PIDATO AKHIR TAHUN PRESIDEN

PIDATO AKHIR TAHUN PRESIDEN [1]

 

Jakarta, Suara Karya

PIDATO AKHIR TAHUN Presiden R.I., Rabu malam, mempunyai makna khusus bagi rakyat. Sungguhpun sehari sebelumnya telah diumumkan bahwa beliau sudah mulai kembali kepada kegiatan2 pemerintahan, adalah melegakan melihat wajahnya kembali di layar televisi sesudah mendengar kabar tentang sakit, operasi dan perawatan yang dialaminya. Kita bergembira untuk kesembuhan Soeharto pribadi yang sudah begitu akrab dengan kita semua, dan kita merasa tenteram sebab Presiden Soeharto telah kembali mengepalai negara dan pemerintahan karena kesehatannya pulih kembali. Untuk itu kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT.

Kita juga bersyukur bahwa pidato itu sendiri telah dapat disampaikan Orde Baru ini, sebagai tata yang berlandaskan Pancasila dan Undang2 Dasar 1945, memberi pula kesempatan untuk menumbuhkan tradisi kenegaraan yang sehat. Di antara yang dengan tekun dan patuh ditumbuhkan Presiden Soeharto ialah kebiasaan memberikan pertanggungjawaban singkat kepada seluruh bangsa pada saat2 menjelang pergantian tahun.

Menarik tetapi wajar bahwa dalam Pidato Akhir Tahun 1975, Presiden mencatat tiga perkembangan penting di bidang luar negeri: berakhirnya perang Indo-Cina, penegasan tekad dan cita2 ASEAN yang awal tahun 1976 ini Kepala2 Pemerintahannya akan bertemu dalam KTT dan masalah Timor Timur. Dalam suatu pertanggungjawaban singkat memang selayaknyalah bahwa gejala2 dan masalah2 di sekitar kita yang langsung berpengaruh atas hidup kita saja yang dikemukakan. Dengan mengemukakan ketiga hal itu, jelas Presiden menyadari dan mengajak kita semua menyadari betapa pentingnya pengembangan ketahanan nasional dan regional demi perdamaian dan stabilitas wilayah Asia Tenggara. Khusus tentang Timor Timur, penegasan kembali Presiden kita harap mendorong dunia untuk memandang dengan lebih obyektif, dan dengan demikian menyadari bahwa kita dan rakyat Timor Timur berada di pihak yang benar. Bagi kita sendiri, penegasan Presiden tentang Timor Timur merupakan bantuan besar untuk lebih meneguhkan iman menghadapi fitnah dan cerca kaum  kolonialis  Portugal  melalui  intriknya  di  PBB.

Tentang perkembangan di dalam negeri, Presiden mencapai sebagai sangat penting langkah2 nyata yang kita lakukan dalam tahun 1975 untuk konsolidasi kehidupan politik Bangsa pada umumnya dan persiapan pelaksanaan Pemilu 1977 pada khususnya.

Kata Presiden tentang langkah2 itu: “Dengan suasana yang cukup menegaskan, tetapi tetap dalam suasana musyawarah untuk mufakat, Pemerintah dan DPR  dalam  tahun 1975 ini telah berhasil menetapkan Undang2 tentang Partai Politik dan Golongan Karya, Undang2 Perubahan Undang2 No.16 tahun 1969 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Tepat sekali bahwa dalam berbicara tentang hasil2 yang kita capai di bidang konsolidasi kehidupan politik, Presiden tidak hanya menyebutkan produknya saja, tetapi juga prosesnya: kita tetap bermusyawarah untuk mufakat walaupun dalam suasana yang menegangkan.”

Wajiblah kita lanjutkan langkah2 kita itu ditahun 1976inidengan partisipasi positip sebagai demokrasi2 Pancasila yang menekankan pengertian tanggungjawab, sehingga harapan Presiden untuk tahun 1976 dapat terlaksana sebagai hasil kita semua. Dalam tahun 1976 ini, Presiden mengharapkan pelaksanaan kehidupan politik dan pelaksanaan persiapan pemilu yang dilandaskan pada Undang2 tersebut tadi akan dapat memberikan dinamika yang bermanfaat bagi pembangunan Bangsa serta tidak akanmengganggu stabilitas nasional.

Tentang ekonomi, Presiden mengajak kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, bahwa sampai sekarang keadaan ekonomi kita relatif masih baik dan pelaksanaan Repelita sedapat mungkin dilaksanakan sesuai dengan rencana, sungguhpun Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari situasi ekonomi dunia yang buruk. Kita memang selayaknya bersyukur bahwa seperti dikatakan Presiden keadaan pangan, sandang, harga2 bahan pokok, laju inflasi pada umumnya tetap dapat dikendalikan, sehingga tidak terjadi gejolak ekonomi yang serius.

Kita juga bergembira bahwa pelbagai sasaran produksi seperti pangan, semen, pupuk, tekstil, tenaga listrik dan lain2nya akan dapat kita capai danbahkan mungkin cepat dilampaui. Adakah kewajiban kita semua untuk mengamati kegiatan produksi itu, sehingga tidak sampai terjadi misalnya produksi dicapai dengan jumlah modal dan pabrik yang terlalu banyak sehingga produksi itu tidak efisien. Dan adalah juga kewajiban kita semua untuk membantu pembinaan kegiatan2lanjutan dari produksi. Bidang pemasaran di dalam negeri dan kemungkinan ekspor agaknya kini telah harus diperhitungkan sebagai bagian internal dari suatu rencana pembangunan sarana produksi. Tanggungjawab ini dituntut dari kita semua sebagai akibat kemampuan kita yang berkembang dalam berproduksi.

Dapat kita lihat kembali melalui Pidato Presiden bahwajuga ditahun 1975banyak yang kita capai, tetapi baik justru karena hasil2 itu sendiri maupun karena adanya masalah2 yang masih harus diselesaikan tahun 1976 tetap menuntut pelaksanaan tanggungjawab kita sebagai Bangsa. Presiden mengingatkan bahwa kita masih perlu waspada dan masih dalam keadaan prihatin. Keprihatinan dan kewaspadaan itu kata Presiden terutama minta kepada kita kesadaran dan tanggungjawab lebih besar agar masalah2 dantantangan2 yang kita hadapi dapat kita atasi terutama dalam memelihara stabilitas nasional danmemelihara kelancaran pembangunan aparatur perekonomian negara, aparatur pemerintahan, dunia usaha, industri dan masyarakat luas kita semua harus menunjukkan kesadaran dan tanggungjawab itu.

Untuk itu lebih penting kita garisbawahi ajakan Presiden untuk berhemat. Kita harus mengeratkan ikat pinggang dan ajakan ditujukan kepada kita semua tanpa kecuali termasuk mereka yang mampu. Gaya hidup mewah dan berlebih2an adalah tidak kontruktif dan tidak sesuai dengan semangat pembangunan. (DTS)

Sumber: SUARA KARYA (02/01/1976)

 

 

 

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 1-3.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.