PIDATO PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN/MANDATARIS MPR RI DI DEPAN SIDANG UMUM MPR RI 1 MARET 1998

PIDATO PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN/MANDATARIS MPR RI DI DEPAN SIDANG UMUM MPR RI 1 MARET 1998

 

 

Ternyata ketahanan ekonomi kita tidak cukup kuat menghadapi pukulan dari luar. Lagi pula, di samping pengaruh dari Iuar, sebagian dari kesulitan yang kita derita hari ini adalah juga karena kelemahan dalam tubuh kita sendiri.Kita tidak perlu mencari kambing hitam. Juga tidak ada gunanya mencari kambing hitam. Jauh Iebih berguna kita mawas diri. Kita mencari hikmah dari musibah ini. Dengan penuh kesadaran kita harus berani melihat kelemahan dan kekurangan kita sendiri. Dari kelemahan itu kita cari kekuatan.

SELAMA Repelita VI jumlah tenaga kerja yang diserap sektor pertanian cenderung menurun. Pada tahun ’93 sektor pertanian menyerap sekitar 40,1juta orang atau 50,6% dari jumIah tenaga kerja. Pada tahun ’96 jumlahnya menurun menjadi 37,7 juta orang atau 44% dari seluruh tenaga kerja. Namun, dalam waktu yang bersamaan produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian meningkat dari Rp 1,5 juta per orang pada tahun ’93 menjadi Rp 1,7juta per orang pada tahun ’96 atau naik dengan rataa-rata 4,9% per tahun. Peningkatan produktivitas tenaga kerja pertanian ini telah melampaui sasaran Repelita VI sebesar 2,4%.

Menurunnya jumlah tenaga kerja di sektor pertanian dan meningkatnya produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian, yang disertai dengan peningkatan penyerangan tenaga kerja di sektor industri dan jasa, menunjukkan sedang terjadinya proses perubahan struktur perekonomian nasional, Perubahan struktur itu baik dan benar arahnya.

Pertumbuhan sektor pertanian tidak terlepas dari pembangunan prasarana pengairan. Pembangunan pengairan telah meningkatkan luas areal sawah beririgasi dari 5,5juta ha pada akhir Repelita V menjadi 5,9 juga hektar pada tahun keempat Repelita 1 Sasaran akhir Repelita VI seluas 6,3juta ha.

Untuk mempertahankan swasembada pangan, telah dibangun jaringan irigasi baru dan pencetakan sawah, yang seluruhnya seluas 161 ribu ha, berada di luar Pulau Jawa. Untuk mengatasi dampak kekeringan dan sekaligus menunjang peningkatan pendapatan penduduk di pedesaan telah dilaksanakan rehabiltasi jaringan irigasi pedesaan yang selama Repelita VI mencapai 1,4juta ha. Selain itu, telah diperluas pembangunan jaringan rawa, serta pengembangan lahan gambut sebagai lahan produksi baru di Kalimantan Tengah.

Kemajuan pembangunan pengairan dan irigasi erat kaitannya dengan kegiatan di bidang kehutanan, terutama dalam penyediaan sumber daya air secara lestari serta terkendalinya erosi dan sedimentasi. Sampai dengan tahun keempat Repelita VI telah direhabilitasi hutan-hutan yang rusak dan lahan hutan kritis seluas 2,6 juta ha. Pembangunan Tanaman Industri (HTI) meliputi lahan seluas 1,2 sekitar 94% dari sasaran akhir Repelita VI. Pembangunan hutan rakyat mencapai luas 474,4 ribu ha, melebihi sasaran akhir Repelita VI seluas 250 ribu ha.

Selanjutnya, Saudara Ketua yang terhormat, pembangunan transportasi darat diperkirakan dapat mencapai sasaran Repelita VI. Sebagian besar pembangunan transportasi darat ini adalah program pembanguann prasarana jalan.

Angkutan sungai, danau dan penyeberangan bertambah baik dengan bertambahnya jumlah dermaga dan kapal penyeberangan. Angkutan sungai dan danau penting sekali sebagai alat transportasi di daerah pedalaman dan daerah terpencil.

Kemajuan-kemajuan berarti juga tercapai dalam pembanguanan transportasi laut dan udara. Sementara itu, sektor pertambangan mengalami pertumbuhan rata-rata 6% per tahun selama empat tahun Repelita VI. Pertumbuhan ini melampaui sasaran pertumbuhan Repelita VI, yaitu rata-rata 4% per tahun. Yang menonjol peningkatannya adalah produksi batu bara, baik untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri maupun untuk ekspor. Produksinya meningkat dari 28,6 juta ton pada akhir Repelita V menjadi 54 juta ton pada tahun 1997/98. Peningkatan ini telah mengangkat Indonesia menjadi produsen batu bara terbesar ke-3 di kawasan Asia Pasifik dan pengekspor terbesar ke-3 di dunia. Ekspor batu bara pada tahun keempat Repelita VI yang berjumlah 39,3 juta ton telah melampaui sasaran akhir Repelita VI, sebesar 39,1 juta ton. Produksi dan ekspor bahan tambang lainnya pada umumnya juga menunjukkan peningkatan, meskipun harga di pasar internasional tidak selalu menggembirakan.

Produksi minyak dan gas bumi dapat dipertahankan  sesuai dengan sasaran Repelita VI. Selain karena penemuan lapangan baruk hal itu juga dari pemanfaatan teknologi maju seperti enhanced oil recovery.

Dalam Repel ita VI kita mengupayakan turunnya pangsa minyak bumi dalam penyediaan energi dan meningkatnya pangsa energi non-minyak bumi. Sasaran pangsa minyak bumi dalam penyediaan energi primer pada tahun 1997/98 adalah 53,2%. Sasaran ini telah tercapai, karena pada tahun itu pangsa minyak bumi telah turun menjadi 53,1%.

Pembangunan tenaga listrik diperkirakan dapat memenuhi keperluan pertumbuhan ekonomi. Keperluan listrik untuk daerah pedesaan ditunjang oleh penggunaan tenaga mikrohidro dan energi surya.

 

Sidang Majelis yang terhormat

Salah satu sektor unggulan dalam perekonomian nasional adalah pariwisata. Kemajuan kepariwisataan tampak dari meningkatnya jumlah penerimaan devisa dan dari jumlah kunjungan wisatawan dari luar negeri. Selanjutnya, selama 4 tahun terakhir kegiatan kepariwisataan telah membuka hampir 700 ribu lapangan kerja baru.

Kemajuan-kemajuan pesat juga tercapai dalam bidang pos dan telekomunikasi yang besar sumbangannya bagi kemajuan pembangunan di sektor-sektor lainnya.

Peningkatan pembangunan di segala bidang memerlukan penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), terlebih lagi dalam memasuki era globalisasi dan persaingan yang makin ketat. Pembangunan iptek memerlukan biaya yang besar. Karena itu pelaksanaannya kita sesuaikan dengan kemampuan pembiayaannya.

Penguasaan iptek ini mencapai kemajuan yang sangat besar, yang dibuktikan oleh kemampuan putra-putri Indonesia untuk merancang dan membuat sendiri pesawat terbang canggih dalam kelasnya yaitu N-250.

 

Sidang Majelis yang terhormat,

Pemerataan merupakan segi penting dari pembangunan kita yang harus kita wujudkan. Karena itu kebijakan dan dorongan pembangunan perlu sekali memperhatikan laju pertumbuhan ekonomi regional. Selama tiga tahun pertama Repelita VI rata-rata kinerja pembangunan daerah untuk semua provinsi di kawasan Indonesia sebelah timur ternyata tumbuh lebih tinggi dibanding dengan yang berada di kawasan sebelah barat. Selain itu penurunan angka kemiskinan di kawasan sebelah timur ternyata juga lebih besar dibanding di kawasan sebelah barat.

Dalam pada itu, program transmigrasi dalam Repelita VI telah memberi sumbangan yang penting terhadap penyebaran penduduk, pengentasan kemiskinan, peningkatan pemerataan pembangunan antar daerah, serta pengintegrasian masyarakat.

Untuk mewujudkan pemerataan, lebih-lebih untuk melaksanakan amanat Pasal 33 UUD 45, maka peran koperasi bertambah penting sebagai badan usaha dan wadah ekonomi rakyat. Bidang usahanya meluas di berbagai sektor produksi dan jasa, terutama dalam bidang usaha simpan pinjam. Di wilayah pedesaan koperasi telah berkembang menjadi lembaga ekonomi masyarakat yang utama.

Sampai dengan tahun keempat Repelita VI telah terbentuk lebih dari 52.000 koperasi dengan nilai usaha Rp. 13,6 triliun dan jumlah anggota lebih dari 28 juta orang. Di antaranya, lebih dari 12.000 koperasi telah berkembang menjadi koperasi mandiri. Sekitar 4.700 koperasi termasuk sejumlah koperasi simpan pinjam – telah berkembang menjadi usaha berskala menengah dan besar, dengan nilai usaha lebih dari Rp 1 miliar setiap tahun.

Pembangunan tidak mungkin membawa kemajuan, bila tidak didukung oleh kemampuan aparatur negara yang memadai. Dengan segala kekurangannya kemampuan aparatur negara kita jelas meningkat dalam bidang perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan tugas-tugas pemerintahan umum maupun tugas-tugas pembangunan.

Demikianlah secara menyeluruh pelaksanaan tugas Presiden selama lima tahun yang lalu, yang telah dipercaya oleh Majelis kepada saya, di dalamnya termasuk pelaksanaan pembangunan yang diamanatkan oleh GBHN 93. Laporan pertanggungjawaban yang lengkap dan rinci mengenai pelaksanaan pembangunan itu termuat dalam buku tebal, yang menjadi lampiran dari laporan pertanggungjawaban.

Sampai pertengahan tahun lalu semuanya berjalan lancar. Pembangunan kita berjalan mulus. Ada sejumlah sasaran Repelita VI yang tercapai. Malahan ada pula yang berhasil kita lampaui.

Sejak pertengahan kedua tahun lalu gelombang gejolak moneter datang menghantam. Seakan-akan semua yang kita bangun dengan susah payah, kadang­ kadang dengan kepedihan dan pengorbanan, tiba-tiba saja tergoyang-goyang. Kita bukannya tidak tahu akan kemungkinan yang datang itu.

Di waktu-waktu yang lalu saya beberapa kali mengatakan bahwa mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, kita pasti merasakan pengaruh menjadi satunya perekonomian dunia. Pengaruh itu datang lebih cepat dari yang kita perkirakan. Akibat-akibat buruknya jauh lebih besar dari yang dapat kita bayangkan.

Ternyata ketahanan ekonomi tidak cukup kuat menghadapi pukulan dari luar. Lagi pula disamping pengaruh dari luar sebagian dari kesulitan yang kita derita hari ini adalah juga karena kelemahan dalam tubuh kita sendiri.

Kita tidak perlu mencari kambing hitam. Juga tidak ada gunanya mencari kambing hitam.

Jauh lebih berguna kita mawas diri. Kita mencari hikmah dari musibah ini.

Dengan penuh kesadaran kita harus berani melihat kelemahan dan kekurangan kita sendiri. Dari kelemahan itu kita cari kekuatan.

Jika kita berhasil keluar dari kesulitan ini, maka tubuh kita sebagai bangsa akan lebih kuat. Sebab kelemahan-kelemahan yang ada selama ini akan terkikis.

Kita harus bersedia melakukan apa saja yang harus kita lakukan untuk membebaskan bangsa kita dari krisis ini. Dengan penuh kesadaran kita harus mengutamakan kepentingan nasional dan kepentingan bersama di atas kepentingan kita masing-masing.

Dengan hati mantap seperti itu, bangsa kita pasti dapat mengatasi semua ujian berat yang sedang kita hadapi. Selanjutnya, kita dapat menuntaskan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.

 

Sidang Majelis yang saya hormati,

UUD menegaskan bahwa kedaulatan adalah tangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Penjelasan UUD mengingatkan bahwa Presiden yang diangkat oleh Majelis, bertunduk dan bertanggungjawab kepada Majelis.

Saya telah mengakhiri laporan pertanggungjawaban saya kepada Majelis, yang mengangkat saya selaku presiden. Sekarang, saya bertunduk kepada Majelis yang akan menilai pertanggungjawaban saya.

Izinkan saya mengakhiri kata-kata saya, dengan mengajak segenap bangsa kita untuk bersama-sama memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan Yang Maha Pemurah kiranya memberi kekuatan lahir batin kepada kita semua dalam menghadapi cobaan berat yang sedang kita hadapi ini.

Terimakasih.

Jakarta, 1 Maret 1998

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

SOEHARTO

 

Sumber: MEDIA INDONESIA (04/03/1998)

__________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 177-181.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.