahwa banyak pejuang yang ditangannya tidak ada pedang. Dan pejuang tanpa pedang itu menurut Hamka, adalah Ulama. Dikatakan juga bahwa pekerjaan besar, seperti membangun pesantren ini, bagi orang yang berjiwa besar adalah pekerjaan kecil. Sebaliknya pekerjaan kecil bagi orang yang berjiwa kecil akan merupakan pekerjaan besar. Hamka membandingkan pendidikan Ulama dengan menanam pohon jati susah tumbuhnya dan lama baru dapat diambil hasilnya. hal itu banyak tergantung pada kesabaran, kecerdasan serta ketahanan fisik dan mental. Disinggung pula bahwa penjajah Belanda secara sengaja memisahkan pendidikan Agama dengan pendidikan umum, sehingga dihasilkan lulusan pendidikan agama yang tidak memahami soal-soal kemajuan dan kenegaraan dan dipihak lain lulusan pendidikan umum yang tidak mengerti agama. Oleh karena itu Perguruan As-Syafi’iyah hendaklah berusaha untuk menjembatani jurang pemisah ini. Kita menghendaki Ulama yang intelek dan para intelektuil yang beragama. Prof Dr. Hamka juga mengatakan bahwa Indonesia benar-benar 350 tahun dijajah oleh Belanda, namun cahaya Islam tidak pudar, berkat pimpinan Ulama.

K.H. Abdullah Syafi’ie, Pimpinan Umum Perguruan As-Syafi’iyah mengemukakan dalam kesempatan ini bahwa mengingat mahalnya biaya pendidikan, sehingga bagi keluarga miskin tidak mampu menyekolahkan anaknya di pesantren, dikandung niat untuk membangun pesantren khusus untuk mereka yang tidak mampu.

Peletakan batu pertama pembangunan pesantren puteri, yang dipimpin oleh H. Tutty Alawiyah AS, dilakukan oleh sejumlah ibu-ibu antara lain Ny. Nelly Adam Malik, Ny. Mukti Ali dan Drg. Ny. Nani Ali Sadikin. Diharapkan pesantren ini akan selesai dalam waktu yang tidak lama. (DTS)

Sumber:  BERITA BUANA (13/06/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 167-169.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.