PESTA RAKYAT DI KEBUN RAYA MOGHAL LAHORE SAMBUT TAMU AGUNG DARI INDONESIA

PESTA RAKYAT DI KEBUN RAYA MOGHAL LAHORE SAMBUT TAMU AGUNG DARI INDONESIA

Disela-sela Kunjungan Presiden Soeharto di Pakistan

Oleh : Prihatin Sudiyono

Cuaca cerah di Lahore, daerah Punjab, salah satu bagian dari negara Pakistan, ketika pesawat DC-I 0 Garuda "Irian Jaya" yang membawa Presiden Soeharto dan rombongan mendarat di pelabuhan udara Lahore, secerah wajah para pimpinan pemerintahan dan rakyat Pakistan yang menyambut datangnya Tamu Agung dari Indonesia.

Begitu pintu pesawat dibuka, udara sejuk masuk menerpa wajah para tamu dari Indonesia, membuat sejuk hati, karena telah tiba di negara tujuan dengan selamat berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Waktu setempat menunjukkan jam 14.00 atau jam 16.00 WIB, suhu udara pada waktu itu kira2 19 derajat celcius.

Dibawah tangga pesawat presiden Soeharto dan Ibu Tien disambut hangat oleh Presiden Pakistan Zia-Ul Haq dan Begum Zia-ul Haq. Sementara itu terdengar 21x dentuman meriam, Langsung Presiden Soeharto diantar ke mimbar untuk menerima penghormatan militer, sementara Itu Ibu Tien Soeharto dan para Menteri beserta istri dan rombongan lain berdiri di samping mimbar.

Terdengar lah lagu Indonesia Raya yang kemudian disusul lagu kebangsaan tuan rumah. Setelah itu Presiden Soeharto dipersilahkan untuk memeriksa barisan.

Umumnya lagu yang mengiringi pemeriksaan barisan berirama mars, tetapi di Pakistan ini lain. Lagu yang mengiringi pemeriksaan barisan berirama mirip2 wals. Meskipun demikian Presiden dapat menyesuaikan langkah kakinya dengan Irama musik yang mengiringinya.

"Kapan ya, Pak Harto belajar jalan begitu, kok bisa cocok sama irama musiknya" kata salah seorang wartawan dari Jakarta, rupa2nya dia heran melihat Pak Harto dapat menyesuaikan langkahnya dengan irama ala wals tersebut.

Selesai pemeriksaan barisan Presiden Soeharto kembali menuju ke mimbar untuk kemudian berkenalan dengan para pejabat pemerintahan Pakistan, para korps diplomatik dan lain2. Tidak ada pidato-pidatoan. Kemudian diantar Presiden Zia-ul Haq, Presiden Soeharto beserta Ibu Tien Soeharto menuju ke Guest House untuk sejenak beristirahat.

Lahore bukanlah Ibukota Negara Pakistan, tetapi ibu kota dari pada salah satu bagian negara ialah Punjab.

Mengapa Taman Agung dari Indonesia ini pertama-tama datang di Lahore, dan bukan di Islamabad, Ibukota negara Pakistan. Iniada sebabnya, Pertama, karena rakyat wilayah Punjab ingin melihat dari dekat wajah Tamu Agung dari Indonesia.

Keduanya karena daerah ini merupakan pusat berkembangnya agama Islam di Pakistan, serta menyimpan banyak sekali peninggalan2 sejarah yang menggambarkan betapa tingginya kebudayaan Islam.

Lahore dibangun pada abad ke-8. Mengalami kejayaannya pada abad ke-11 pada zaman pemerintahan dinasti Moghal, terutama pada saat pemerintahan raja Akbar Agung.

Monumen2 yang membuktikan kejayaan pemerintahan pada waktu itu yang saat ini masih berdiri tegak, antara lain Benteng Lahore, Kebun Raya Shalamar, Kebun Raya Moghal dan lain2. Benteng Lahore, Kebun Raya Shalamar, Kebun Raya Moghal dan lain2.

Untuk menuju Lahore dari Ibu kota negara dapat ditempuh dengan jalan darat ataupun jalan udara. Jarak Lahore-Islamabad 295 Km.

Khusus untuk menyambut Tamu Agung dari Indonesia ini, pemerintah Pakistan mengerahkan armada anggkutannya untuk mengangkut para korps diplomatik, para pejabat, para staf Kedutaan Besar Indonesia di Islamabad agar dapat turut serta menyambut tamu agung di Lahore, Benar2 suatu sambutan yang meriah.

Sambutan Resmi

Upacara penyambutan resmi bagi tamu agung dari Indonesia diselenggarakan di Kebon Raya Moghal dengan suatu pesta rakyat. Kursi diatur berkelompok lima-lima dan di depannya diletakkan sebuah meja lengkap dengan cangkir dan tempat kue.

Tempat kue bersusun tiga, berisi berbagai kue2 khas Pakistan dan di tutup dengan kain tipis agar lalat tidak menyentuh kue2 tersebut.

Para pejabat wilayah Punjab yang mewakili seluruh rakyat Punjab hadir dalam upacara di Kebun Raya Moghal tersebut. Suasana pada waktu itu sangat meriah, apalagi ditambah udara Lahore yang sangat sejuk.

Upacara penyambutan berjalan kira21 jam, diawali dengan pembacaan ayat2 suci AI Qur’an. Kemudian Walikota Lahore menyampaikan kata2 selamat datang. Naskah pidatonya digulung dan dimasukkan dalam sebuah tabung perak yang kemudian diserahkan kepada Presiden Soeharto. Disusul kemudian penyerahan kunci kota.

Dalam sambutan balasannya, Presiden Soeharto mengatakan bahwa sesungguhnya semua orang Muslim itu adalah bersaudara dan kunjungannya ke Pakistan ini adalah untuk lebih mempererat tali persaudaraan dan mengikat tali persahabatan antara kedua bangsa, yaitu bangsa Indonesia dan bangsa Pakistan.

Pada kesempatan itu Presiden Soeharto menghadiahkan sebuah gong ukuran besar lengkap dengan tiang penggantungnya kepada Wali kota Lahore.

Acara dilanjutkan dengan minum bersama. Sore itu Presiden Soeharto mengenakan setelan jas biru tua lengkap dengan pici, sedangkan Presiden Zia-hul-Haq mengenakan jas panjang batas lutut warna hitam tanpa pici. Ibu Tien memakai kain batik tradisional dasar hitam, kebaya dasar krem dengan bunga2 merah dan hijau tua dilengkapi selendang hijau tua dan Begum Zia-ul Haq memakai celana panjang dan blous panjang batas lutut serta tutup kepala warna biru muda, memakai shawi (selendang penghangat) warna putih. Wajah tuan rumah maupun tamunya semua nampak cerah.

Acara penyambutan resmi ini berakhir jam 17.00 waktu setempat atau jam 19.00 WIB. Meskipun baru jam 17.00 WIB tetapi udara telah nampak agak gelap ditambah rasa dingin yang menusuk tulang.

Menurut Dinas Meteorologi, pada musim winter ini (Oktober-Februari) udara pada siang hari maksimum 25 derajat C dan pada malam hari bisa sampai 5 derajat C.

State Banquet

Malam harinya diselenggarakan Jamuan Makan Malam Kenegaraan oleh Presiden Pakistan di Benteng Lahore. Benteng Lahore ini merupakan salah satu bangunan raksasa yang mengagumkan, dibangun dalam tiga tahap, pada zaman pemerintahan dinasti Moghal.

Pertama, oleh raja Akbar, kemudian dilanjutkan oleh putranya yaitu Jehangir dan setelah Jehangir wafat, pembangunan Benteng Lahore ini diteruskan oleh putranya Shah Jehan.

Dalam benteng initerdapat paviliun yang dibangun sangat lndah. Dinding bagian atas cendela2 serta pintu2nya terbuat dari kaca beraneka ragam warna-warni, sangat indah apalagi kena sorot lampu bergemelapan.

Pada sekitar tahun 1707 pamor Benteng Lahore ini agak suram karena tidak dipelihara sebagaimana mestinya. Baru pada sekitar tahun 1927 pemerintah dalam hal ini, Departemen Archeologi, mulai mengadakan pemeliharaan dan perbaikan2 bahkan menambah dengan sebuah museum yang menyimpan senjata2 dan peralatan perang serta pakaian uniform yang dipakai orang pada abad ke 18 dan 19.

Acara makan malam kenegaraan di Benteng Lahore dimulai dengan makanan ringan dibuat dari udang namanya srimp coctail with calypso sauce dan almond cream soup.

Presiden Ziaul Haq kemudian memberikan kata sambutannya yang antara lain menyatakan kegembiraannya dankegembiraan seluruh rakyat Pakistan atas kunjungan Presiden Soeharto, lbu Tien Soeharto para Menteri serta seluruh rombongan dari Indonesia.

Seluruh rakyat pakistan mengharapkan agar Ikatan persaudaraan yang telah ada antara rakyat Indonesia dan rakyat Pakistan dapat lebih dipererat lagi dengan adanya kunjungan Presiden Soeharto ke Pakistan.

Selesai sambutan Presiden Zia-ul Haq seluruh hadirin diminta untuk berdiri mengangkat gelas mengadakan toast, minum bersama. Dalam toast ini sama sekali tidak disediakan minuman yang mengandung alkohol, dan sebagai gantinya ialah juice delima. Rasanya manis-manis sepet.

Selesai toast dilanjutkan dengan menikmati hidangan lagi. Kali ini berupa masakan dari ikan namanya. fillet of pomfret with duglere sauce salad Selesai ini kemudian Presiden Soeharto dipersilahkan memberikan sambutan balasannya.

Dinyatakan oleh Presiden Soeharto, bahwa beliau beserta istri serta seluruh rombongan merasa berkesan akan sambutan yang sangat hangat dari seluruh rakyat Pakistan.

Dinyatakan selanjutnya oleh Presiden Soeharto bahwa saat ini Indonesia sedang meletakkan dasar bagi pembangunan sebuah masyarakat yang dicita-citakan, berdasarkan atas pandangan hidup dan falsafah negara, yaitu Pancasila.

Kemudian oleh Presiden Soeharto, diuraikan satu-persatu dengan gamblang lima sila dari Pancasila. Sebagai pandangan hidup, Pancasila benar2 dapat membimbing Indonesia dalam mengerjakan dan memecahkan semua persoalan baik persoalan dalam negeri maupun persoalan2 dunia.

Berdasarkan Pancasila kami meningkatkan sikap persaudaraan dan toleransi ke dalam dan keluar. Ke dalam kami telah membulatkan tekad untuk tetap menjadi satu bangsa. Kami akan melanjutkan perjuangan kami untuk mencapai masyarakat yang kami cita2kan, yaitu masyarakat adil dan makmur.

Ke luar, kami akan tetap mengusahakan adanya perdamaian dengan seluruh bangsa di dunia, tanpa mengindahkan ideologi, politik maupun susunan sisoalnya dan berdasarkan adanya rasa saling menghormati dan keijasama yang baik, kata Presiden Soeharto.

Selesai pidato, Presiden mengajak seluruh hadirin untuk mengadakan toast demi kebahagiaan bangsa Indonesia dan bangsa Pakistan.

Santap malam dilanjutkan dengan hidangan mutton Biryami, chicken white qurma, spinach mutton qurma, seekh kabab curd dan raghmni nian. Terus terang saja lidah Jawa saya belum bisa menikmati hidangan yang lezat ala Pakistan ini. Hidangan penutup berupa kue dengan kuah sangat manis, gajer halwa ras malei, namanya setelah itu dihidangkan minuman teh.

Selama santap malam berlangsung para hadirin dihibur dengan lagu2 Pakistan yang dibawakan oleh serombongan tim kesenian yang duduk di bawah (lantai) di tengah2 hadirin lainnya. (DTS)

Jakarta, Berita Buana

Sumber: BERITA BUANA (12/12/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 725-729.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.