Pidato akhir tahun Presiden : CEGAH AKIBAT BURUK GONCANGAN MONETER

Pidato akhir tahun Presiden : CEGAH AKIBAT BURUK GONCANGAN MONETER[1]

 

Jakarta, Business News

PSIDEN SOEHARTO dalam pidato akhir tahun 1997 menyatakan, kalau akibat-akibat buruk dari guncangan moneter dapat dicegah atau dikurangi. Sementara dikemukakan pula bahwa dalam suasana prihatin dan sulit maka putusan dan langkah yang diambil pada umumnya tidak menyenangkan dan malahan bisa terasa menyakitkan.

Dalam pidato akhir tahun 1997 yang dipancarkan Rabu malam menjelang Kamis tanggal 1 Januari 1998 itu, Kepala Negara pun mencanangkan tahun 1998 sebagai Tahun Seni dan Budaya. Tahun Seni dan Budaya ini jatuh pada tanggal 1 Januari 1998.

Pemerintah telah menetapkan tahun 1993-2000 merupakan Dekade Kunjungan Indonesia. Dikemukakan Soeharto, bahwa warisan budaya juga berdaya tarik bagi bangsa-bangsa lain untuk mengunjungi Indonesia. Hal itu jelas dapat mendorong kegiatan pariwisata yang penting bagi pembangunan.

Dalam memanfaatkan sumber daya alam dan budaya untuk pengembangan pariwisata, menurut Soeharto harus bersemboyan, ‘Membangun sekaligus melestarikan’.

Pengembangan pariwisata nasional sekaligus harus dapat ikut memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Tahun Keprihatinan

Presiden menyebutkan, bahwa tahun 1997 adalah tahun keprihatinan. Banyak hal dialami seperti bencana alam, kebakaran lahan dan hutan yang luas, kemarau kering dan panjang, kecelakaan-kecelakaan besar di darat, di laut dan di udara. Keprihatinan tersebut bertambah lagi dengan gejolak moneter yang luas dan dalam akibatnya terhadap kehidupan ekonomi dan sosial. Kita sedang berjuang sekuat tenaga untuk melewati saat-saat yang sangat sulit itu. Pemerintah telah mempunyai program­program yang jelas untuk mengatasi gejolak moneter ini.

Program-program tadi mendapat dukungan IMF dan negara-negara lain. Pemerintah mengajak seluruh lapisan masyarakat umumnya dan dunia usaha khususnya guna memberi dukungan sepenuh-penuhnya kepada pelaksanaan program-program itu.

HARUS TETAP MEMBANGUN

Kita bertekad membangun. Karena itu kita mau bekerja keras, ujar Soeharto. Kita ingin hidup bahagia, karenanya bersedia berkorban.

Ditegaskan, dalam keadaan apapun kita harus tetap membangun. Itulah tekad kita. Yang penting adalah kearifan dan kesadaran, bahwa kita dapat menarik manfaat secara bijaksana dari setiap kondisi yang dialami.

Bersama dengan negara-negara ASEAN lainnya, yang beberapa di antaranya juga mengalami gejolak moneter, kita bekerja sama dan saling mengulurkan tangan bantu­membantu. Seluruh anggota APEC pun sedang mencari jalan keluar bersama, bagaimana cara-cara yang terbaik untuk menanggulangi goncangan moneter seperti yang dialami.

GEJALA BARU

Menurutnya, negara-negara yang ekonominya tergolong kuat juga mengalami goncangan serupa. Ini merupakan gejala baru yang muncul dari globalisasi.

Dengan belajar dari pengalaman, kita sedang melakukan pembenahan­ pembenahan yang diperlukan agar kesulitan yang dialami ini dapat diatasi dengan sebaik-baiknya. Bersamaan dengan itu, kita harus mengambil manfaat dari peluang yang terbuka di depan kita.

Mudah-mudahan dalam tahun 1998 yang dimasuki ini, kita bisa keluar dari masalah-masalah sulit yang dihadapi dalam tahun 1997.

Sumber : BUSINESS NEWS (02/01/1998)

_______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 677-678.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.