Pidato Akhir Tahun Presiden : CEGAH TERULANGNYA BERBAGAI GEJOLAK

Pidato Akhir Tahun Presiden : CEGAH TERULANGNYA BERBAGAI GEJOLAK[1]

 

Jakarta, Kompas

RESIDEN SOEHARTO menegaskan, bangsa Indonesia harus mampu mencegah terulangnya berbagai gejolak seperti yang terjadi di tahun 1996. Bangsa Indonesia harus mampu menempatkan kepentingan bersama, kepentingan negara, dan kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi dan golongan. Bangsa Indonesia juga harus mampu berpikir lebih jernih, bersikap lebih lapang dada, dan menjauhi perilaku emosional. Hal itu penting, karena jika tidak segera teratasi, sekecil apa pun gejolak yang terjadi di tengah masyarakat, akan merugikan kepentingan bangsa secara keseluruhan.

Pesan Kepala Negara itu tertuang dalam pidato akhir tahun 1996 yang disampaikan Selasa (31/12). Kepala Negara mengawali pidatonya dengan menyampaikan “Selamat Tahun Baru 1997” kepada seluruh bangsa Indonesia. Diharapkan, di tahun baru ini bangsa Indonesia meraih lebih banyak keberhasilan, kehidupan bertambah baik, masyarakat makin makmur, maju, dan kuat.

Kepala Negara juga mengucapkan “Selamat Natal” kepada seluruh umat Kristiani.

“Semoga pesan Natal akan menyegarkan kembali semangat Saudara-­saudara dalam kehidupan dan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara kita yang sedang kita bangun bersama.” katanya.

Lebih lanjut, Presiden mengajak seluruh bangsa, sejenak meluangkan waktu di saat peralihan tahun ini untuk : merenungkan berbagai pengalaman penting yang telah dilalui, sekaligus melihat ke depan, pada tantangan dan peluang yang ada.

“Kejadian di masa lalu, baik kejadian yang menyenangkan maupun yang menyedihkan hendaknya kita terima dengan lapang dada untuk : kita petik hikmahnya.” ujarnya.

“Sebaliknya, hal-hal yang kurang baik harus kita perbaiki dan kita sempurnakan lagi. Dengan demikian, kita akan dapat terus memperbaiki kehidupan kita. Pembangunan memang merupakan proses panjang untuk terus-menerus memperbaiki kehidupan lahir batin kita semua, seluruh bangsa.” pesan Presiden.

Tidak Mudah

Dikatakan, patut disyukuri bahwa selama Tahun 1996 bangsa Indonesia mampu mempertahankan stabilitas nasional dengan mantap dan dinamis. Terutama karena memelihara stabilitas nasional dalam suatu negara kepulauan dengan tingkat kemajemukan yang sangat tinggi seperti Indonesia ini, tidaklah mudah. Masyarakat majemuk, kata Presiden, memiliki bibit kerawanan yang dapat menimbulkan berbagai gejolak bila tidak ditangani dengan sungguh-sungguh.

Diakui, di tahun yang segera akan ditinggalkan ini, bangsa Indonesia mengalami berbagai gejolak dalam masyarakat, yang dilatarbelakangi oleh sebab-sebab sosial, budaya, politik, ekonomi, maupun agama. Bangsa Indonesia pantas bersyukur karena berhasil mengatasi berbagai gejolak tersebut dengan baik.

Namun, di masa mendatang, bangsa Indonesia harus mampu mencegah terulangnya berbagai gejolak tersebut, karena sekecil apa pun gejolak yang terjadi di tengah masyarakat, jika tidak segera teratasi dapat merugikan kepentingan bangsa secara keseluruhan.

“Karena itulah, di masa yang akan datang kita harus mencegah terulangnya berbagai gejolak seperti yang terjadi dalam tahun ini. Kita harus mampu menempatkan kepentingan bersama, kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan. Kita semua harus berpikir lebih jernih, bersikap lebih lapang dada, serta menjauhi sikap dan perilaku emosional.” pesan Presiden.

Meski terjadi gejolak, secara umum bangsa Indonesia tetap mencapai berbagai kemajuan berarti. Di bidang politik, misalnya, bangsa Indonesia menyambut dengan hati terbuka, berbagai gagasan yang muncul untuk lebih menyegarkan kehidupan demokrasi. Bangsa Indonesia pun menyadari, kemajuan pembangunan telah meningkatkan daya kritis masyarakat serta melahirkan harapan dan aspirasi baru.

Dikatakan, tahun ini kekuatan sosial politik dan organisasi kemasyarakatan melakukan konsolidasi organisasi.

“Sebagai wadah paritisipasi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, kita semua berkepentingan agar organisasi kekuatan sosial politik dan organisasi kemasyarakatan itu kukuh dan berfungsi dengan baik. Lebih-lebih karena tahun depan kita akan menyelenggarakan pemilihan umum.” kata Kepala Negara.

Jangan Lepas Kendali

Untuk meningkatkan kehidupan demokrasi itu, pemerintah mendorong keterbukaan dan kegiatan lain.

“Namun, kita tetap harus memperhatikan rambu-rambu agar gagasan-gagasan dan aspirasi baru itu jangan sampai lepas kendali.” tegas Kepala Negara.

Dalam arti, harus tetap berpegang teguh pada Pancasila, UUD 45 dan GBHN, serta menjunjung tinggi kepentingan nasional dan persatuan bangsa.

Di bidang ekonomi, tahun 1996 Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi cukup tinggi,7,8 persen, meski sedikit lebih lambat dibanding tahun 1995 yang mencapai 8,2 persen. Namun, Indonesia bisa menekan laju inflasi sehingga hanya mencapai 6,7 persen, atau lebih rendah dibanding tahun lalu yang mencapai 8,6 persen. Selain itu, melonjaknya nilai investasi dalam rangka PMDN maupun PMA, serta sektor-sektor lain. Termasuk memperkuat sektor pariwisata karena akan menjadi penghasil devisa terbesar.

Diakui, kemajuan bidang ekonomi itu membawa dampak positif bagi pembangunan di bidang lain. Namun disadari, masih ada kelemahan dan kekurangan yang harus diatasi. Yaitu, kesenjangan pembangunan antar sektor, antar wilayah, dan antar golongan ekonomi. Seluruh kesenjangan itu, tegas Kepala Negara, harus terus­-menerus diatasi dengan memacu pemerataan dalam segala bidang, melanjutkan program pengentasan kemiskinan, serta pengembangan usaha kecil menengah melalui program-kemitraan,

Presiden berpesan, di tahun 1997, bangsa Indonesia harus memperkuat daya saing barang dan jasa di pasar dalam negeri maupun dunia. Sebab, kondisi perekonomian dunia mendatang mengandung berbagai kemungkinan yang sulit diramalkan.

Untuk itu, yang paling penting, kata Kepala Negara, kebulatan tekad bekerja keras, bahu membahu tanpa kecuali, antara jajaran pemerintah dan masyarakat serta di berbagai kalangan. Langkah itu harus diimbangi sifat peka dan tanggap terhadap perkembangan globalisasi perekonomian dunia.

Kepala Negara mengakui pula meningkatnya keikutsertaan Indonesia dalam melaksanakan ketertiban dunia.

“Namun, tantangan yang harus dijawab di masa mendatang, adalah peningkatan mutu sumber daya manusia. Karena di era globalisasi, persaingan antarbangsa akan lebih ditentukan oleh sumber daya manusia.” kata Presiden.

Ditambahkan,

“Akhirnya, marilah kita berdoa ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, semoga di tahun yang akan datang kita mampu meraih keberhasilan yang lebih besar dan terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan.”

Sumber : KOMPAS (02/01/1997)

_____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 1-3.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.