PIDATO PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN : IMF PLUS UNTUK ATASI KRISIS

PIDATO PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN : IMF PLUS UNTUK ATASI KRISIS[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto menegaskan bahwa Indonesia akan menerapkan konsep IMF Plus guna menstabilkan gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar yang hingga kini belum juga memperlihatkan perbaikan.

Isyarat tersebut disampaikan Presiden saat menyampaikan pidato pertanggungjawabannya selaku mandataris MPR di depan Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat RI, Minggu di Jakarta.

Untuk menanggulangi krisis moneter yang berawal sejak pertengahan tahun 1997, Presiden telah mengirim surat ke direktur Pelaksana IMF 15 Januari lalu disertai program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan. IMF mendukung program ini, di samping dukungan finansial, dari Bank dunia ADB dan sejumlah negara.

Tujuan pokok program reformasi itu adalah memulihkan kepercayaan terhadap rupiah, lembaga keuangan yang ada serta masa depan ekonomi Indonesia.

“Hilangnya kepercayaan itulah sumber utama berbagai masalah berat yang kita hadapi sekarang ini.” kata Presiden.

Dengan melaksanakan sungguh-sungguh program itu, Presiden optimis kepercayaan akan pulih baik di mata pelaku ekonomi di negeri sendiri maupun di luar negeri.

Reformasi Terus

Guna menjamin pelaksanaan sebaik mungkin program reformasi, Presiden telah membentuk dan memimpin sendiri Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan, sesuai dengan jadwal waktunya, sebagian program telah kita laksanakan dan sebagian lainnya menyusul kemudian.

“Saya telah mulai melaksanakan dan akan terus melaksanakan program-program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan yang mendapat dukungan IFM.” kata Presiden.

Langkah reformasi dan restrukturisasi yang telah diambil antara lain revisi RAPBN 1998/99 yang telah disahkan DPR. Langkah berikutnya adalah rehabilitasi perbankan ini meliputi dua …. utama.

Pertama adalah penyediaan jaminan penuh pemerintah kepada deposito dan kreditor bank-bank umum nasional. Kedua adalah pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Selain itu, Presiden juga telah menyetujui merger 4 bank BUMN (Bank Exim, BDN, Bapindo, dan BBD), yang kini diberi nama “Bank Catur”. Sedangkan untuk menyehatkan bank swasta, pemerintah telah menaikkan modal setor minimum.

Tak kenyataannya, meski program reformasi dari restrukturisasi yang jelas dan mendasar sudah dimulai, belum juga ada tanda-tanda, bahwa keadaan bertambah baik. Rupiah tetap saja melemah, meski kadang-kadang menguat.

“Malah, keadaan kehidupan rakyat bertambah berat.” kata Presiden Soeharto. Untuk itu, Presiden telah meminta IMF maupun Sejumlah kepala pemerintahan negara lain untuk membantu menemukan alternatif yang lebih tepat untuk menstabilkan nilai rupiah.

“Saya namakan konsep yang lebih tepat itu sebagai konsep IMF Plus.” ujarnya.

Tentang sistem dewan mata uang (CBS) yang belakangan banyak dibahas media massa, Presiden menegaskan bahwa pihaknya tengah menimbang-nimbang dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian.

“Langkah apa pun yang diambil, kita memerlukan dukungan IFM sebagai lembaga keuangan dunia yang berwibawa dan memiliki reputasi tinggi.” kata Presiden.

Kepedihan

Dampak krisis moneter yang berkepanjangan itu, perusahaan-perusahaan mengalami kesulitan besar, bahaya pengangguran mulai tampak, dan harga barang impor maupun produksi dalam negeri yang berkomponen impor besar menjadi sangat mahal.

“Saya merasakan betapa sedihnya hati ibu-ibu, rumah tangga dan keluarga­ keluarga yang berpenghasilan rendah menghadapi harga yang membubung tinggi. Masyarakat juga gelisah. Kesalahpahaman sedikit saja telah menyulut kerusuhan yang lebih besar.” kata Presiden.

Kedaan bertambah buruk karena ada saja kelompok yang mengail di air yang sedang keruh. Keadaan ekonomi kian bertambah berat, karena L/C tidak diterima oleh kalangan perbankan di luar negeri. Semua itu akhirnya mengundang keprihatinan sejumlah kepala pemerintahan. Mereka ada yang datang langsung, tapi ada yang menanyak:an lewat telepon. Ada yang memberikan pandangan positif, ada yang memberikan uluran tangan.

“Semua itu kita terima dengan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya.” kata Presiden.

Presiden Soeharto bertekad akan meringankan beban kehidupan rakyat yang bertambah berat.

“Saya tidak akan ragu sedikit pun melakukan apa saja untuk mengatasi keadaan.” ujar Presiden.

Program reformasi akan terus dilaksanakan. Tapi Presiden juga prihatin kenapa tanda-tanda perbaikan belum tampak. Menurut Kepala Negara, kunci utamanya adalah stabilitasi nilai tukar rupiah pada tingkat yang wajar.

“Selama ini belum dicapai, saya tidak dapat melihat perbaikan keadaan dalam waktu dekat ini.” katanya.

“Gelombang gejolak moneter itu membuat seolah-olah semua yang dibangun Indonesia dengan susah payah, kadang-kadang dengan kepedihan dan pengorbanan,  tiba-tiba saja tergoyang-goyang.” katanya.

Menurut Presiden, pihaknya sebenarnya bukannya tidak tahu kemungkinan adanya gejolak ini. Ia sudah mengisyaratkan di waktu-waktu lalu, bahwa “Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, kita pasti merasakan pengaruh dari menyatunya perekonomian dunia.” Tapi rupanya pengaruh itu lebih cepat, dan akibat buruk yang ditimbulkan pun lebih besar yang bisa dibayangkan.

Kambing Hitam

Melihat kenyataan belum membaiknya perekonomian nasional, Presiden menilai betapa ketahanan perekonomian nasional tidak cukup kuat menghadapi pukulan dari luar.

“Kita harus membangkitkan lagi ketahanan ekonomi kita. Tugas ini sangat berat.” tutur Presiden.

Digambarkan bahwa selain akibat pukulan dari luar, sebagian kesulitan yang diderita ekonomi Indonesia iniakibat kelemahan dalam tubuhnya sendiri.

Terhadap serangkaian krisis yang berlarut tersebut, Presiden menyerukan agar tidak perlu mencari kambing hitam.

“Juga tidak ada gunanya kita mencari kambing hitam.” lanjutnya.

Presiden menegaskan bahwa pemecahan krisis sekarang terletak masing-masing negara.

“Tekad kita sudah bulat untuk mengatasi masalah ini. Kita akan berjuang habis-habisan untuk melepaskan diri dari krisis.” kata Presiden.

“Dipundak kita sendirilah terletak beban tanggungjawab. Langkah-langkah kita sendirilah yang menentukan keberhasilan atau tidaknya mengatasi krisis ini. Kita sadar bahwa langkah itu pasti berat. Mungkin sangat berat dan menyakitkan. Kita harus ikhlas berbagai beban seadil-adilnya di antara kita sendiri.” katanya.

Presiden menyerukan semuapihak mawas diri dan mencari hikmah dari musibah ini.

“Kita harus berani melihat kelemahan dan kekurangan kita sendiri. Dari kelemahan, itu kita cari kekuatan.” ujarnya.

Presiden optimis, jika Indonesia berhasil keluar dari krisis, bangsa ini akan lebih kuat karena kelemahan yang ada sudah terkikis.

Sekali lagi, ia menekankan agar semua pihak bersedia melakukan apa saja untuk membebaskan bangsa ini keluar dari krisis. Untuk itu ia mengajak perlunya sikap mengutamakan kepentingan nasional dan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Sejauh ini mencari jalan keluar terbaik dari krisis moneter menjadi perbincangan yang luas di kalangan masyarakat Indonesia. Presiden menilai positif perbincangan itu, karena merupakan bagian yang dinamis dari proses demokrasi.

“Artinya, sebagai sikap melu handarbeni, rasa ikut memiliki masa depan bersama.” kata Presiden Soeharto.

Kepala Negara minta agar perbedaan pandangan yang ada tidak dibesar­ besarkan, apalagi yang malah membingungkan masyarakat awam.

“Perbedaan pendapat jangan menjadi benih perpecahan di antara kita. Lebih-lebih pada saat kita memerlukan persatuan yang sekuat-kuatnya di antara kita agar dapat bersama-sama keluar dengan selamat dari kemelut sekarang ini.” tuturnya. (Tim SK)

Sumber : SUARA KARYA (02/03/1998)

_____________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 111-114.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.