PIDATO PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN/MANDATARIS MPR RI DI DEPAN SIDANG UMUM MPR RI 1 MARET 1998

PIDATO PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN/MANDATARIS MPR RI DI DEPAN SIDANG UMUM MPR RI 1 MARET 1998[1]

 

 

Jakarta, Media Indonesia

Saudara-saudara sebangsa dan se-Tanah Air, Kita harus memulihkan keadaan ekonomi dan moneter kita. Kita harus membangkitkan lagi ketahanan ekonomi kita. Tugas ini sangat berat.

Tetapi kita tidak berkecil hati. Kita memiliki kekuatan, pengalaman, dan semangat. Kita telah membangun prasarana maupun sumber daya manusia yang menjadi andalan kita untuk kembali tegak berdiri dan melanjutkan pembangunan.

Pelaksanaan Repelita VI masih tersisa satu tahun lagi. Tetapi, banyak sasaran akhir Repelita VI yang telah kita lampaui. Tentu saja, ada sasaran-sasaran yang belum dapat kita wujudkan.

Pada tahun-tahun terakhir Repelita V dan tahun pertama Repelita VI kita mencapai pertumbuhan ekonomi yang sedemikian tinggi, sehingga dipandang perlu merevisi sasaran laju pertumbuhan ekonomi menjadi rata-rata 7,1% per tahun. Perkiraan jumlah investasi dan sumber-sumber pembiayaan juga perlu disesuaikan.

Pembangunan dalam Repelita VI tetap bertumpu pada Trilogi Pembangunan. Ini berarti kita harus setepat-tepatnya memadukan stabilitas pertumbuhan dan pemerataan.

Stabilitas ekonomi antara lain diupayakan melalui pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan.

Laju inflasi diperkirakan akan membaik dari 8,6 % turun menjadi 5 % pada akhir Repelita VI. Defisit transaksi berjalan akan berada pada tingkat 1,9% pada akhir Repelita VI dibanding 1,8 % pada akhir Repelita V. Sedangkan salah satu sasaran pemerataan yang penting adalah mengurangi jumlah penduduk miskin menjadi sekitar 6 % dari seluruh penduduk.

Demikianlah, saudara ketua yang terhormat sampai dengan tahun ketiga Repelita VI perekonomian nasional kita memperlihatkan perkembangan yang mantap sesuai dengan yang diharapkan. Laju pertumbuhan ekonomi selama periode 93 -96 berturut turut adalah 7,3 %, 7,5 %, 8,2% dan 8 %.

Tetapi pada paruh kedua tahun 97 gejolak moneter tiba-tiba datang menerjang. Pertumbuhan ekonomi kita lalu melambat. Angka sementara pertumbuhan ekonomi tahun 97 hanya 4,7%. Padahal, selama empat tahun Repelita VI pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 7,1 %per tahun, yang berarti sama dengan sasaran tahunan Repelita VI yang telah direvisi.

Perkembangan ekonomi tadi didukung oleh meningkatnya penanaman modal langsung sebagai sumber penggerak yang penting bagi pertumbuhan ekonomi. Dibanding dengan seluruh nilai persetujuan selama Repelita V, maka selama empat tahun Repelita VI nilai persetujuan PMDN naik satu setengah kali dan PMA naik tiga kali lipat.

Laju pertumbuhan penduduk berhasil terus ditekan, sehingga mencapai 1,54 % dalam tahun 97. Angka ini mendekati sasaran akhir Repelita VI sebesar 1,51%.

Dengan laju pertumbuhan ekonomi dan laju pertumbuhan penduduk tadi, maka pendapatan per kapita Indonesia meningkat. Dalam rupiah nilainya meningkat dari Rp2,7 juta pada tahun 96 menjadi Rp3,1 juta pada tahun 97. Dengan demikian,realisasi pendapatan per kapita dalam nilai rupiah tahun 97 telah melampaui sasaran pendapatan per kapita tahun keempat Repelita VI sebesar Rp3 juta per kapita. Dalam dolar Amerika, pada tahun 93 pendapatan per kapita adalah 842 dolar Amerika, kemudian naik mencapai 1.155 dolar Amerika pada tahun 96, yang berarti melampaui sasarannya sebesar 1.118 dolar Amerika. Dengan merosotnya nilai rupiah,pendapatan per kapita tahun 97 turun lagi menjadi 1.089 dolar Amerika.

Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sampai dengan tahun ketiga Repelita VI, diikuti pula dengan kestabilan internal yang terkendali. Laju inflasi pada periode itu masing-masing adalah 8,6%, 8,9% dan 5,2% mendekati sasaran akhir Repelita VI sebesar 5%.

Seperti saya jelaskan, sejak pertengahan tahun 97 terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, gejala ini mulai terasa pada bulan September tahun lalu dengan laju inflasi sebesar 1,3%. Inflasi terus tetap tinggi hingga pada bulan Januari 98 mencapai 6,9 %. Laju inflasi seluruh tahun 97 menjadi 11,1%. Dan dalam 10 bulan pertama tahun anggaran 1997/98 telah mencapai 16%. Laju kenaikan harga ini juga dipicu oleh kekeringan yang panjang yang menyebabkan turunnya produksi pertanian dan terjadinya kenaikan harga harga kelompok makanan.

Disisi kestabilan eksternal pertumbuhan ekspor sejak tahun 1993/94 secara umum lebih lambat dari pertumbuhan impor. Laju ekspor yang tidak terlalu cepat ini disebabkan oleh bertambah ketatnya persaingan terutama untuk produk produk industri padat karya yang telah mulai banyak dihasilkan oleh negara-negara pengekspor baru dan juga karena meningkatnya permintaan dalam negeri . Di lain pihak kegiatan ekonomi yang terus meningkat termasuk investasi telah mendorong lajunya pertumbuhan ekspor.

Akibat kecenderungan tadi adalah terus meningkatnya defisit transaksi berjalan yaitu dari 2,9 miliar dolar Amerika pada tahun 1993/94 atau 2,1% dari PDB menjadi 8,1 miliar dolar Amerika pada tahun 1996/97 atau 3,5 % dari PDB. Namun depresiasi rupiah yang besar pada petengahan tahun 1997/98 telah menyebabkan melambatnya impor. Bersamaan dengan itu ekspor terdorong meningkat terutama produk produk yang komponen impornya kecil. Sebagai hasilnya maka defisit transaksi berjalan membai, hampir separuh dari tahun sebelumnya yaitu menjadi 4,3 miliar dolar Amerika atau 2,2% terhadap PDB. Angka ini makin mendekati sasaran pada tahun terakhir repelita VI yaitu sebesar 1,9% terhadap PDB.

Sementara itu stok utang Indonesia yang secara keseluruhan adalah 83,3 miliar dolar Amerika pada akhir maret 94, telah meningkatnya pada akhir Maret 95 dan meningkat lagi menjadi 136,1 miliar dolar Amerika pada akhir Desember 97.

Utang pemerintah menurun dari 55 miliar dolar Amerika pada tahun 1996/97 atau menurun dari 66, 1% menjadi 39,8% dari keseluruhan utang. Sebaliknya utang dunia usaha swasta meningkat dari 28,3 miliar dolar Amerika menjadi 82 miliar dolar Amerika atau meningkat dari 33,9% menjadi 60,2% dari seluruh utang. Selanjutnya Debt Service Ratio (DSR) sektor swasta meningkat dari 12,8 % pada tahun  1993/ 94 menjadi 27,4% pada tahun 1997/98. Sebaliknya DSR sektor pemerintah menurun dari 19,1 % pada tahun  1993/94 menjadi  11,8% pada tahun  1997/98. Secara keseluruhan DSR swasta dan pemerintah mengalami peningkatan dari 31,9% pada tahun 1993/94 menjadi 39,2% pada tahun 1997/98. Dengan meningkatnya kewajiban pelunasan pinjaman swasta pada tahun tahun terakhir Repelita VII maka sukar mencapai sasaran DSR keseluruhan sebesar 24, 9% pada akhir Repelita VI.

Beban pembayaran kembali utang  luar negeri kita memang berat, tetapi pemerintah mempunyai dana devisa yang cukup untuk memenuhi kewajiban­-kewajibannya.

Kita memang sedang mengalami kesulitan ekonomi yang berat. tetapi kita percaya bahwa dengan bekerja keras dan melaksanakan program-program yang telah kita susun kita pasti berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan itu.

Saya perlu menegaskan kembali bahwa pemerintah Indonesia akan tetap memenuhi seluruh kewajiban pembayaran kembali pokok dan bunga utang luar negerinya secara tepat waktu.

 

Sidang Majelis yang terhormat,

Indikator ekonomi makro yang saya kemukakan tadi memang penting untuk mengukur apakah kita mencapai kemajuan atau kemunduran dalam melaksanakan pembangunan.

Tetapi yang tidak kalah penting, adalah apakah tingkat kesejahteraan masyarakat kita bertambah baik ataukah malah merosot.

Salah satu ukuran penting mengenai keadaan kesejahteraan rakyat adalah jumlah penduduk miskin. Gambaran keadaan masyarakat kita dewasa ini adalah seperti yang berikut ini. Pada tahun 70, di antara kita terdapat 70 juta orang yang hidup miskin atau, sekitar 60% dari seluruh penduduk tergolong miskin. Jumlah penduduk miskin itu berkurang menjadi 27,2 juta orang atau 15,1% pada tahun 90. Kemudian menurun lagi menjadi 25,9 juta orang atau 13,7% pada tahun 93.

Sejak awal Repelita VI dikembangkan upaya tambahan yang khusus tertuju hanya bagi kelompok penduduk miskin. Program penanggulangan kemiskinan ini yang paling utama adalah Inpres Desa Tertinggal. Hasilnya cukup menggembirakan .Pada tahun 96 jumlah penduduk miskin telah turun menjadi 22,5 juta orang atau sekitar 11,3%. Ini berarti bahwa selama 3 tahun telah terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 3,4 juta orang, atau penurunan sebesar 2,3%.

Program penanggulangan kemiskinan merupakan bagian dari gerakan nasional penanggulangan kemiskinan untuk membantu yang lemah dengan semangat kebersamaan, kepedulian, dan kesetiakawanan. Dalam rangka itu program ini telah diperluas dengan program Takesra/Kukesra, yang menghimpun dana dari anggota masyarakat yang lebih mampu.

Dalam waktu satu setengah tahun saja hampir seluruh 10,7 juta keluarga Pra­ Sejahtera dan Sejahtera telah berhasil didorong untuk menabung. Sementara itu, sebanyak 10,5 juta keluarga sudah mendapatkan kredit untuk usaha (Kukesra). Kelompok usaha bersama (KUBE) yang dibentuk melalui Program Kesejahteraan Sosial juga telalu mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan dan mempertinggi kesetiakawan-sosial. Pengembangan usaha bagi kelompok-kelompok penduduk miskin didesa tertinggal tambah terdorong karena telah terbuka lokal melalui program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) yang menyerap hasil produksi Pokrnas. Desa-desa tertinggal yang terisolasi juga mulai membuka hubungan dengan masyarakat yang lebih luas dengan adanya pembangunan prasarana pedesaan ini sekaligus menciptakan lapangan kerja dan alih teknologi bagi masyarakat desa tertinggal.

Erat kaitannya dengan upaya meningkatkan kesejahteraan dan menanggulangi kemiskinan adalah penciptaan lapangan kerja. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi selama tahun 93-96, maka pertambahan angkatan kerja telah dapat diikuti oleh perluasan/kesempatan kerja. Angkatan kerja meningkat dari 81 juta or­ang pada tahun 93 menjadi 88,2 juta orang pada tahun 96, atau bertambah 7,2 juta orang. Pada waktu yang sama,jumlah pekerja meningkat dari 77 juta orang menjadi 83,9 juta orang, atau bertambah 6,9 juta orang.

Pertumbuhan ekspor hasil industri terutama berasal dari kenaikan yang cukup tinggi pada komoditi unggulan seperti tekstil kayu olahan produk kulit dan sepat serta alas kaki, besi baja,permesinan dan otomotif, elektronik, produk karet olahan, produk kimia dasar, emas, perak dan logam mulia perhiasan lainnya.

Industri kecil makin besar peranannya dalam perluasan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja, pengembangan ekonomi pedesaan penanggulangan kemiskinan, bahkan juga pada ekspor. Selama tahun ’93-’96, ekspor industri kecil meningkat dengan rata-rata sekitar 4,4%. Pada tahun ’96 nilai ekspornya mencapai 2,5 miliar dolar Amerika.

Meskipun peranan sektor industri makin penting, namun tidak berarti bahwa sektor pertanian tidak penting. Sebaliknya, pembangunan nasional tetap akan bertumpu pada pertanian. Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan produktivitas dan nilai tambahnya.

Produksi pertanian telah meningkat dan nilai tambah komoditas pertanian juga bertambah besar.Antara tahun ’93-’96, PDB sektor pertanian tumbuh rata-rata 2,9% per tahun. Pertumbuhan ini masih di bawah sasaran pertumbuhan Repelita VI sebesar 3,3%. Namun dalam tahun-tahun itu pertumbuhan perikanan mencapai 5,1%, perkebunan mencapai 4,7%, peternakan mencapai 4% dan tanaman pangan mencapai 1,6%per tahun. Pertumbuhan perikanan telah mendekati sasaran Repelita VI sebesar 5,2%. Pertumbuhan perkebunan telah melampaui sasaran Repelita VI sebesar 4,2%. Pertumbuhan tanaman pangan di bawah sasaran Repelita VI sebesar 2,5% karena musim kemarau berkepanjangan pada tahun ’94 dan terjadi lagi pada tahun ’97. Perkembangan itu menunjukkan bahwa perikanan dan perkebunan telah menjadi sumber pertumbuhan baru dalam sektor pertanian. (BERSAMBUNG)

Sumber: MEDIA INDONESIA (03/03/1998)

______________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 151-155.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.