Perundingan Amir Kuwait – Presiden Soeharto KUWAIT NYATAKAN MINAT MEMBANGUN KILANG MINYAK DI BATAM

Perundingan Amir Kuwait – Presiden Soeharto

KUWAIT NYATAKAN MINAT MEMBANGUN KILANG MINYAK DI BATAM

Hari Ini, Dikeluarkan Pernyataan Bersama

Dalam pembicaraan empat mata dengan Presiden Soeharto, Minggu kemarin, di ruang "Jepara" Istana Merdeka, Amir Kuwait, Sheikh Jaber Al-Ahmad Al-Sabah menegaskan negaranya masih tetap berminat untuk melaksanakan pembangunan kilang minyak (refinery) di Pulau Batam.

Kepala Negara Kuwait itu menanyakan bagaimana melanjutkan rancangan pembangunan kilang minyak tersebut, meskipun kondisinya sudah berlainan dengan dahulu.

"Menteri Sekretaris Negara Soedharmono mengatakan hal tersebut, selesai pembicaraan Presiden Soeharto dengan Amir Kuwait yang berlangsung dua jam lebih. Penegasan untuk melaksanakan proyek kilang-minyak di Pulau Batam ini, katanya, datang dari Amir Kuwait sendiri, bukan timbul akibat permintaan dari pihak Indonesia. ‘Tetapi tentu ada kondisi-kondisi yang perlu dibicarakan lebih Ianjut," ujar Menteri.

Sementara itu sumber "Kompas" menerangkan bahwa di Kuala Lumpur nanti, Sheikh Jaber Al-Ahmad Al-Sabah juga akan membicarakan masalah ini dengan PM Hussein On.

Indonesia sendiri sudah menerima informasi, bahwa Malaysia bersedia untuk membicarakan kembali masalah pembangunan kilang-minyak di Pulau Batam ini yang telah tertunda pelaksanaannya.

Proyek kilang-minyak Pulau Batam ini nantinya jadi milik bersama antara Kuwait, Indonesia dan Malaysia. Karena berbentuk perusahaan-patungan, dengan equity yang sama.

Di samping itu, Kuwait akan menyediakan kredit, karena proyek ini pada tahun 1978 lalu diperkirakan menelan biaya 1 (satu) milyar dollar AS. Sedang minyak mentah yang akan diolah berasal dari Kuwait, Indonesia dan Malaysia.

"Apakah ini bisa atau tidak untuk dilaksanakan, masih memerlukan pembicaraan yang panjang, walaupun Kuwait menginginkan masalah ini dimasukkan dalam pernyataan bersama yang akan dikeluarkan pada akhir kunjungan Amir," kata sumber tersebut.

Ditandatangani 1978

Rencana pembangunan kilang-minyak di Pulau Batam ini dikemukakan pada tahun 1977, ketika Team Pemerintah Kuwait berkunjung ke Indonesia. Kerjasama Kuwait dan Indonesia untuk proyek tersebut ditandatangani bulan April 1978, antara Team Pertamina danTeam Kuwait. Sebagai partnernya, Kuwait menunjuk perusahaan minyak Malaysia, Petronas.

Pada bulan itu juga pejabat-pejabat Kuwait, Indonesia dan Malaysia mengadakan pertemuan di Kuala Lumpur untuk membahas kerjasama pembangunan kilang-minyak di Pulau Batam ini.

Ketika itu diperoleh keterangan, Indonesia, menghendaki kilang­minyak yang akan dibangun itu berkapasitas 100.000 ton per hari. Dari Kuala Lumpur diberitakan proyek ini memerlukan investasi sekitar satu milyar dollar AS.

Sampai Maret 1979, ketika Menteri Negara urusan Kabinet Kuwait Abdul Aziz Hussein berkunjung ke Indonesia, negara Teluk Parsi tersebut belum juga memberikan keputusan jadi tidaknya dilaksanakan rencana pembangunan kilang-minyak ini. Rencana itu baru muncul kembali, dengan kunjungan Kepala Negara Kuwait sekarang ini.

Yang menjadi persoalan ketika itu adalah, sebagian besar minyak mentah yang akan diolah berasal dari Kuwait sendiri, sedang pemasarannya di negara-negara kawasan ini.

Indonesia menganggap masalah pemasaran ini tidak menjadi persoalan, tetapi Kuwait merasa kurang yakin. Selain itu Kuwait meragukan apakah pembangunan kilang-minyak di suatu negara berkembang, akan mendatangkan keuntungan ataukah tidak. Berbeda dengan pembangunan kilang-minyak di Kuwait sendiri yang tiap tahun mendatangkan keuntungan sekitar tiga juta dollar AS.

Selain itu, Indonesia mengusulkan agar minyak mentah yang diolah, terutama untuk kebutuhan di dalam negeri Indonesia sendiri, seperti pengolahan LSWR. Sekarang Indonesia sudah mempunyai kilang-minyak atau Hydrocracker di Dumai bahan­bakunya LSWR.

Usulkan Proyek

Menurut Sudharmono, pembicaraan antara Presiden Soeharto dan Sheikh Jaber Al-Ahmad Al-Sabah berlangsung dalam suasana bersahabat dan terbuka. Sementara itu di ruang lain berlangsung pula pembicara antara delegasi Indonesia dan delegasi Kuwait.

Dari pihak Indonesia antara-lain hadir Menlu a.i. M. Panggabean, Menku Ali Wardhana, Menteri Perindustrian A.R. Soehoed, Menteri Perdagangan dan Koperasi Radius Prawiro, Wakil Ketua Bappenas J.B. Sumarlin, dan Menteri Agama H. Alamsyah.

Sedang dari pihak Kuwait hadir Wakil PM/Menlu Sheikh Sabah Al­Ahmad Al-Jaber, Menkeu Abdulrahman Al-Atiqi, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Abdulwahab AI Hamad, Dirjen Dana Pembangunan Ekonomi Kuwait Abdullatif Al-Hamad serta Menteri Wakaf dan urusan Agama Yousif Al-Haji.

Dalam pembicaraan tersebut, kata Soedharmono, Indonesia mengusulkan beberapa proyek kepada Kuwait, yang bisa dibiayai oleh "Kuwait Fund for Economic Development" berupa bantuan dengan syarat lunak. Selain itu diusulkan pula proyek-proyek penanaman modal berdasarkan joint-venture". Proyek-proyek yang diusulkan itu antara-lain proyek peningkatan jalan Jakarta-Cikampek dan proyek transmisi-listrik Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tanggerang-Bekasi).

Menteri menerangkan, dari pembicaraan tersebut, kelihatan bahwa Kuwait menyanggupinya, tetapi tidak keseluruhan pembiayaan. Kuwait bersedia sebagai penyedia biaya bersama, setelah proyek-proyek tersebut mendapatkan biaya dari badan-badan internasional lainnya, kata Soedharmono.

Apakah kesanggupan Kuwait tersebut lebih besar dari bantuan yang sudah pernah diberikan, Soedharmono menjawab: "Mudah-mudahan demikian." Kuwait sudah memberikan bantuan 38 juta dollar AS untuk proyek transmisi listrik di Jawa Barat dan proyek jalan Medan-Belawan-Tanjung Morawa.

Kuwait adalah suatu negara Ke-amiran di Teluk, Parsi yang luasnya 17.818 km persegi dengan penduduk hanya sekitar 1,2 juta orang. GNP negara petro dolar ini sekitar 12.000 dollar per kapita tiap tahun (bukan 22.000 dollar seperti yang disebutkan dalam Kompas hari Minggu kemarin- red).

Masalah yang dihadapi negara ini adalah bagaimana dan dimana untuk menginvestasikan uang yang berlimpah tersebut.

Masalah Politik

Menurut Soedharmono, mengenai masalah politik yang dibicarakan Presiden Soeharto dan Amir Kuwait, antara-lain adalah masalah intervensi Uni Soviet di Afghanistan.

Dalam hal ini, bagaimana menyatukan pandangan antara negara-negara berkembang sebagai anggota Non-Blok terhadap situasi Afghanistan, yang juga termasuk anggota Gerakan Non-Blok.

Selain itu juga dibicarakan, masalah Kamboja, dimana Kuwait mendukung sikap ASEAN terhadap masalah ini, di samping dukungan serupa terhadap kerja-sama regional ASEAN.

Terhadap masalah Timor-Timur, Kuwait memberikan pengertian yang positif, walupun belum menentukan sikap, karena masih melihat-lihat keadaan, kata Soedharmono.

"Hasil pembicaraan tersebut akan dituangkan dalam pernyataan bersama," kata Soedharmono.

Selesai pembicaraan, para anggota delegasi Indonesia dan Kuwait mengadakan ”working luncheon” di Wisma Negara. Sore kemarin Amir Kuwait menerima kunjungan Gubernur DKI Tjokropranolo. Kemudian kunjungan Wakil Presiden Adam Malik yang dilanjutkan dengan sembahyang Magrib bersama di Masjid Baturrahim di dalam kompleks Istana.

Senin pagi ini, rombongan tamu dari Kuwait akan mengunjungi Taman Mini

Indonesia Indah. Sekitar jam 14.00 WIB, rombongan Sheikh Jaber Al-Ahmad Al-Sabah meninggalkan Indonesia, melanjutkan lawatan ke Kuala Lumpur. (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (19/09/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 810-813.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.