PERUNDINGAN BARRICK-BRE X TERANCAM GAGAL

PERUNDINGAN BARRICK-BRE X TERANCAM GAGAL[1]

 

Jakarta, Antara

Perundingan antara dua perusahaan tambang Kanada, Barrick Gold Corp dan Bre-X Mineral Ltd untuk memenangkan persaingan hak pengelolaan ladang emas Busang di Kalimantan Timur terancam gagal karena pihak Barrick bertahan pada proposal semula.

Sumber ANTARA yang mengikuti perundingan tersebut di Jakarta, Minggu, menyebutkan ada dua masalah utama yang mengganjal kesepakatan di antara dua perusahaan tersebut.

Pertama berkaitan dengan peranan porsi saham nasional dan nilai tawaran akuisisi Barrick atas Bre-X yang dinilai amat rendah.

Menteri Pertambangan dan Energi IB Sudjana usai bertemu Presiden Soeharto, Jumat (14/2), menegaskan bahwa pemerintah Indonesia menentukan batas waktu (deadline) bagi penyelesaian perundingan tersebut hingga Senin (17/2). Jika sampai batas waktu tersebut mereka tidak mencapai kesepakatan maka terbuka untuk tender ulang, kata IB Sudjana. Batas waktu ini merupakan yang kedua kalinya setelah batas waktu pertama Desember 1996 terlewati tanpa ada kesepakatan.

Menurut sumber ini, Barrick tetap bertahan pada keinginannya mengenai pembagian saham bagi pemerintah Indonesia sebagaimana tertuang dalam proposal nya.

Dalam proposal itu Barrick ingin pihaknya mendapat 67,5 persen saham proyek Busang II dan III, yang ditaksir mempu nyai deposit emas 57 juta ounce (satu ounce=33 gram). Sementara 32,5 persen sisanya dibagi kepada Bre-X sebesar 22,5 persen dan 10 persen untuk pemerintah Indonesia.

Bre-X mendapat porsi saham karena keberhasilan dalam eksplorasinya di Busang, sedangkan Barrick mendapat porsi saham tertinggi karena perusahaan tambang terbesar ketiga di dunia ini sanggup menyediakan seluruh kebutuhan investasinya yang mencapai 1,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 3,4 triliun).

Namun komposisi saham versi Barrick ini nampaknya ditolak oleh Bre-X, karena perusahaan ini ingin jatah sahamnya lebih besar lagi.

Selain itu, berbagai kalangan di Indonesia mendesak agar Barrick memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada pihak nasional untuk berpartisipasi dalam pengelolaan emas Busang.

Aspek lain yang juga belum disetujui oleh Bre-X adalah menyangkut nilai tawaran yang akan diterima jika Barrick melakukan akuisisi atas Bre-X.

Sumber ini menyebutkan nilai tawaran Barrick untuk mengakuisisi (ambil alih seluruh saham) Bre-X hanya separo dari nilai tawaran serupa dari pesaing Barrick, yakni Placer Dome.

Placer Dome yang juga berkantor pusat di Toronto, Kanada, menawarkan nilai akuisisi atas Bre-X sebesar lima miliar dolar AS (sekitar Rp 11,5 triliun).

Selain itu Placer Dome juga menawarkan kesempatan kepada pihak nasional Indonesia untuk menguasai 40 persen sahain Busang apabila perusahaan ini mendapat hak mengelola proyek Busang.

Skenario Baru

Di tengah perundingan yang alot tersebut, menurut sumber tersebut, muncul satu skenario baru dalam penawaran proyek Busang dengan mengikutsertakan perusahaan tambang Freeport Mc Moran Inc. yang berkantor pusat di New Orleans, Amerika Serikat.

Menurut skenario baru itu, Bre-X dikabarkan akan menguasai mayoritas saham Busang sebesar 45 persen, pihak Indonesia (nasional) 40 persen, sementara Freeport akan mendapat porsi kepemilikan 15 persen.

Hanya saja dalam skenario saham nasional itu tidak tercantum kemungkinan keikutsertaan badan usaha milik negara (BUMN) dalam proyek Busang.

Padahal dua BUMN di bawah Departemen Pertambangan dan Energi, PT Timah dan PT Aneka Tambang, telah mengajukan surat kepada Mentamben IB Sudjana untuk ikut dalam proyek Busang.

Mentamben sendiri telah menyetujui keikutsertaan kedua BUMN itu asalkan mendapat persetujuan dari pemegang saham BUMN, yaitu Menteri Keuangan.

Dari 40 persen saham nasional versi baru ini akan diserahkan masing-masing kepada pemerintah Indonesia (10 persen), PT Askatindo sebagai pemegang Kuasa Pertambangan Busang II dan III (10 persen), dan sisanya 20 persen terbuka bagi masyarakat.

Hanya saja, PT Askatindo mendapat hak opsi untuk menentukan siapa calon pemegang sisa 20 persen saham Busang tersebut, katanya. PT Askatindo merupakan swasta nasional yang sahamnya dipegang oleh Mohamad Bob Hasan dan H. Syahkareni.

Sumber : ANTARA (16/02/1997)

_____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 248-250.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.