PIMPINAN DPR: DEMI PERSATUAN, PRESIDEN SEBAIKNYA MUNDUR

PIMPINAN DPR: DEMI PERSATUAN, PRESIDEN SEBAIKNYA MUNDUR[1]

 

 

Jakarta, Republika

Tuntutan reformasi masyarakat akhirnya dijawab Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ketua DPR/MPR Harmoko, atas nama para pimpinan badan legislatif itu kemarin mengharapkah agar Presiden Soeharto mundur dari jabatan.

“Pimpinan dewan, baik Ketua maupun wakil-wakil ketua mengharapkan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar presiden secara arif dan bijaksana mengundurkan diri,” kata Harmoko dalam keterangan persnya selama lima menit mulai pukul 15 .15 WIB di Gedung DPR/MPR Senayan. Dan keputusan Harmoko pun sontak disambut tepuk tangan segenap yang hadir.

Dalam jumpa pers tersebut Harmoko didampingi empat wakil ketua DPR/MPR yakni Syarwan Hamid, Abdul Gafur, Ismail Hasan Metareum, dan Fatimah Achmad, serta Sekjen DPR, Afif Ma’roef. Pimpinan DPR juga menyerukan agar seluruh masyarakat tetap tenang, menahan diri, menjaga persatuan dan kesatuan. Kita mewujudkan keamanan dan ketertiban agar segala sesuatunya berjalan konstitusional. Usai jumpa pers Harmoko langsung memasuki ruang kerjanya bersama para wakil ketua dewan.

Untuk segera memproses lengser-nya. Pak Harto, rencana hari ini Harmoko mengadakan rapat pimpinan dengan fraksi-fraksi untuk mengambil keputusan. Dan tampaknya, fraksi-fraksi memberikan dukungan upaya pimpinan DPR tersebut.

Ketua FPP DPR Hamzah Haz saat menjawab pertanyaan pers di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa fraksinya telah minta kepada pimpinan Dewan agar diadakan sidang istimewa.

“Permintaan kita didasarkan pada apa yang kita rekam. Memang, Pak Harto kita minta mengundurkan diri. Itu intinya,” kata Hamzah.

Sebanyak 33 anggota FPP DPR, katanya, telah menandatangani pernyataan tersebut, setelah memperhatikan aspirasi PBNU, PP Muhammadiyah, ICMI, kalangan perguruan tinggi, dan masyarakat.

Fraksi PDI pun sudah mengambil sikap. Ketua FPDI Budi Hardjono menegaskan pihaknya tidak ingin memberi beban kenegaraan kepada Pak Harto.

“Karenanya kami minta pertimbangan Pak Harto untuk mengundurkan diri atau lengser keprabon dengan penuh hormat dan dilaksanakan secara konstitusional.”

Menurutnya, PDI berprinsip tetap menganut mikul duwur mendhemjero .

“Artinya Fraksi PDI tetap akan menghormati orang yang telah berjasa besar kepada bangsa dan negara,” katanya seusai berdialog dengan 20 mahasiswa yang tergabung dalam Forum Magister Manajemen di DPR, kemarin.

Hingga petang kemarin, FABRI belum mengambil sikap. Namun, ketika menerima Gerakan Reformasi Nasional (GRN) pimpinan mantan Mentamben Subroto, Ketua FABRI Letjen TNI Hari Sabamo menyatakan bahwa permintaan agar Presiden Soeharto mengundurkan diri serta diadakannya Sidang Istimewa MPR bisa dilaksanakan.

“Sepanjang itu yang terbaik bagi rakyat dan dikehendaki rakyat.”

GRN yang dipimpin mantan Mentamben Soebroto, menuntut kepada DPR agar segera menarik mandat yang diberikan kepada Jenderal Besar M. Soeharto sebagai presiden.

“Semua harus melalui proses. Yang jelas, permintaan saudara-saudara akan kami tindak lanjuti,” jawab Hari.

Sedangkan anggota FKPjustru lebih maju. Pagi kemarin 20 anggota FKP dalam pernyataannya mendesak agar pimpinan DPR memutuskan diadakannya sidang istimewa MPR untuk membicarakan masalah kepemimpinan nasional secara terhormat.

Pernyataan itu ditandatangani antara lain; Ariyadi Achmad, Usman Ermulan, M IqbalAssegaf, Kamaruddin Muhammad, Eki Syachruddin, Yanto, Priyo Budi Santoso, Fachri Andi Leluasa, Azhar Romli, MYahya Zaini, Gandjar Razuni, Zamharir AR, Hajriyanto, Abu Hasan Sazili, Ferry Mursidan Baldan, dan Laode M Kamaluddin.

Sebelum rapat pimpinan dewan, Wakil Ketua MPR/DPR Abdul Gafur dalam kapasitas selaku penasihat FKP menyatakan siap mengundurkan diri jika tuntutan masyarakat itu gagal dilaksanakan, termasuk mundurnya presiden.

“Kalau memang reformasi itu gagal, ya saya siap mengundurkan diri. Tapi kami yakin pasti berhasil,” katanya yakin.

ban/poy

Sumber: REPUBLIKA ( 19/05/1998)

_______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 347-348.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.