PM Lubbers Menemui Presiden Soeharto BELANDA INGIN BUKA LEMBARAN BARU HUBUNGAN DENGAN INDONESIA

PM Lubbers Menemui Presiden Soeharto BELANDA INGIN BUKA LEMBARAN BARU HUBUNGAN DENGAN INDONESIA

 

 

Rio de Janeiro, Pelita

Perdana Menteri BeIanda Ruud F.M. Lubbers ketika menemui Presiden Soeharto di Rio de Janeiro, Jum’at, menyatakan tekadnya untuk membuka lembaran baru dalam hubungan Indonesia-Belanda dan akan “lebih memandang ke depan ketimbang memandang ke belakang”.

Kepala pemerintahan Kerajaan BeIanda itu juga menyatakan optimis terhadap masa depan hubungan kedua negara, mengingat perkembangan akhir-akhir ini setelah Indonesia meminta penghentian bantuan ekonomi Belanda, kata Mensesneg Moerdiono kepada wartawan Jum’at tengah malam ketika menjelaskan pertemuan kedua pemimpin tersebut.

PM Lubbers juga menyatakan, ingin menjadikan pengalaman masa lampau sebagai pelajaran Untuk masa datang. Pertemuan antara Presiden Soeharto dan PM Lubbers dilakukan di sela-sela kesibukan mereka menghadiri KTT Bumi. Keduanya Jum’at sore mendapat giliran berpidato di depan sidang pleno tingkat tinggi.

Presiden Soeharto menjelaskan kepada pemimpin BeIanda itu prinsip Indonesia hidup berdampingan secara damai dan kerjasama berdasarkan saling menghonnati dan tak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing.

Dalam hubungan itu Presiden menekankan arti penting hubungan Indonesia­Belanda. Tindakan Indonesia di masa lalu, menurut Presiden Soehatio, justru untuk meningkatkan hubungan jangka panjang . Ganjalan yang ada perlu dihilangkan waktu menjalin kerjasama dan hubtmgan yang lebih langgeng, kata pemimpin Indonesia itu.

Ia juga memandang kedua negara punya peluang besar untuk meningkatkan hubungan kerjasama di segala bidang. Di bidang ekonomi, misalnya, Presiden Soeharto menyatakan, penting untuk meningkatkan perdagangan bilateral, sebab selama ini ekspor dari Indonesia ke pasaran Eropa cukup besar melalui Belanda.

Arus wisatawan dari Belanda juga disebut Presiden Soeharto punya peranan penting dalam meningkatkan devisa Indonesia serta meningkatkan saling pengertian di antara kedua bangsa.

Jum’at siang itu Presiden Soeharto juga menerirna PM India Narashima Rao dan tokoh Afrika Yulius Nyerere yang pembicaraarmya dipusatkan pada masalah Gerakan Non Blok serta persiapan KTT gerakan itu di Jakarta, September tahun ini.

 

Dapat Aplaus Besar

Presiden Soeharto dalam sidang pleno tingkat tinggi KTT Bumi mendapat kesempatan ke-22 untuk menyampaikan pidatonya. Dalam forum yang dihadiri 60 kepala negara dan kepala pemerintahan itu hanya Presiden Soeharto yang mengucapkan basmalah secara jelas.

Ia mengucapkan pidatonya dalam bahasa Indonesia, tetapi secara simultan isi pidatonya diterjemahkan ke tujuh bahasa asing melalui earphone sehingga semua delegasi dapat memahami apa yang diucapkan pemimpin Indonesia itu.

Pidato Presiden Soeharto, antara lain mengusulkan pembentukan suatu badan PBB untuk melaksanakan dan menjamin terlaksananya semua keputusan dan kesepakatan KTT Bruni cukup mendapat aplaus dari hadirin, demikian dilaporkan dari Riocentro tempat KTT itu berlangsung.

 

Prinsip Perlindungan

Setelah berbulan-bulan berbeda pendapat, delegasi-delegasi KTT Bumi hari Jumat menyepakati serangkaian prinsip untuk melindungi hutan bumi, kata para perunding.

Persetujuan tersebut, yang menekankan usaha-usaha mempertahankan dan meningkatkan hutan serta menciptakan lingkungan yang baik di tanah yang tidak produktif, tidak sesuai dengan tujuan utama AS yang mengajukan ketetapan internasional mengenai kehutanan.

Organisasi -organisasi pecinta lingkungan hidup mengecam persetujuan itu karena persetujuan tersebut tidak mengikat, namun para perutusan mengatakan, perundingan itu banyak diwamai perbedaan pendapat sehingga belum ada satu pun perjanjian yang dicapai.

“Ini merupakan awal yang penting kendati kita belwn mencapai sesuatu,” ujar David Payton, Menteri Hubungan Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru.

Persetujuan itu mengakui hak tiap negara tmtuk mengelola hutannya sendiri dan kontribusi yang didapat dari penghijauan hutan.

Negara-negara maju mengancam negara-negara miskin seperti Brazil karena merusak hutannya sendiri. Namun negara-negara berkembang menekankan bahwa penduduk negara miskin terpaksa menebang hutan untuk menyambung kehidupan mereka dan tidak menghendaki usaha negara -negara kaya untuk mendikte mereka.

 

Sumbangan EC

Sementara itu, Masyarakat Eropa (EC) beranggotakan 12 negara sepakat memberikan dana sekitar empat miliar dolar untuk membiayai proyek-proyek pembangunan berwawasan lingkungan di dunia ketiga, kata pejabat-pejabat EC di Rio de Janeiro hari Jum’at.

Marcel Debarge, Wakil Menteri Kerjasama dan Pembangunan Perancis, mengemukakan bahwa persetujuan EC itu yang dicapai Kamis malam mengikat masyarakat tersebut untuk memberikan tiga miliar ECU (Euro Currency Unit) atau sekitar empat miliar dolar “secepatnya”.

Ia menyebut, dana EC itu sebagai “langkah penting untuk membiayai Agenda 21”, cetak biru 800 halaman bagi aksi lingkungan hidup global sampai abad berikutnya.

 

AS Tak Minta Maaf

Presiden AS George Bush bertemu dengan aktivis-aktivis lingkungan hidup hari Jumat, namun tidak menyampaikan permintaan maaf, karena kebijakan lingkungan hidupnya yang mengucilkan AS dari sebagian besar negara dalam KTT Bumi.

Bush mengadakan pertemuan pribadi dengan para pemimpin lingkungan hidup, termasuk Jacques Cousteau, pakar penjelajah bawah laut dan Perancis, dan para pejabat Dana Lingkungan Hidup dan Dana Perlindungan satwa Dunia.

Ia mengikuti sidang pembukaan dan mendengarkan pidato para pemimpin dunia-mulai dari Perdana Menteri Inggris John Major sampai pemimpin Kuba Fidel Castro-yang mengemukakan pendapat mereka mengenai masa depan lingkunganhidup.

Bush menyerukan kontribusi dari negara-negara industri untuk mencegah perusakan hutan di dunia berkembang. Namun gagasan itu ditolak para pemimpin dunia ketiga yang mengatakan. AS seharusnya lebih mengkhawatirkan pengawetan hutan mereka sendiri.

 

Jepang Lipat gandakan Bantuan

Jepang menyatakan akan meningkatkan bantuan resminya bagi program lingkungan hidup sebesar 50 persen . Hal itu diungkapkan beberapa saat sebelum penutupan KTT Bumi, Sabtu.

Kesediaan Jepang itu memberikan angin segar pada akhir KTT, yang dinilai merupakan upaya untuk menyelamatkan dunia dari malapetaka lingkungan. Disamping itu, langkah itujuga dianggap kemajuan, karena selama ini bangsa-bangsa di dunia sangat sedikit sekali perhatiannya pada lingkungan.

Negara-negara miskin di selatan tidak senang dengan komitmen negara-negara kaya untuk membantu mengembangkan lingkungan yang sehat. “Kami selama jangka waktu lama tak diuntungkan, waktu rupanya tak pemah berpihak pada kami,” kata Presiden Bostwana Questi Masire.

Pengumuman Jepang itu terkandung dalam pidato tertulis oleh PM Kiichi Miyazawa yang mengatakan. Jepang akan memperl uas bantuannya untuk lingkungan antara 900 miliar yen hingga satu triliun yen selama lima tahun. Jika dikurs dengan dolar saat ini, bantuan itu menjadi antara 7 miliar dolar hingga 7,7 milliar dolar, jumlah terbesaryang dijanjikan sebuah negara dalam KTT Bumi.

Miyazawa sendiri tidak bisa hadir dalam KTT itu, karena semakin serunya “pertempuran” dalam parlemen Jepang mengenai RUU yang memungkinkan Jepang mengirimkan pasukan beladirinya ke luar negeri.

 

 

Sumber : PELITA (15/06/1992)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 140-143.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.