PIDATO PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN: NASIB KITA DI TANGAN KITA SENDIRI

PIDATO PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN: NASIB KITA DI TANGAN KITA SENDIRI[1]

 

 

Jakarta, Republika

Presiden Mandataris MPR Soeharto menegaskan di pundak bangsa Indonesia sendirilah terletak beban dan tanggungjawab. Keberhasilan atau ketidak-berhasilan dalam mengatasi krisis yang sedang dihadapi bangsa Indonesia sangat ditentukan oleh langkah-langkah kita sendiri.

“Sangat jelas, pada akhirnya nasib kita berada di tangan kita sendiri,” ujar Pak Harto saat menyampaikan pidato pertanggungjawaban Presiden Mandataris MPR di depan Sidang Umum MPR yang dipimpin Ketua MPR/DPR Harmoko, kemarin (1/3). “Kita sadar langkah-langkah itu pasti berat. Mungkin sangat berat dan menyakitkan.”

Dalam sidang yang dipimpin Ketua MPR Harmoko itu, Presiden  Soeharto membacakan naskah pidato setebal 30 halaman sekitar satu jam. Selain anggota MPR, hadir dalam sidang itu Wakil Presiden Try Sutrisno, para menteri Kabinet Pembangunan VI, duta besar negara sahabat, dan sejumlah undangan. Usai berpidato, kepala negara menyampaikan buku laporan dan pertanggungjawaban yang diterima Harmoko. Sore harinya, lima fraksi MPR membahas pertanggungjawaban yang disampaikan presiden tersebut.

Bangsa Indonesia, kata Presiden, harus yakin pada kemampuan diri sendiri. Bangsa Indonesia harus memusatkan seluruh kekuatan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Menurutnya, masing-masing pihak harus ikhlas berbagi beban seadil­-adilnya dalam mengatasi kesulitan ekonomi yang menimpa bangsa Indonesia.

Pak Harto menambahkan Pemerintah telah mulai melaksanakan dan akan terus melaksanakan program-program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan yang mendapat dukungan Dana Moneter Internasional. Selain itu juga dukungan keuangan dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan sejumlah negara lainnya. “Tapi, tanda-tanda perbaikan belum juga tampak,” katanya.

Keadaan perekonomian Indonesia, katanya, mengundang keprihatinan sejumlah kepala pemerintahan negara lain. Mereka memberi pandangan mengenai cara yang mereka anggap baik untuk mengatasi keadaan ini.

“Mereka juga memberi uluran tangan.Semuanya itu kita terima dengan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya. Saya tidak akan ragu sedikitpun melakukan apa saja untuk mengatasi keadaan, untuk meringankan beban kehidupan rakyat yang bertambah berat,” tuturnya.

Menurut Pak Harto, walaupun Pemerintah telah mempunyai dan mulai melaksanakan program-program reformasi dan restrukturisasi yang jelas dan mendasar, namun belum ada tanda-tanda keadaan bertambah baik.

“Malah keadaan kehidupan rakyat bertambah berat,” ucapnya.

Kepala Negara menuturkan secara menyeluruh nilai tukar rupiah tetap saja lemah.

Sebentar saja menguat, kemudian melemah lagi. Hari-hari terakhir ini nilai tukar satu dolar AS berkisar Rp9.000-Rp10.000. Akibatnya, kata Presiden, perusahaan­-perusahaan mengalami kesulitan besar dan menurunkan kegiatannya. Bahaya pengangguran mulai tampak. Harga barang impor atau barang produksi dalam negeri dengan komponen impor yang tinggi menjadi sangat mahal, termasuk harga obat­-obatan. Harga barang kebutuhan sehari-hari terdorong bertambah mahal pula.

Presiden merasakan betap sedihnya hati ibu-ibu rumah tangga dan keluarga-keluarga yang berpenghasilan rendah menghadapi harga-harga yang membumbung tinggi ini.

”Masyarakat gelisah. Kesalahpahaman sedikit saja telah menyulut kerusuhan yang lebih besar. Keadaan bertambah buruk, karena ada saja mereka yang mengail di air yang sedang keruh,” urainya.

Kunci utamanya, kata Pak Harto,adalah stabilisasi nilai tukar rupiah pada tingkat yang wajar. Selama hal itu belum tercapai, menurutnya, perbaikan keadaan belum akan terlihat dalam waktu dekat ini. ltulah sebabnya Presiden meminta IMF dan para kepala pemerintahan lainnya dapat membantu menemukan alternatif yang lebih tepat.

“Saya namakan konsep yang lebih tepat itu sebagai konsep IMF Plus,” papar Presiden.

Presiden mengaku sedang menimbang-nimbang dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian kemungkinan menerapkan Sistem Dewan Mata Dang (Currency Board System-CBS). Namun, kata Presiden, langkah apa pun yang akan diambil, memerlukan dukungan IMF sebagai lembaga keuangan dunia yang berwibawa dan mempunyai reputasi tinggi.

Hilangnya kepercayaan , disebut Presiden sebagai sumber utama berbagai masalah berat yang dihadapi sekarang ini.Dengan melaksanakan sungguh-sungguh program-program ini diharapkan pulih pula kepercayaan pelaku-pelaku ekonomi.

Presiden memaparkan sejak pertengahan kedua tahun lalu gelombang gejolak moneter datang menghantam.

“Seakan-akan semua yang kita bangun dengan susah payah, kadang-kadang dengan kepedihan dan pengorbanan tiba-tiba saja tergoyang­-goyang,” ujarnya.

Soal itu, kata Presiden, sebenarnya bukan tidak diketahui sebelumnya. Ia mengungkapkan, dirinya beberapa kali mengatakan bahwa mau tidak mau,suka tidak suka, siap tidak siap, bangsa Indonesia pasti merasakan pengaruhnya menjadi satu perekonomian dunia. Pengaruh itu datang lebih cepat dari yang diperkirakan, dan akibat-akibatnya jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

Menurut Presiden, krisis ini merupakan cobaan yang jauh lebih berat. Krisis keuangan ini ternyata lebih dalam, luas, dan lebih lama dari perkiraan  siapapun.

“Padahal waktu ini fundamental ekonomi kita cukup kuat,” katanya.

Pak Harto menambahkan, dunia internasional sangat sadar jika tidak benar cara menanganinya, maka krisis ini dapat berkembang menjadi krisis berskala global. Karena itu, langkah-langkah regional dan internasional telah dilakukan. Tapi, tegas Presiden pada akhirnya pemecahannya terletak di tangan masing-masing.

“Tekad kita sudah bulat untuk mengatasi masalah yang kita hadapi ini. Kita akan berjuang habis­-habisan untuk melepaskan diri dari krisis,” katanya.

Namun, lanjut Pak Harto, ternyata ketahanan ekonomi tidak cukup kuat menghadapi pukulan dari luar. Menurutnya, di samping pengaruh dari luar, sebagian dari kesulitan yang diderita hari ini adalah juga kelemahan dalam tubuh kita sendiri.

“Kita tidak perlu mencari kambing hitam. Juga tidak ada gunanya mencari kambing hitam. Jauh lebih berguna kita mawas diri dan mencari hikmah dari musibah ini,” katanya.

Dengan penuh kesadaran, ungkap Presiden, semua pihak harus berani melihat kelemahan dan kekurangan sendiri. Dari kelemahan itu dicari kekuatan. Dan jika berhasil menemukan kekuatan ini, maka tubuh bangsa akan lebih kuat. Berbagai kelemahan yang ada selama ini akan terkikis.

Presiden menilai tahun 1997 itu adalah tahun keprihatinan. Selain dilanda krisis moneter pada tahun tersebut mengalami kecelakaan di darat, laut dan udara yang datang silih berganti. Indonesia juga dilanda musim kering yang panjang. Lahan dari hutan terbakar. Akibatnya produktivitas tanaman pangan dan perkebunan menurun, urat nadi perekonomian mulai terganggu .

Untuk mengatasi keadaan saat ini,kata Pak Harto,telah diambil berbagai langkah pemulihan ekonomi. Langkah jangka pendek, mencukupi keperluan pangan dan obat­-obatan, serta menampung tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan. Dalam jangka yang lebih panjang, menyusun program-program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan.

“Kita harus memulihkan keadaan ekonomi dan moneter. Kita harus membangkitkan lagi ketahanan ekonomi kita.Tugas ini sangat berat,” kata Presiden.

“Tapi kita tidak berkecil hati. Kita memiliki kekuatan pengalaman dan semangat.”

Menurutnya, pemerataan merupakan segi penting dari pembangunan yang harus diwujudkan.

”Kita harus bersedia melakukan apa saja yang harus kita lakukan untuk membebaskan bangsa kita dari krisis ini. Dengan penuh kesadaran kita harus mengutamakan kepentingan nasional dan kepentingan bersama di atas kepentingan kita masing-masing. Dengan hati mantap seperti itu,bangsa kita pasti dapat mengatasi semua ujian berat yang sedang kita hadapi. Selanjutnya kita dapat meneruskan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila,” katanya.

gun/dam

Sumber: REPUBLIKA  (02/03/1998)

__________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 93-96.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.