PLN BELUM PUTUSKAN PENURUNAN HARGA JUAL LISTRIK CEPA

PLN BELUM PUTUSKAN PENURUNAN HARGA JUAL LISTRIK CEPA[1]

 

Ujungpandang, Antara

PLN belum memutuskan usulan PT. Consiladated Electric Power Asia (CEPA)

Indonesia mengenai penurunan harga jual listrik PLTU Tanjung Jati B dari 7,35 sen dolar AS per kWh sesuai kontrak jual beli listrik (Power Purchasing Agree ment-PPA) menjadi 6,45 sen dolar AS per kWh.

“Kita sudah terima usulan penurunan harga jual listrik PLTU Tanjung Jati B, namun belum diputuskan apakah usulan tersebut diterima atau tidak.” ujar Direktur Perencanaan PT. PLN Ir. P. Sihombing, saat menghadiri pemancangan tiang listrik pedesaan di Ujungpandang, Jumat.

Belum diputuskannya penurunan harga jual listrik PLTU yang berlokasi di Jepara, Jawa Tengah, kata Sihombing, karena PLN masih menunggu keputusan pemerintah tentang usulan pembatalan kontrak jual beli listrik Tanjung Jati B yang kini berada di tangan Presiden.

Pihak CEPA selaku kontraktor PLTU Tanjung Jati B, lanjutnya, boleh-boleh saja membuat usulan penurunan harga tersebut. Namun, pihaknya belum dapat memutuskan karena surat pembatalan kontrak sudah diajukan kepada pemerintah melalui Menteri Pertambangan dana Energi Ida Bagus Sudjana.

Mentamben sendiri menyatakan bahwa usulan PLN itu sudah ditemskan kepada Presiden Soeharto. Dan Presiden yang mempunyai wewenang untuk menerima atau tidak usulan PLN tersebut.

Hak PLN

Sihombing mengatakan, PLN berhak mengajukan usulan pembatalan kontrak, walaupun sudah ditandatangani karena pihaknyalah yang nantinya akan membeli listrik itu.

“Kalau orang jual, lalu tidak ada yang beli bagaimana.” ujarnya.

Namun, tegas Sihombing, yang paling berwenang memutuskan semua ini adalah pemerintah. Dan apapun keputusannya akan dilaksanakan oleh BUMN di lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi itu.

Ia tidak merinci penyebab usulan PLN diajukan kepada pemerintah. Ia juga mengatakan, pemberitaan tentang PLTU Tanjung Jati B di berbagai media masa sampai saat ini masih benar sesuai fakta dan prosedur yang berlaku.

Konsorsium CEPA Indonesia yang bermarkas di Hong Kong akan membangun PLTU swasta berkapasitas 2 x 660 MW yang berlokasi di desa Bondo, Jepara, Jateng.

Presdir PT. CEPA Indonesia, Djan Faridz, Senin lalu (29/7) menyatakan, pembangunan PLTU Tanjung Jati B akan berjalan sesuai rencanayaitu akhir 1998 karena peruntukan lahan bagi proyek listrik itu telah berhasil dibebaskan.

Pihaknya telah menunjuk kontraktor utama untuk pembangunan PLTU Tanjung Jati B yaitu Sumitomo Ltd. Sementara dari segi pendanaan, Faridz menegaskan tak ada masalah, karena pihaknya sudah mendapat dukungan dari Sumitomo dan sindikasi tujuh bank yang dipimpin Citibank.

Kini pihaknya tinggal menunggu Financing Closing (jaminan pendanaan) yang dikeluarkan PLN. Investasi untuk PLTU itu sebesar US$1,77 miliar.

CEPA dikabarkan belum merealisasi pembangunan PLTU Tanjung Jati B antara lain karena belum berhasil membebaskan lahan. Selain itu, harga listrik yang dijual oleh perusahaan PMA asal Hong Kong tersebut dinilai terlalu mahal.

Djan Faridz membantah bila harga jual listrik PLTU Tanjung Jati B dinilai mahal, sebab perusahaannya telah menurunkan harga dari 7,39 sen dolar AS menjadi 6,45 sen dolar AS per kWh. Dengan penurunan itu PLN sudah menghemat 87,46 juta dolar AS atau Rp 201 miliar/tahun.

Ia menambahkan keberanian CEPA menurunkan harga jual listrik PLTU Tanggung Jati B antara lain karena menurunnya pajak penghasilan (PPh) dari 35% menjadi 30%. Selain itu, ada beberapa bagian biaya yang bisa ditekan.

Sumber : ANTARA (02/08/1996)

_________________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 373-375.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.