PERUSAHAAN NASIONAL HARUS KUASAI PASAR DALAM NEGERI

PERUSAHAAN NASIONAL HARUS KUASAI PASAR DALAM NEGERI[1]

 

Batam, Antara

Menristek/Ketua BPPT. B.J. Habibie menegaskan, tak ada gunanya produk buatan Indonesia dipasarkan ke luar negeri, jika pasar di dalam negeri dikuasai produk serupa keluaran manca negara.

“Tidak wajar jika pasar dalam negeri dikuasai produk luar negeri padahal Indo­ nesia sendiri memproduksi barang sejenis,”kata Menristek pada acara ekspor produk PT. Pipa Mas Putih (PMP) ke Bangladesh di Batam Jumat siang.

Hadir pada acara tersebut antara lain Pangab Jenderal TNI Faisal Tanjung, Menpera Akbar Tanjung, Menkes Sujudi,Menteri Negara Penggerak Dana lnvestasi/ Ketua BKPM Sanjoto Sostrowardojo, Dubes RI untuk Singapura Soedibyo Rahardjo, dan beberapa dubes negara sahabat. Untuk itu, katanya, Pemerintah akan memperhatikan keluhan-keluhan para pengusaha Indonesia tentang hal tersebut. Pada bagian lain, Habibie menilai PT. PMP berhasil merebut teknologi pembuatan pipa dan menjualnya dengan harga kompetitif di pasar internasional. Dikatakannya, teknologi harus direbut dan dikuasai Indonesia .”Kita tidak dapat mengandalkan adanya alih teknologi,” ujar Menristek yangjuga ketua Otorita Batam. Habibie menilai apa yang dilakukan perusahaan ini merupakan suatu perjuangan yang patut dicontoh karena berhasil memproduksi pipa berkualitas tinggi dan diakui lembaga perminyakan Amerika Serikat (API) dan produk ini juga memperoleh sertfikat  ISO  9002.

Sementara itu Direktur Utama PT. PMP Sopar Pandjaitan mengatakan pemasaran produknya di dalam negeri mendapat saingan pihak luar yang melakukan relokasi ke Indonesia. Perusahaan asing itu berupaya menjatuhkan perusahaan nasional yang memproduksi pipa.”Mereka tampak sengaja menjatuhkan harga pipa yang dikuasai perusahaan  dalam negeri,”ujarnya.

Ingin Kuasai Kembali

Mereka (Perusahaan asing-red) pada akhirnya ingin menguasai kernbali pasar pipa di dalam negeri “Kebutuhan pipa di dalam negeri dapat dipasok perusahaan nasional yang memproduksi pipa berkualitas tinggi,”kata Sopar Pandjaitan.

Hal initerbukti perusahaan nasional PT.PMP yang mendapat bantuan dana dari Bank Dunia, memenangkan tender internasional dalam pengadaan pipa di Bangladesh. Perusahaan ini mampu menepati jadwal pengiriman barang, bahkan sebulan lebih awal dari kontrak, “katanya .

Ekspor produk PT. PMP ke Bangladesh senilai 600.000 dolar AS. Perusahaan ini pula sejak mengekspor produknya ke Serawak, Brunei Darussalam, Uni Emirat Arab, Australia dan India. PMP menanamkan modalnya di sektor non-migas bernilai 10 juta dolar berasal dari kredit BDN serta mempekeijakan sekitar 200 orang. Menristek Habibie dan para menteri berada di Batam dalam rangkaian kunjungan kerja Presiden Soeharto ke pulau ini guna meresmikan pengoperasian pabrik fatty alkohol di kawasan Kabil Sabtu (19/2).

Habibie selama di Batam, juga meresmikan pembentukan Yayasan Ibrahim Adjie. Yayasan sosial ini mengambil nama Ibrahim Adjie, mantan Pangdam Siliwangi, yang merupakan pionir pembangunan jalan raya di Pulau Batam. Pada kesempatan itu, yayasan IbrahimAdjie memberikan sumbangan sosial pada Yayasan Rumah Sakit Budi Kemuliaan pimpinan Ny. Sri Soedarsono senilai Rp 80 juta untuk pengadaan peralatan rumah sakit. (U.Btm-001/EU09/18/02/94 21:23/RB2)

Sumber:ANTARA(lS/02/1994)

______________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVI (1994), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 213-215.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.