PMA DI BIDANG INFRASTRUKTUR DORONG INDUSTRI PERMESINAN

PMA DI BIDANG INFRASTRUKTUR DORONG INDUSTRI PERMESINAN[1]

 

Jakarta, Antara

Penanaman Modal Asing (PMA) pada sektor penyediaan infrastruktur dapat mendorong kemajuan industri permesinan nasional jika produsen barang modal yang merupakan bagian dari industri permesinan nasional mampu meningkatkan daya saing produknya.

Menurut Menteri Perindustrian, Tunky Ariwibowo yang ditemui seusai acara pembukaan Forum lnfrastruktur Asia 1994 di Jakarta, Senin, para pemodal asing itu sendiri pasti berupaya untuk mendapatkan barang-barang modal yang dibutuhkan dengan memprioritaskan produk-produk yang tersedia di dalam negeri.

“Hal itu ‘kanterkait dengan penekanan biaya produksi yang kemungkinannya lebih besar terjadi apabila mendapatkan barang modal dari dalam negeri ketimbang dari negara lainnya,” kata Tunky menegaskan.

Namun, katanya, para pemodal asing itu tidak gegabah dalam menentukan barang-barang modal yang dibutuhkan tanpa memperhatikan mutu dan harga jualnya, sehingga, hal itu harus dilihat oleh para pengusaha nasional sebagai tantangan untuk meningkatkan daya saing produk yang dihasilkannya.

Jadi, masuknya investasi asing khusus dalam sektor penyediaan infrastruktur itu tidak hanya menjadi faktor penting dalam pertumbuhan sektor usaha yang memerlukan infrastruktur sebagai landasan operasional kerja, tetapi juga berpengaruh positif bagi industri-industri yang diharapkan dapat mensuplai kebutuhan pembangunan infrastruktur itu sendiri. Peluang usaha yang dijelaskan oleh Tunky itu juga disadari oleh pengusaha nasional, namun menurut Dirut PT. Bukaka Teknik Utama (BTU),Fadel Muhamamd yang juga menghadiri acara yang sama, peluang tersebut menghadapi banyak hambatan yang terkadang bersifat non teknis. Menurut Fadel yang juga menjabat Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Industri, walaupun produk-produk dalam negeri sudah dapat dikatakan memiliki daya saing internasional, masih banyak pemodal asing yang berusaha mempergunakan produk-produk dari negara asal yang dikatakannya sebagai alasan politis.

“Jadi, tidak bisanya produsen barang modal dalam negeri mensuplai pembangunan suatu proyek infrastruktur yang dimodali oleh asing maupun pemodal dalam negeri tidak semata-mata karena ketidakmampuan dunia usaha nasional,”kata Fadel menegaskan.

Namun, sudah menjadi keharusan bagi pengusaha nasional untuk tetap optirnis dan melihat peluang usaha yang disebutkan Tunky sebagai peluang yang dapat saja diraih dengan berbagai upaya.

Lebih Berperan

Memanfaatkan masuknya modal asing ke dalam negeri untukmemajukan dunia usaha nasional meman g telah menjadi pembicaraan utama para pengusaha nasional. Dirut PT. Telkom, Setyanto P.Santosa menilai, peluang-peluang itu hanya dapat direalisasi apabila peran swasta nasional lebih besar yang pada akhirnya mampu menguasai sebagian besar pasar nasional.

“Upaya merebut pasar nasional yang lebih besar itu merupakan kekuatan sendiri untuk meyakinkan pemodal asing tentang daya saing produk nasional,” katanya.

Dia menyebutkan, peluang investasi dalam penyediaan infrastruktur di dalam negeri selama Pelita VI seperti yang dikatakan oleh Presiden Soeharto pada pembukaan Forum Infrastruktur Asia 1994 itu mencapai nilai 50 miliar dolar AS, dan khusus dalam bidang telekomunikasi sebesar enam miliar dolar AS.

Peluang investasi itu sebagian besar diharapkan dapat dilakukan oleh pihak swasta, baik dalam maupun luar negeri mengingat kemampuan pemerintah sangat terbatas.

Dia mencontohkan, dalam penyediaan lima juta satuan sambungan telepon (SS1) dalam Pelita VI, pembangunan dua juta SST diantaranya akan dilakukan oleh pemerintah, sedangkan tiga juta SST lainnya diharapkan dapat dilakukan oleh swasta. Peluang itu, kata Setyanto, harus dilihat oleh pengusaha nasional sebagai peluang yang lebih besar dalam arti tidak hanya terpaku pada nilai investasi pada tiga juta SST, tetapi juga sektor-sektor lain yang merupakan sektor penunjang penyediaan SST itu sendiri.

“Pekerjaan kabel sebagai bagian dari pembangunan SST itu ‘kan tidak mungkin dilakukan oleh pengusaha asing melainkan oleh pengusaha nasional ,”katanya . (FAC-PE05/SU05/B/EU07/RB1!17/10/9416:38)

Sumber:ANTARA(17/10/1994)

______________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVI (1994), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 390-391.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.