PIDATO ITU SEMAKIN MEMULUSKAN SIDANG UMUM MPR

PIDATO ITU SEMAKIN MEMULUSKAN SIDANG UMUM MPR[1]

 

 

Jakarta, Media Indonesia

PARA anggota MPR pagi ini hingga malam nanti kembali akan mengadakan rapat-rapat intern fraksi. Setelah sidang mendengarkan pidato pertanggungjawaban Presiden Soeharto selaku mandataris MPR, para anggota majelis dari kelima fraksi siang kemarin hingga malam tadi,memang langsung mengadakan rapat intern.

Rapat intern itu beracara pokok mempersiapkan pemandangan umum terhadap rancangan-rancangan ketetapan MPR yang telah disusun Badan Pekerja (BP) MPR dalam Sidang Umum MPR tahap I tahun lalu. Selain itu, rapat intern fraksi juga mempersiapkan pemandangan umum atas pertanggungjawaban Mandataris MPR.

Seperti yang sudah diperkirakan banyak pihak,persidangan MPR kali ini, akan berjalan mulus. Rancangan Ketetapan (Rantap) tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) pun sudah tak ada persoalan lagi. Pun demikian dengan Rantap non-GBHN.

Tempo hari memang sempat muncul polemik soal hak asasi manusia (HAM) akan ditempatkan di Rantap apa, GBHN atau ditampung dalam Rantap tersendiri. Banyak kalangan menyarankan HAM dimasukkan dalam Ketetapan (Tap) MPR tersendiri, sebab persoalan HAM di Tanah Air telah berkembang sedemikian rupa, sehingga perlu mendapat perhatian khusus.

Namun kalangan lain berpendapat HAM tidak perlu mendapat porsi tersendiri dalam Tap MPR. Toh, begitu alasan mereka, seperti yang juga menjadi pendirian Fraksi Karya Pembangunan (F-KP) MPR, HAM sudah tertuang dalam Rantap tentang GBHN. Dengan dimasukkannya HAM dalam GBHN, begitu alasan F-KP saat membahas masalah itu di BP-MPR tempo hari, maka menjadi kewajiban bagi Mandataris MPR untuk melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.

Boleh jadi dalam pemandangan umumnya yang disiapkan sejak kemarin hingga malam nanti, ada fraksi yang masih mempersoalkan keberadaan HAM. Kita perkirakan, suara yang dikumandangkan oleh fraksi-fraksi, bukan lagi soal teknis apakah perlu dimasukkan dalam GBHN atau Tap tersendiri, tapi lebih banyak menyangkut substansi bahwa HAM merupakan masalah penting yang layak diagendakan dalam SU-MPR 1998.

Masalah non-GBHN lain yang sempat menjadi “perdebatan” di forum BP-MPR beberapa bulan lalu adalah tentang pemilihan umum (pemilu) dan peran organisasi kekuatan sosial politik (orsospol), terutama partai politik (parpol).

Seperti dalam SU-MPR 1993, masalah itu kembali dikedepankan untuk diagendakan secara khusus dalam SU-MPR 1998, karena parpol menganggap penyelenggaraan pemilu belum seperti yang diharapkan, dalam pengertian berlangsung jujur dan adil Gurdil), di samping “Iuber” (langsung, umum, bebas, dan rahasia). Parpol pun masih merasa dirinya sebagai pelengkap penderita dalam ikut ambil bagian dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berbagai ungkapan dan keluh kesah tentang itu semua, telah dibahas habis di fo­rum BP-MPR. Karenanya SU-MPR 1998 tahap kedua ini tinggal merumuskan bagaimana idealnya agar semua aset bangsa ini bisa berjalan seiring tanpa ada yang merasa menang atau kalah.

Presiden Soeharto kemarin telah menyampaikan pertanggungjawabannya. Menyampaikan pidato pertanggungjawaban sekitar satu jam itu, Pak Harto selaku Mandataris MPR mengungkapkan secara gamblang atau terbuka tentang berbagai hal yang selama lima tahun dikerjakan.

Dalam pertanggungjawabannya, kita bisa simak Pak Harto secara jujur mengakui bahwa di samping mengungkap kisah sukses, Kepala Negara pun tidak menutu-nutupi berbagai kekurangan, terutama dalam pembangunan ekonomi beberapa tahun terakhir.

Maka tidak berlebihan jika sejumlah anggota MRP dan tokoh menyambut positif pertanggungjawaban Presiden Soeharto. Malah ada anggota MPR yang menilai pidato pertanggungjawaban Pak Harto itu sarat dengan muatan pendidikan politik.

Karenanya kita yakin kelima fraksi di MPR dalam pemandangan umumnya nanti akan menerima pidato pertanggungjawaban tersebut. Jika demikian, maka secara konstitusional, tidak ada alasan bagi fraksi-fraksi untuk tidak mencalonkan kembali Pak Harto sebagai Mandataris MPR masa bakti 1998-2003.

Sidang Umum MPR 1998 hari pertama terlewati sudah dengan aman dan lancar. Karenanya benar apa yang diperkirakan Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin bahwa menjelang dan saat SU-MPR, Jakarta aman. Selamat. Gantyo

Sumber: MEDIA INDONESIA (02/03/1998)

___________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 149-151.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.