PIDATO PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN/MANDATARIS MPR RI DI DEPAN SIDANG UMUM MPR RI 1 MARET 1998

PIDATO PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN/MANDATARIS MPR RI DI DEPAN SIDANG UMUM MPR RI 1 MARET 1998[1]

 

Langkah apapun yang akan kita ambil, kita memerlukan dukungan IMF sebagai lembaga keuangan dunia yang berwibawa dan mempunyai reputasi tinggi. Sangat jelas pada akhirnya nasib kita berada di tangan kita sendiri.

 

Jakarta. (Media Indonesia)

SAUDARA KETUA, para Wakil Ketua dan para Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat yang saya hormati.

Para undangan dan hadirin yang terhormat. Saat ini, dengan hati yang setulus­ tulusnya, saya akan melaksanakan tugas konstitusional Presiden Republik Indonesia, menyampaikan pertanggungjawaban kepada Majelis.

Lima tahun yang lalu saya berdiri di sini mengucapkan sumpah jabatan Presiden. Saya berjanji dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.

Saya berjanji untuk memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya.

Saya berjanji untuk berbakti kepada Nusa dan Bangsa. Sumpah itu secara konstitusional saya ucapkan di depan Sidang Majelis. Saya merasa lega, karena hari ini saya dapat melaporkan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas Presiden itu kepada Majelis.

Sumpah itu melalui radio dan televisi didengar oleh rakyat Indonesia. Presiden diangkat oleh Majelis yang merupakan hasil pemilihan umum, yang mengumandangkan suara rakyat. Karena itu, Saudara Ketua yang terhormat, izinkan saya menggunakan kesempatan ini untuk melaporkan pertanggungjawaban ini kepada seluruh rakyat Indonesia.

Dengan keimanan yang dalam, sumpah jabatan lima tahun yang lalu itu saya ucapkan di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tahu. Semoga dalam menyampaikan pertanggungjawaban ini saya diberi-Nya kesadaran untuk melaporkan yang kurang itu memang kurang. Dan semoga saya diberi-Nya keyakinan untuk melaporkan yang baik itu memang baik.

Kalau saya pelajari semua ketetapan MPR tahun 93, khususnya GBHN, maka tugas utama yang diletakkan di pundak saya adalah memimpin bangsa ini dalam melanjutkan, meningkatkan, memperluas, memperbarui dan memperdalam pembangunan, demi kemajuan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Saya menyadari bahwa tugas itu bukan tugas yang ringan. Sebagai hasil kemajuan sebelumnya, rakyat kita mempunyai banyak harapan baru. Di hadapan kita terbentang kesempatan-kesempatan baru. Di depan kita terhampar tantangan-tantangan baru.

Harapan-harapan baru itu lebih tinggi dari harapan-harapan sebelumnya. Kesempatan-kesempatan baru itu lebih berat dan lebih rumit dari tantangan-tantangan sebelumnya.

Kita hidup pada zaman umat manusia bersiap-siap memasuki abad baru, abad ke-21. Selama lima tahun terakhir saya sering mengingatkan, bahwa kita hidup di tengah-tengah perubahan besar yang hakikatnya, sifatnya, dan jangkauannya acap kali belum dapat kita pahami sepenuhnya. Malahan, belum pernah kita bayangkan sebelumnya.

Menyadari beratnya tugas itu, saya memperhatikan sungguh-sungguh pesan penting dalam kalimat-kalimat terakhir GBHN’93. Di sana kita semua diingatkan bahwa berhasilnya pembangunan bangsa kita sangat tergantung pada ikut sertanya segenap kekuatan bangsa. Itulah sebabnya, dalam memimpin pemerintahan saya melanjutkan kebijaksanaan deregulasi dan debirokratisasi yang telah ditempuh sebelumnya. Tujuannya adalah untuk membangkitkan prakarsa dan kreativitas masyarakat dalam membangun dirinya menuju kemandirian yang tangguh.

Dalam menjalankan pemerintahan negara saya menyampaikan terima kasih kepada Dewan Perwakilan Rakyat yang selalu mengawasi pemerintah, khususnya melalui rapat kerja Komisi-Komisi Dewan dengan para Menteri sebagai pembantu Presiden. Melalui kesempatan ini, izinkan saya Saudara Ketua yang terhormat, menyampaikan terima kasih pula kepada Dewan Pertimbangan Agung yuang banyak memberi pandangan dan pertimbangan kepada Presiden dalam berbagai bidang kehidupan bangsa dan negara. Terima kasih juga saya ucapakan kepada Badan Pemeriksa Keuangan yang sesuai kehendak UUD selalu memeriksa tanggung jawab pemerintah dalam membelanjakan uang negara yang telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat melalui Undang-Undang APBN. Penghargaan dan terima kasih yang sama saya tujukan pula kepada Mahkamah Agung yang telah melaksanakan kekuasaan kehakiman yang merdeka, dalam arti terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah.

Lembaga-lembaga tinggi negara itu telah bekerja sama dengan baik, dengan masing-masing tetap memegang teguh wewenangnya yang ditentukan oleh UUD. Praktek penyelenggaraan negara yang demikian itu memberi sumbangan yang penting bagi terpeliharanya stabilitas nasional yang dinamis dan memperkaya pengalaman kehidupan konstitusional kita.

Ketetapan hati kita untuk terus meningkatkan kehidupan yang demokratis dan konstitusional kita wujudkan melalui pemilihan umum tahun lalu. Suhu politik cukup tinggi menjelang pemilihan umum yang lalu. Sebagian disebabkan karena ada di antara kita yang belum dewasa dalam menerapkan demokrasi, menggunakan secara keliru kebebasan dan keterbukaan. Ada pula yang ingin memaksakan kehendaknya dengan cara-cara yang justru merusak citra demokrasi dan malah melanggar hukum. Kita prihatin dan berduka cita atas jatuhnya korban jiwa. Dengan menyadari kekurangan­kekurangan yang harus kita perbaiki di masa datang, kita berbesar hati karena 9 dari 10 mereka yang berhak telah menggunakan hak pilihnya. Ini menunjukkan tingginya kesadaran politik rakyat kita. Penggunaan hak pilih rakyat kita itu jauh lebih besar dari negara-negara lain yang telah mempunyai tradisi politik ratusan tahun.

Pelaksanaan Dwifungsi ABRI yang tepat dan disesuaikan dengan perkembangan zaman memberi sumbangan besar terhadap stabilitas nasional yang dinamis, kesegaran kehidupan demokrasi, kematangan kehidupan politik serta terjaganya keselamatan negara dan keutuhan wilayah nasional. Dibanding dengan luasnya wilayah negara. Tanah Air kita yang terdiri dari belasan ribu pulau besar dan kecil serta besarnya jumlah penduduk, maka jumlah personel dan anggaran yang tersedia untuk ABRI sangatlah kecil. Ini jelas menunjukkan tradisi ABRI sebagai prajurit pejuang, yang mendahulukan pembangunan demi kesejahteraan rakyat daripada pembangunan untuk dirinya sendiri.

Di samping stabilitas nasional, pembangunan memerlukan situasi regional dan global yang mendukung. Sikap dasar politik luar negeri kita yang bebas aktif adalah, di satu pihak, memperkuat setiap perkembangan yang mendukung pembangunan bangsa-bangsa dan di lain pihak, mencegah meluasnya perkembangan yang menghambat pembangunan. Itulah sebabnya kita terus memperkukuh ASEAN. Kita mengambil peranan aktif dalam Gerakan Non Blok, dalam Kelompok 15, dalam Kelompok 8,dalam APEC, dalam PBB dan organisasi-organisasi internasional lainnya.

Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air ;

Demikianlah sampai pertengahan tahun lalu suasana umum di dalam negeri serta suasana regional dan internasional memberi dukungan yang baik bagi kelancaran dan kelanjutan pembangunan kita. Tetapi, ternyata tahun’97 adalah tahun keprihatinan bagi kita.

Tahun lalu kita mengalami kecelakaan di darat, di laut, dan di udara yang datang silih berganti. Urat nadi perekonomian kita mulai terganggu. Kita juga dilanda musim kering yang panjang. Lahan dan hutan kita yang terbakar sangat luas. Akibatnya adalah menurunnya produktivitas tanaman, terutama tanaman pangan dan perekebunan. Pada tahun’97 produksi padi, jagung, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, dan kacang hijau diperkirakan turun antara 1,3% sampai 5,6%. Bencana alam ini mengganggu angkutan dan ketersediaan pangan di sejumlah daerah. Tetapi, kita mendapat cobaan yang jauh lebih berat lagi. Seperti tiba-tiba saja datangnya, sejak pertengahan tahun lalu gelombang gejolak moneter datang menghantam.

Kawasan ini dilanda krisis keuangan. Kemudian ternyata krisis itu lebih dalam, lebih luas dan lebih lama dari perkiraan siapapun juga. Padahal, waktu itu fundamental ekonomi kita cukup kuat. Malah, banyak kalangan ahli yang menganggap merosotnya nilai rupiah kita sangat tidak wajar.

Krisis itu lalu menyebar di kawasan Asia Timur. Beberapa negara di luar Asia mulai merasakan akibat tidak langsung dari krisis ini.

Dunia Internasional sadar, bahwa jika tidak benar cara menanganinya, maka krisis ini dapat berkembang menjadi krisis yang berskala global. Langkah-langkah regional dan Internasional telah dilakukan. Tetapi pada akhirnya, pemecahannya terletak di tangan masing-masing negara.

Tekad kita sudah bulat untuk mengatasi masalah yang kita hadapi ini. Kita akan berjuang habis-habisan untuk melepaskan diri dari krisis. Dengan rasa terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kita terima bantuan dari lembaga-lembaga Internasional dan dari negara-negara sahabat. Semuanya itu jelas membantu upaya kita.

Namun, di pundak kita sendirilah terletak beban tanggungjawabnya. Langkah­langkah kita sendirilah yang menentukan keberhasilan atau ketidakberhasilan kita mengatasi krisis ini.

Kita sadar bahwa langkah-langkah itu pasti berat. Mungkin sangat berat dan menyakitkan. Kita harus yakin akan kemampuan kita sendiri. Kita harus memusatkan seluruh kekuatan kita untuk memecahkan masalah yang kita hadapi. Kita harus ikhlas berbagi beban seadil-adilnya di antara kita sendiri. Untuk menanggulangi krisis moneter ini, pada tanggal 15 Januari 98 yang lalu saya telah menulis surat kepada Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) disertai dengan program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan. Program ini mendapat dukungan IMF. Dukungan keuangan juga datang dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan sejumlah negara lainnya.

Tujuan pokok program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan kita ini adalah untuk memulihkan kepercayaan terhadap mata uang kita, terhadap lembaga­lembaga keuangan kita dan terhadap masa depan perekonomian kita. Memulihkan kepercayaan ini sangatlah penting.

Hilangnya kepercayaan itulah sumber utama berbagai masalah berat yang kita hadapi sekarang ini. Dengan melaksanakan sungguh-sungguh program-program itu diharapkan pulih pula kepercayaan pelaku-pelaku ekonomi di negeri sendiri maupun di luar negeri. Untuk menjamin pelaksanaan yang sebaik-baiknya dari program itu saya telah membentuk dan memimpin sendiri Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan. Sesuai dengan jadwal waktunya, sebagian program telah kita laksanakan dan sebagian lainnya menyusul kemudian.

Kita berbulat hati melaksanakan sepenuhnya program ini. Langkah segera yang telah kita ambil adalah merevisi Rancangan APBN 1998/99, yang sekarang telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat. Langkah berikutnya adalah melaksanakan program rehabilitasi perbankan dalam rangka membangun kembali sistem perbankan yang sehat. Program ini meliputi dua unsur utama. Yang pertama adalah penyediaan jaminan penuh oleh Pemerintah kepada seluruh nasabah deposan dan kreditor bank-bank umum nasional. Yang kedua adalah pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional, yang bertanggungjawab untuk memperbaiki bank-bank yang pada saat ini dalam kondisi tidak sehat dan tidak memiliki prospek yang baik untuk dipulihkan tingkat kesehatannya. Beberapa hari yang lalu saya telah menyetujui penggabungan 4 buah bank milik negara ; yaitu Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Pembangunan Indonesia, dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Bank baru sebagai hasil penggabungan itu diberi nama Bank Catur. Untuk menyehatkan dan memperkuat daya saing bank-bank swasta. Pemerintah telah menetapkan jumlah modal minimal dan mendorong penggabungan di antara mereka.

Langkah-langkah penting lainnya adalah memperlancar perdagangan luar negeri dan perdagangan dalam negeri, memperlancar penanaman modal, menghapus kemudahan-kemudahan khusus untuk Mobil Nasional dan Industri Pesawat terbang Nusantara.

Walaupun kita telah mempunyai dan mulai melaksanakan program-program reformasi dan restrukturisasi yang jelas dan mendasar, namun belum ada tanda-tanda bahwa keadaan bertambah baik. Malahan, keadaan kehidupan rakyat bertambah berat.

Secara menyeluruh nilai tukar rupiah kita tetap saja lemah. Sebentar saja menguat kemudian melemah lagi. Hari-hari terakhir ini tukar satu dolar Amerika berkisar antara Rp.9.000 sampai Rp.10.000. Akibatnya perusahaan-perusahaan mengalami kesulitan besara dan menurunkan kegiatannya. Bahaya pengangguran mulai tampak. Harga barang impor atau barang produksi dalam negeri dengan komponen impor yang tinggi menjadi sangat mahal termasuk harga obat-obatan. Harga barang kebutuhan hidup sehari-hari terdorong bertambah mahal pula.

Saya merasakan betapa sedihnya hati ibu-ibu rumah tangga dan keluarga-keluarga yang berpenghasilan rendah menghadapi harga-harga yang membumbung tinggi ini. Masyarakat gelisah. Kesalahpahaman sedikit saja telah menyulut kerusuhan yang lebih besar. Keadaan bertambah buruk karena ada saja mereka mengail di air yang sedang keruh.

Keadaan perekonomian kita bertambah berat, karena L/C kita tidak diterima oleh kalangan perbankan di luar negeri.

Keadaan perekonomian kita mengundang keprihatinan sejumlah kepala pemerintahan negara lain. Mereka berdatangan menemui saya. Beberpa lainnya lagi mengadakan pembicaraan telepon dengan saya. Mereka memberi pandangan mengenai cara yang mereka anggap baik untuk mengatasi keadaan kita. Mereka juga memberi uluran tangan. Semuanya itu kita terima dengan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya.

Saya tidak akan ragu sedikitpun melakukan apa saja untuk mengatasi keadaan, untuk meringankan beban kehidupan rakyat yang bertambah berat.

Saya telah mulai melaksanakan dan akan terus melaksanakan program-program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan yang mendapat dukungan IMF. Tetapi, tanda-tanda perbaikan belum juga tampak. Kunci utamanya adalah stabilisasi nilai tukar rupiah kita pada tingkat yang wajar. Selama ini belum tercapai, saya tidak dapat melihat perbaikan keadaan dalam waktu dekat ini. Itulah sebabnya saya meminta IMF dan para kepala pemerintahan lainnya kiranya dapat membantu kita menemukan alternatif yang lebih tepat.

Saya namakan konsep yang lebih tepat itu sebagai konsep IMF Plus. Saya sendiri sedang menimbang-nimbang dengan penuh ketelitian dan kehati­hatian kemungkinan menerapkan Sistem Dewan Mata Uang.

Langkah apapun yang akan kita ambil, kita memerlukan dukungan IMF sebagai lembaga keuangan dunia yang berwibawa dan mempunyai reputasi tinggi.

Sangat jelas, pada akhirnya, nasib kita berada di tangan kita sendiri. Mencari jalan keluar yang terbaik itu telah menjadi perbincangan yang luas di kalangan masyarakat kita. Dengan niat baik, saya menilai positif perbincangan itu. Ini adalah bagian yang dinamis dari proses demokrasi kita. Artinya, sebagai sikap melu handarbeni, rasa ikut memiliki masa depan bersama. Dengan minat yang penuh saya perhatikan semua pandangan yang dikemukakan. Saya mengajak kita semua agar jangan membesar-besarkan perbedaan pandangan, apalagi yang malah membingungkan masyarakat awam. Perbedaan pendapat jangan menjadi benih perpecahan di antara kita. Lebih-lebih, pada saat kita memerlukan persatuan yang sekuat-kuatnya diantara kita agar dapat bersama-sama keluar dengan selamat dari kemelut sekarang ini.

Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air ;

Untuk mengatasi keadaan, kita telah mengambil berbagai langkah pemulihan ekonomi. Langkah itu ada yang berjangka pendek, ada pula yang betjangka lebih panjang.

Langkah jangka pendek adalah mencukupi keperluan pangan dan obat-obatan, serta menampung tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan. Dalam jangka yang lebih panjang, kita menyusun program-program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan seperti yang tadi saya jelaskan.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan, kita mengurangi kehilangan hasil panen, meningkatkan mutu intensifikasi, memperluas areal tanam melalui pemanfaatan lahan tidur, meningkatkan pemanfaatan irigasi dan pasang surut, serta memanfaatkan lahan HTI untuk tanaman sela secara tupang-sari.

Upaya khusus meningkatkan produksi ini mencakup 2,3 juta hektare lahan padi, 540 ribu hektare lahan jagung, 527 ribu hektare lahan kedelai dan 14 ribu hektare lahan ubi kayu. Upaya ini akan kita lanjutkan dan kita perluas untuk memantapkan ketahanan pangan. Sementara upaya itu belum menghasilkan, untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga stabilitas harga kita mengimpor bahan-bahan pangan yang pokok itu.

Kebutuhan sangat penting lainnya bagi masyarakat adalah obat-obatan. Meskipun kita sudah memproduksi berbagai macam obat-obatan, namun bahan bakunya sebagian besar masih diimpor. Perubahan kurs mengakibatkan berkembangnya persediaan obat-obatan dan harganya bertambah mahal. Keadaan ini dapat menurunkan derajat kesehatan masyarakat. Guna memenuhi keperluan obat-obatan, maka impornya dipercepat dan kegiatan produksinya dipulihkan. Untuk menjamin kelancaran distribusi, untuk memberikan kepastian dan untuk menjaga stabilitas harga yang wajar, maka Pemerintah memberi subsidi untuk pangan maupun obat-obatan yang diimpor. Subsidi ini dibebankan pada anggaran negara.

Masalah pengangguran kita atasi dengan program padat karya. Program ini menciptakan lapangan kerja produktif bagi tenaga kerja musiman dan yang berketerampilan di pedesaan maupun perkotaan. Kegiatannya meliputi rehabilitasi atau pembangunan jalan kampung dan jalan desa, saluran irigasi, penyediaan air bersih, penghijauan dan penghutanan kembali, serta usaha-usaha produktif lainnya sesuai dengan keadaan dan keperluan masyarakat setempat. Pembukaan lapangan kerja selanjutnya diutamakan untuk mengembangkan kegiatan produksi dan agro industri pangan. Kegiatan ekonomi di bidang pertanian ini tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan nilai tukar mata uang, karena mengandalkan sumber-sumber yang kita miliki secara melimpah. Selain itu, sifat kegiatannya padat karya. Kita juga mengembangkan program untuk menampung tenaga kerja yang berketerampilan terutama untuk kawasan perkotaan. Titik beratnya pada pengembangan wirausaha, karena perusahaan-perusahaan diperkirakan belum bisa segera memperluas kesempatan kerja. Bahkan ada kemungkinan, perusahaan-perusahaan itu belum dapat segera menampung kembali tenaga kerja sebanyak yang di PHK.

Berbagai langkah itu terus diikuti, dikaji, disempurnakan dan dimantapkan agar hasilnya segera dirasakan. BERSAMBUNG

Sumber : MEDIA INDONESIA (02/03/1998)

_______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 103-110.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.